Raih Dana Segar Rp101,75 Miliar, Saraswati Rampungkan Pembangunan Hotel

NERACA

Jakarta- PT Saraswati Griya Lestari Tbk Perseroan menawarkan 550 juta saham ke publik dengan harga Rp185 per saham dalam pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dari hasil IPO tersebut, perseroan ditaksir memperoleh dana sebesar Rp101,75 miliar. Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung proyek pembangunan hotel dan melakukan ekspansi.

Sekretaris Perusahaan PT Saraswati Griya Lestari Tbk Darmawan Kusnadi mengatakan, pihaknya akan menggunakan sebesar 18% dari hasil penawaran saham umum perdana untuk pembangunan hotel. “Saat ini sedang diselesaikan pembangunan hotel yang berlokasi di Ubud dan Seminyak, Bali, dengan kapasitas kamar masing-masing 109 kamar dan 54 kamar.” jelasnya di Jakarta, Kamis (10/1).

Proyek pembangunan hetel di kedua tempat tersebut, menurut dia akan beroperasi pada pertengahan 2013. Saat ini, perseroan memiliki tiga hotel yakni Hotel Saraswati Borobudur, Hotel Best Western Kuta Beach dan Hotel Anantara Bali Uluwatu.

Selain untuk penyelesaian proyek pembangunan hotel tersebut, lanjut dia, perseroan juga akan menggunakan 40% untuk ekspansi usaha, 3% untuk pembiayaan modal kerja. Sementara sebesar 39% untuk menurunkan pinjaman bank jangka panjang. “Kami memiliki pinjaman ke Bank CIMB Niaga sekitar Rp300 miliar-Rp400 miliar. Namun, kami akan melunasi sekitar 39% segera mungkin,” jelasnya.

Untuk mendukung kinerja perseroan, pihaknya menganggarkan dana belanja modal sekitar Rp125 miliar-Rp180 miliar untuk pembangunan hotel. Selain untuk pembangunan hotel, pihaknya juga akan menggunakan anggaran tersebut untuk melakukan akuisisi.

Prospek Saham Properti

Managing Director PT Valbury Securities Johanes Soetikno mengatakan, pertumbuhan sektor properti akan mendukung kinerja saham HOTL ke depan. Pasalnya, sektor tersebut saat ini menjadi incaran investor. “Tidak hanya properti di sektor riil, investor asing juga berminat terhadap saham-saham properti di Indonesia. Itu juga akan memberikan sentimen positif untuk pergerakan harga saham HOTL,” jelasnya.

Dia menilai, besarnya animo asing khususnya institusi terhadap sektor properti, induk usaha Valbury Capital Limited yang tercatat di bursa saham London turut mendukung penawaran perdana saham HOTL. Minat yang ditunjukkan dari investor institusi asing tersebut diperkirakan mencapai hingga 98% sedangkan porsi pooling hanya 2%.

Ketika ditanya mengenai kecilnya jumlah perdana saham yang ditawarkan, Johanes mengatakan, hal itu tergantung manajemen emiten. “Itu tergantung emiten karena menurut mereka telah memiliki dana besar,” ujarnya.

Dalam penawaran saham umum perdananya, perseroan juga menawarkan waran sebanyak 270 juta waran, dengan harga Rp220. Jumlah peminat saat melakukan penawaran perdana saham mencapai 1.149 pihak. Diakui Johanes, dalam penawaran perdana saham HOTL mengalami kelebihan permintaan mencapai 832 kali, hal itu karena jumlah penawaran perdana saham yang relatif kecil.

Dalam pelaksanaan IPO, pergerakan saham HOTL tercatat sempat ke level terendah Rp195 dan tertinggi Rp240 per saham. Saham ini sempat ditransaksikan sebanyak 315 kali dengan volume perdagangan 18 ribu Lot senilai Rp2 miliar. Saham HOTL terakhir ditransaksikan di level Rp220 per saham, dengan volume perdagangan 27 ribu Lot dan transaksi Rp3 miliar.

Meski penawaran perdana saham HOTL naik, perseroan masih mencatatkan kerugian mencapai Rp15,39 miliar hingga Juni 2012. Perseroan mencatatkan pendapatan sekitar Rp15,37 miliar hingga 30 Juni 2012 dari posisi 31 Desember 2011 sebesar Rp12,53 miliar. Kewajiban perseroan mencapai Rp577,45 miliar hingga 30 Juni 2012 dari periode sama pada tahun sebelumnya Rp463,88 miliar.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Hoesen mengatakan, meski tercatatkan masih mengalami kerugian, perseroan menunjukkan performa perseroan untuk melakukan pengembangan usaha. Dengan demikian, hal tersebut diharapkan dapat mendukung kinerja perseroan ke depan.

Asal tahu saja, pertumbuhan yang terjadi di sektor properti dapat mendongkrak kinerja saham saham Saraswati bukan tanpa alasan. Hal tersebut didasarkan pada kinerja emiten lainnya yang mampu eksis dengan meningkatnya permintaaan di sektor tersebut, baik untuk hunian, hotel, maupun perkantoran.

Seperti yang dicatatkan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN). Saat ini perseroan terus melanjutkan ekspansi sehingga mampu mendorong pertumbuhan kinerjanya dalam jangka panjang.

Dalam pengembangan usaha yang ditopang akuisisi yang terus dilakukan terhadap beberapa proyek, pihak manajemen menaikkan target penjualan marketingnya pada tahun lalu menjadi Rp5 triliun dari sebelumnya senilai Rp4,3 triliun. Penjualan marketing selama periode ini mayoritas dikontribusikan oleh Green Bay Pluit dan Podomoro City, termasuk Podomoro City Extension.

Tercatat hingga sembilan bulan pertama 2012, APLN ini berhasil membukukan penjualan marketing sebesar Rp4,2 triliun, atau tumbuh 28% dibandingkan periode yang sama 2011 sebesar Rp3,3 triliun. Sementara hingga kuartal kuartal ketiga 2012, perseroan berhasil meraup laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp682,7 miliar atau meningkat 52,1% dibanding periode yang sama 2011 sebesar Rp448,8 miliar. Peningkatan laba ini ditopang raihan pendapatan usaha yang mengalami peningkatan 31,6% menjadi Rp3,51 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,67 triliun. (lia)

BERITA TERKAIT

Elnusa Raih Kontrak Baru Seismik Rp 1 Triliun

NERACA Jakarta – Di tengah fluktuasinya harga minyak dunia, hal tersebut tidak membuat bisnis pengeboran PT Elnusa Tbk (ELSA) ikut…

Wakil Ketua DPR - Dana Saksi Dibiayai Negara Hindari Persaingan Tidak Sehat

Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR Dana Saksi Dibiayai Negara Hindari Persaingan Tidak Sehat  Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah…

Mendes Minta Dana Desa Dialokasikan untuk Bencana

      NERACA   Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo meminta…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Verena Multifinance Patok Rights Issue Rp140

PT Verena Multifinance Tbk (VRNA) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right…

Mandiri Kaji Terbitkan Obligasi US$ 1 Miliar

Perkuat modal guna memacu pertumbuhan penyaluran kredit, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berencana menerbitkan instrumen utang senilai US$ 1 miliar.…

Realisasi Kontrak Baru PTPP Capai 66,22%

NERACA Jakarta - Sampai dengan September 2018, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berhasil mengantongi total kontrak baru sebesar Rp32,45 triliun.…