DHE Ngendap di Dalam Negeri, Rupiah Bakal Perkasa

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengatakan tujuan dibuatnya aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) minyak gas dan tambang yang harus masuk ke perbankan dalam negeri adalah untuk menambah pasokan valuta asing (valas) yang otomatis masuk ke kas negara, serta memperkuat nilai tukar rupiah.

Pada Kamis (10/1) kemarin, rupiah ditutup melemah di level Rp9.810 per dolar AS menyusul minimnya sentimen positif dari domestik dan eksternal. “Cara menambahnya adalah semua DHE jangan ada yang diterima melalui bank luar negeri. Jadi harus diterima bank dalam negeri. Ini akan menambah inflow (dana masuk) valas ke dalam negeri,” kata Hendi Sulistyowati, Direktur Eksekutif Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter BI, Rabu.

Dia mengatakan, pasokan valas di dalam negeri belum banyak apabila bank tidak mampu mengendapkan DHE yang masuk dalam jangka waktu lama. Meskipun tahun lalu jumlah DHE yang mengendap di luar negeri menurun menjadi 15%, dibandingkan di 2010 yang sebesar 22,9% dan 2011 sebesar 19,6%.

“Bank (sendiri) yang harus berusaha supaya (DHE) itu mengendap. Kalau mengendap terus langsung pergi berarti untuk supply valasnya tidak banyak. Sebenarnya yang diterima di luar negeri menurun, tapi apakah mereka (bank) hanya lewat atau mengendap perlu ada penelitian lanjutan. So, kita mesti mengadakan survei kepada eksportir tentang berapa lama dana mereka mengendap di bank lokal,” ujarnya.

Ke depan, lanjut dia, jumlah DHE sebanyak 15% atau senilai US$2 miliar sampai Oktober 2012, yang “menginap” di bank luar negeri seluruhnya bisa masuk ke dalam negeri. Namun Hendi mengakui hal itu tidak mudah dilakukan. “Mungkin saya tidak berharap 100% DHE bakal masuk dalam negeri di tahun ini. Tapi kita boleh dong punya target kalau ke depan harus semakin kecil yang diterima melalui bank di luar negeri,” ungkapnya, berharap.

Bahkan, sambung Hendi, dilihat dari ketentuannya yang sudah diperjanjikan dalam Kontrak Karya Kerja Sama (K3S) Migas dan Tambang tidak diperbolehkan lagi masuk perbankan luar negeri. Perjanjian yang dimaksud adalah K3S antara perusahaan migas dan tambang dengan otoritas pengatur seperti SKMigas dan Kementerian ESDM.

“Misalnya Kaltim Prima Coal dan Adaro yang masih ada perjanjian/kontrak harus menerima DHE mereka di luar (negeri). Perusahaan K3S, seperti Chevron dan Total, juga masih menerima DHE di bank luar negeri. (Jumlah) uang mereka besar-besar. Untuk satu bulan saja ditaksir Rp300 juta per K3S. Jadi bayangkan kalau ada 5 atau 10 perusahaan yang masing-masing jumlahnya sama,” tuturnya.

Harus tunduk aturan

Dengan demikian, Hendi mengungkapkan bahwa masih ada ketidaksepahaman antara sebagian besar perusahaan K3S dengan BI terkait wajib atau tidaknya mereka tunduk terhadap ketentuan DHE BI. Meski begitu, imbuh dia, bank sentral bersikreas mulai tahun ini seluruh perusahaan K3S wajib mematuhi aturan tersebut.

Apalagi masa transisi sebenarnya sudah berakhir di akhir 2012 lalu, kecuali bagi mereka yang mempunyai perjanjian dalam bentuk trustee di perbankan luar negeri, maka akan diberi waktu lagi sampai Juni 2013 mendatang.

“Jadi masih terus dibicarakan dengan SKMigas dan Kementerian ESDM. Namun, ada juga K3S yang sudah menerima DHE di bank dalam negeri. Meskipun mereka mempunyai perjanjian yang sama. Harusnya perjanjian apapun yang dibuat tidak boleh bertentangan dengan aturan dalam negeri,” ungkap Hendi.

Sebagai informasi, jumlah DHE yang sudah masuk perbankan dalam negeri sejak Januari sampai Oktober 2012, rinciannya adalah Januari 2012 senilai US$9,4 miliar, Februari 2012 sebesar US$10,4 miliar, Maret 2012 US$11 miliar, April 2012 US$10,3 miliar, Mei 2012 US$10,9 miliar, Juni 2012 US$10,7 miliar, Juli 2012 US$11,4 miliar, Agustus 2012 US$11 miliar, September 2012 US$10 miliar serta Oktober 2012 sebesar US$12 miliar.

Sementara DHE yang masih masuk melalui perbankan luar negeri (dalam periode yang sama) yaitu Januari 2012 US$2,4 miliar, Februari 2012 US$2,4 miliar, Maret 2012 US$2,6 miliar, April 2012 US$2,3 miliar, Mei 2012 US$2,5 miliar, Juni 2012 US$2,1 miliar, Juli 2012 US$2,1 miliar, Agustus 2012 US$2,1 miliar, September 2012 US$2,6 miliar, dan Oktober 2012 US$2,2 miliar. [ria]

BERITA TERKAIT

Usaha Kecil - Keterlibatan Sektor UKM dalam Rantai Nilai Global Masih Rendah

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN) Arif Budimanta menyatakan bahwa keterlibatan sektor usaha kecil menengah (UKM)…

Kemarau Bakal Lama, Serapan Beras Bulog Dikhawatirkan

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania menyatakan musim kemarau yang berlangsung sejak April 2019…

Sektor Pangan - Produksi dan Suplai Terbatas Bakal Memicu Kenaikan Harga Cabai

NERACA Jakarta – Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Rusli Abdullah mengatakan salah satu alasan kenaikan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Mandiri Catatkan Perolehan Laba Rp 13,5 Triliun

  NERACA   Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk mencatatkan perolehan laba konsolidasi tumbuh 11,1% mencapai Rp13,5 triliun, kualitas kredit…

Survei BI : Pertumbuhan Kredit Baru Capai 78,3%

    NERACA   Jakarta - Survei Perbankan Bank Indonesia (BI) menunjukkan pertumbuhan triwulanan kredit baru meningkat pada triwulan II-2019…

Perbankan Harap BI Turunkan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta – Desakan agar Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reverse…