Industri Prospektif, Kinerja Saham Pelayaran Di Tangan Emiten

NERACA

Jakarta- Industri pelayaran dalam jasa transportasi memiliki andil yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Karena itu, industri ini diproyeksikan masih terus berkembang sehingga seharusnya saham-saham pelayaran dapat menjadi salah satu sektor yang dapat dipertimbangkan oleh pelaku pasar. “Industri pelayaran menjadi salah satu lini bisnis yang masih terus berkembang di Indonesia. Karena itu, sebenarnya industri ini prospektif,”kata Direktur Utama BEI Ito Warsito di Jakarta, Rabu (9/1).

Adanya penemuan ladang-ladang baru, menurut Ito menjadi penunjang bagi kinerja emiten-emiten pelayaran. Karena dalam melakukan eksplorasi, tentu dibutuhkan jasa transportasi sehingga hal ini merupakan ruang bagi pengembangan bisnis industri pelayaran. Selain itu, kata Ito, saat ini belum ada sarana transportasi yang dapat mengangkut barang dalam jumlah besar. “Penemuan ladang-ladang minyak baru di laut, yang otomatis membutuhkan transportasi laut dan pengangkuran jasa transportasi.” ujarnya.

Karena itu, Ito menilai, prospek industri pelayaran hanya permasalahan manajemen dari masing-masing emiten. Terkait beberapa emiten pelayaran yang tersangkut masalah utang yang terlalu besar, lanjut Ito merupakan imbas krisis 2008.

Seperti diketahui, beberapa emiten pelayaran yang terganjal utang adalah PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS), dan PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLTA). Untuk emiten berkode HITS, total liabilitasnya mencapai Rp2,45 triliun dan total ekuitasnya sebesar Rp326,76 miliar. Kabar penundaan pembayaran utang oleh pihak Humpuss tersebut sempat membuat saham emiten tersebut dihentikan sementara atau suspensi dalam perdagangan saham pada Oktober lalu.

Dari seluruh utang yang ditagih kepada Humpuss, pihak manajemen menyatakan akan menyelesaikan utang datang untuk pertama kali, yaitu utang untuk kreditor konkuren seperti kelompok rekanan, vendor, konsultan yang diperkirakan sudah dapat dilunasi pada November tahun 2013.

Disebutkan, proposal composition plan mengenai pelunasan utang untuk semua kreditur sudah ditandatangani oleh para kreditur. Hanya saja masih diperlukan pembahasan lebih dalam terkait verifikasi jumlah total utang tersebut.

Prestasi Terganjal Utang

Setelah diselesaikannya permasalahan hukum, pihak manajemen pun optimistis dapat meningkatkan kinerja perseroan ke depan. Asal tahu saja, perseroan menganggarkan investasi sekitar US$120 juta pada tahun 2013 seiring dengan adanya beberapa tender yang akan digarap perseroan.

Sementara, BLTA mencatatkan total utang mencapai US$2,07 miliar, sedangkan total ekuitas perseroan mencapai Rp982,38 juta. Artinya, rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio/DER) mencapai 2,1 kali. Saat ini perseroan tercatat sebagai salah satu emiten yang berpotensi untuk di delesting jika pihak manajemen tidak kunjung memberikan konfirmasinya secara jelas kepada pihak otoritas.

Selain itu, BEI mencatat PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) merupakan salah satu emiten sub sektor transportasi pelayaran yang baru saja mencatatkan sahamnya kemarin di lantai bursa.

Perseroan melepas sebanyak 600 juta lembar saham di harga 230. Dalam pelaksanaan IPO tersebut, perseroan menggunakan laporan keuangan Juni 2012. Disebutkan, total aset BBRM adalah US$134,27 juta dengan rincian total liabilitas US$107,15 juta dan total ekuitas US$27,12 juta. Rencananya, dana hasil penawaran perdana saham akan digunakan untuk sekitar 45% membiayai sebagian pembelian dua unit kapal AHTS dan sisanya akan dibayar dengan pinjaman bank, sekitar 49% akan digunakan perseroan untuk melakukan pembayaran 30% dari nilai pokok dan bunga dari bunga obligasi konversi I yang diterbitkan perseroan, dan sekitar 6% akan digunakan sebagai modal kerja perseroan. (lia)

BERITA TERKAIT

Wilton Repo Saham Renuka Coalindo

NERACA Jakarta - Wilton Resouces Pte Ltd pemegang saham pengendali (PSP) PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) melakukan penjualan sebanyak 50…

Industri Otomotif dan Komponennya Jadi Sektor Andalan

NERACA Jakarta – Seiring dengan perkembangan teknologi dan tren global, Kementerian Perindustrian mengajak industri komponen dan pendukung otomotif bersama sama…

Perlu Ajak Masyarakat Industri Sadari Pentingnya Kolaborasi

NERACA Jakarta – Dalam menindaklanjuti Making Indonesia 4.0, menurut Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Gandeng MRT Jakarta - Intiland Bidik Recurring Income Lahan Parkir

NERACA Jakarta – Memanfaatkan kawasan yang dekat dengan stasiun MRT Lebak Bulus, PT Intiland Development Tbk (DILD) menuai banyak berkah…

Kejar Pertumbuhan Penjualan 20% - Lorena Mengandalkan Bisnis Angkutan Udara

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan penjualan atau sales naik sebesar 15% - 20% sepanjang 2019,  PT Eka Sari Lorena Transport…

BEI Perbanyak Sekolah Pasar Modal di DIY

NERACA Jakarta – Perkuat basis investor lokal guna menjaga ketahanan pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus melakukan sosialisai…