Perpanjangan Forced Sell Bakal Dongkrak Transaksi Margin

NERACA

Jakarta –PT Bursa Efek Indonesia menilai pengetatan aturan penjualan efek secara paksa (forced sell) berpotensi meningkatkan transaksi marjin dan memberikan keuntungan kepada pelaku pasar.

Direktur BEI bidang Perdagangan dan Keanggotaan Anggota Bursa, Samsul Hidayat mengatakan, ada potensi positif meningkatkan transaksi marjin dibalik perpanjangan jangka waktu forced sell menjadi hari keenam dari hari keempat posisi saldo negatif nasabah, “Implementasi forced sell hari keenam kemungkinan akan memicu kenaikan transaksi marjin,”katanya di Jakarta, Kamis (10/1).

Meski begitu, transaksi marjin tersebut tergantung kondisi pasar saham. Sementara Direktur Utama BEI Ito Warsito menuturkan, pelaksanaan forced sell menjadi hari keenam akan memiliki konsekuensi kalau permodalan perusahaan efek harus lebih kuat dibandingkan sebelum aturan tersebut diimplementasikan. Forced sell dinilai juga memberikan keuntungan kepada investor.

Asal tahu saja, berdasarkan surat edaran SE-16/BL/2012, tentang Penjelasan Peraturan Bapepam-LK Nomor V.D.3. Tentang Pengendalian Internal Perusahaan Efek Yang Melakukan Kegiatan Usaha Sebagai Perantara Pedagang Efek, pada pasal 4 (b), mengatakan paling lambat pada akhir hari Bursa kelima sejak transaksi bursa dilakukan, atau satu hari setelah tanggal penyelesaian yang disepakati untuk transaksi di luar Bursa, perusahaan efek wajib menginformasikan kepada nasabah mengenai posisi saldo dana negatif pada rekening efek reguler dan meminta nasabah untuk menutup posisi saldo negatif dimaksud.

Pada 4 (c), jika pada hari keenam nasabah belum memenuhi kewajibannya, maka perusahaan efek dapat menutup posisi saldo laba negatif tersebut. Kata Ito, pihaknya tidak mengharapkan ada satu pun nasabah terkena forced sell.

Hal itu dapat terjadi karena saham yang dibeli investor melalui transaksi marjin dan mengalami penurunan, investor yang bersangkutan tidak dapat melakukan penambahan dana, “Sedangkan dalam aturan margin trading (peraturan Bapepam-LK No. V.D.6.), ada rasio yang harus dipenuhi nasabah dengan perusahaan efek. Maka, jika harga sahamnya turun, otomatis investor harus melakukan top up atau akan terkena forced sell,"ujarnya.

Lebih lanjut Ito mengatakan, adanya surat edaran yang menambah jangka waktu pelaksanaan forced sell itu juga memberikan kepastian hukum bagi perusahaan efek untuk memberikan forced sell. Bagi anggota bursa yang memberikan jangka waktu lebih dari yang telah ditetapkan, maka BEI dan OJK dapat menindak anggota bursa yang bersangkutan. (bani)

BERITA TERKAIT

Tarif Tol Trans Jawa Bakal Turun - Mempertimbangkan Kontrak dan Investasi

      NERACA   Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan penurunan tarif tol…

Tingkatkan Pangsa Pasar - Kimia Farma Bakal Akuisisi Phapros

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membeli 47.901.860 lembar atau 56,77 dari total saham…

Sektor Riil - Pemerintah Dongkrak Produktivitas Industri Tekstil dan Pakaian

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang melakukan identifikasi terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang akan meningkatkan kapasitas produksinya baik…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Adira Finance Terkoreksi 28,81%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatatkan laba bersih Rp1,815 triliun atau turun 28,81% dibanding periode…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

MNC Sekuritas Kantungi Mandat Tiga IPO

Keyakinan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bila tahun politik tidak mempengaruhi minat perusahaan untuk go publik, dirasakan betul oleh PT…