Permintaan Mie Instan Bisa Capai 18 Miliar Bungkus

NERACA

Jakarta - Permintaan produk mi instan diprediksi terus menunjukan pertumbuhan di atas dua digit. Peningkatan pembelian mi instan yang meningkat ini didorong oleh tren konsumsi masyarakat yang mulai bergeser ke jenis makanan instan.

Asosiasi Roti, Biskuit dan Mi Instan (Arobim) memperkirakan permintaan mi instan pada tahun 2013 bisa mencapai 18 miliar bungkus. Angka ini menunjukan sinyal meningkat 10% lantaran pada tahun kemarin realisasinya hanya 16,5 miliar bungkus.

"Tahun ini, utilisasi produsen mi instan diproyeksikan mencapai 18 miliar bungkus, naik 10% dari realisasi pada 2012 sebesar 16,5 miliar bungkus. Kenaikan penjualan ditopang tren penggunaan mi instan sebagai makanan pengganti nasi," kata Ketua Umum Arobim, Sribugo Suratmo di Jakarta, Kamis (10/1).

Aktivas masyarakat yang makin padat membuat produk makanan instan, seperti mi instan jadi sasaran untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi. Imbasnya, kata dia, langsung mendorong ke penjualan produk mi instan secara konsisten. Potensi peningkatan permintaan mi instan ke depan juga tergolong besar. Untungnya, produk mi instan domestik bisa mengisi pertumbuhan permintaan mi instan. Pasalnya rata-rata utilisasi pabrik mi instan di Indonesia masih di bawah 80%. "Sehingga masih berpeluang untuk menggenjot produksi bila permintaan terus meningkat," katanya.

Meskipun Indonesia saat ini sebagai pasar mi instan terbesar kedua di dunia dibawah China, pabrikan mi instan tidak merasa cemas terhadap serbuan mi instan impor. Menurut Sribugo, konsumen mi di Indonesia sudah familiar dan loyal dengan rasa mi buatan dalam negeri.

Komponen bahan baku berupa terigu berkontribusi sebesar 80% terhadap biaya produksi industri mi instan di Indonesia. Asosiasi menilai fluktuasi harga bahan baku terutama terigu masih dalam batas yang ditoleransi oleh produsen mi instan. Jika kenaikan biaya bahan baku telah berdampak pada peningkatan biaya produksi, maka produsen mi instan akan menaikkan harga jual sebagai langkah antisipasi terakhir untuk menjaga margin.

Sribugo mengatakan dalam hal ini produsen mi instan juga akan saling melihat strategi kompetitor sebagai patokan menaikkan harga sesuai harga pasar. "Produsen akan berhati-hati dalam menaikkan harga jual, karena berkaitan dengan kepercayaan konsumen," ujar Sribugo. Produsen juga akan memperhitungkan terlebih dahulu besaran harga jual di tingkat distributor, sebelum menaikkan harga jual, sehingga bisa diketahui harga jual kepada konsumen, khususnya di wilayah yang infrastruktur distribusinya masih buruk.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), menurut Sribugo, masih menjadi pemimpin pasar mi instan di Indonesia pada tahun ini, dengan penguasaan pasar mencapai 70%. “ICBP masih menjadi nomor 1 sebagai produsen mi instan yang mempunyai pasar yang besar. Sementara Wings Group dengan produknya Mi Sedap menjadi produsen terbesar kedua, dengan pangsa pasar sekitar 20%-25%,” tandasnya.

Bangun Pabrik di Rusia

Potensi pasar mi instan cukup besar, terlebih beberapa negara banyak yang mengkonsumsi mi instan sebagai pengganti bahan makanan lainnya. Atas dasar potensi tersebut, Indonesia berkesempatan untuk membangun pabrik mi instan di Rusia. Pemerintah Indonesia dipimpin Menko Perekonomian Hatta Rajasa melakukan Sidang Komisi Bersama dengan pemerintah Rusia. Salah satu yang dijajaki adalah pembangunan pabrik mie instant di Rusia.

Hatta Rajasa mengatakan, produksi gandum Rusia yang sangat besar sangat berpotensi untuk digarap oleh industri di Indonesia, khususnya industri mie instant ini. "Di Kazakhstan kita sudah akan membangun pabrik mie instant. Di sini (Rusia) juga begitu, tampaknya Indofood tertarik untuk membangun pabrik Indomie di sini," kata Hatta beberapa waktu lalu di Moscow.

Pembangunan pabrik mie instant di Rusia ini bakal mengurangi impor gandum Indonesia yang nilainya mencapai US$ 3 miliar per tahun. "Nanti mie instant ini akan dipasarkan di sini (Rusia)," cetus Hatta. Selain mie instant, Hatta juga mengatakan, Indonesia ingin agar industrinya bisa mempunyai pabrik berbasis gandum di negeri beruang merah ini karena potensi pasarnya sangat besar dan bisa membuat produk Indonesia mendunia.

BERITA TERKAIT

Investasikan Dana Rp 37,5 Miliar - Satyamitra Bangun Pabrik Baru di Jateng

NERACA Jakarta - Mengantongi dana hasil penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) Rp 124,5 miliar, PT Satyamitra…

Biaya Eksplorasi BSSR Capai Rp 1,06 Miliar

Emiten pertambangan, PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) melalui anak perusahaannya PT Antang Gunung Meratus telah menyelesaikan aktivitas eksplorasi pada bulan…

Bangun Pabrik Pakan Ternak - Japfa Investasikan Dana Rp 600 Miliar

NERACA Jakarta – Dalam rangka ekspansi bisnisnya, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) meresmikan pabrik pakan ternak baru yang menelan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

RI-Turki Sepakat Selesaikan Perjanjian Komprehensif Tahun Ini

NERACA Jakarta – Indonesia dan Turki sepakat menyelesaikan perjanjian komprehensif ekonomi atau Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA) tahun 2019…

Australia Diminta Buka Akses Pasar Hortikultura

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan pertemuan bilateral dengan Pemerintah Australia guna membahas isu-isu peternakan, hortikultura,…

Pasar Industri Plastik dan Karet Masih Prospektif

NERACA Jakarta – Industri plastik dan karet merupakan sektor manufaktur yang dinilai masih memiliki peluang pasar cukup besar. Produk yang…