Capital Inflow Pasar Modal Masuki Tren Negatif - Perlu Tambah Market Size

NERACA

Jakarta – Derasnya dana asing yang masuk (capital inflow) ke pasar modal diharapkan bisa jadi stimulus peningkatan likuiditas pasar modal dan juga magnet untuk mendongkrak jumlah investor lokal. Namun ditahun 2013, ini aliran dana asing diproyeksikan mengalami tren menurun meskipun pertumbuhan ekonomi positif.

Head of Equity Research PT Danareksa Sekuritas, Chandra Pasaribu mengatakan, pertumbuhan dana asing ke pasar mofdal Indonesia pada tahun ini diproyeksikan ke arah tren yang negatif. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir, dana asing yang masuk ke Indonesia sudah cukup tinggi. “Tahun ini tren pertumbuhan inflow cenderung turun,”katanya di Jakarta, Kamis (10/1).

Menurutnya, tren penurunan ini disebabkan akumulasi poin dan hal ini sangat berpengaruh terhadap portofolio holding mereka di negara lain. Meskipun demikian, secara umum minat asing terhadap Indonesia tidak berkurang, terlepas dari nilai yang ditanamkan mereka. “Inflow merupakan akumulasi, jika pada tahun 2010 atau 2011 misalnya sudah banyak, maka dia akan melihat portofolionya di negara lain seperti seperti Thailand, Singapura yang dapat memberi return lebih menarik,”ungkapnya.

Soal sentimen pelemahan rupiah, kata Chandara, secara tidak langsung akan berpengaruh kepada portofolio investment di pasar modal, karena ikut dihitung sebagai return.

Dia menegaskan, jika rupiah melemah maka hal itu dapat menggerus return dari sisi nilai tukar rupiah, sebaliknya jika rupiah menguat, tentu akan ada penambahan return, “Kalau saya masuk pada saat kondisi rupiah menguat misalnya, seharusnya ada additional return dari sisi current-nya. Tapi kalau melemah itu artinya menggerus.” jelasnya.

Likuiditas Pasar Modal

Dirinya juga menilai, di tahun ini, inflow akan sangat bergantung pada besaran likuiditas pasar yang ada dan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO). “Tahun lalu ada IPO dan right issue. Itu bisa menarik capital inflow. Mungkin inflownya naik, tapi arahnya cenderung turun,”ungkapnya.

Oleh karena itu, lanjut Chandara, perlu emiten-emiten baru dengan nilai kapitalisasi besar sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar. Menurutnya, selama ini permasalahan di pasar modal yaitu karena size atau nilai kapitalisasi pasar yang dicatatkan emiten masih terbilang kecil. “Perlu nama-nama baru dengan market cap besar dan memiliki reputasi yang cukup baik. Itu akan dapat menarik inflow. Karena asing tentu tidak mau jadi single buyer sehingga market size jadi hal yang cukup penting.” jelasnya.

Dia menambahkan, sektor-sektor yang akan menopang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tahun ini antara lain berasal dari sektor properti dan konsumer, di mana pertumbuhan ekonomi saat ini mendorong ke arah tersebut. (lia)

BERITA TERKAIT

Perlu Memadukan

Perlu Memadukan "Land Banking" Dengan Skema ABCG NERACA Semarang - Pakar perumahan Asnawi Manaf memandang perlu memadukan program "Land Banking"…

Amazon Ikut Tanam Modal Teknologi Swakemudi

Perusahaan e-commerce raksasa Amerika Serikat (AS), Amazon, mengikuti tren teknologi global di bidang mobil otonom (swakemudi) dengan menanamkan investasi 530…

Benny Tjokro Tambah Modal Armidian

Investor kawakan di pasar modal, Benny Tjokrosaputro menambah modal PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) senilai Rp99,89 miliar, melalui penyerapan 340,95…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Fajar Surya Wisesa Melesat 136,1%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,405 triliun atau naik 136,1% dibanding periode…

Lagi, Comforta Raih Top Brand Award

Di awal tahun 2019 ini, Comforta Spring Bed kembali meraih penghargaan Top Brand Award. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin,…

BPD Bank Kalsel Rencanakan IPO di 2020

Bila tidak ada aral melintang, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel rencanakan melakukan penawaran umum saham perdana…