Swasembada Daging 2014 Sulit Tercapai

NERACA

Jakarta - Program swasembada daging sapi 2014 yang dicanangkan Kementerian Pertanian (Kementan) masih jauh dari harapan. Sehingga pemerintah perlu merumuskan kembali program tersebut.

Saat ini, harga daging sapi di Indonesia merupakan yang termahal di dunia, yaitu di kisaran Rp 100 ribu per kilogram. Sebagai perbandingan, harga di Vietnam, Malaysia, Singapura hanya sekitar Rp 30-35 ribu.

“Masih jauh dari harapan. Bahkan, pencanangan swasembada tersebut pada 2014 bertepatan dengan tahun politik. Sehingga masalah daging sapi seperti komoditas politik,” kata Afan Anugroho, Sekjen Komite Daging Sapi (KDS) Jakarta Raya, Rabu (9/1).

Tingkat konsumsi makan daging sapi di Indonesia juga masih rendah dibanding negara-negara tetangga. Konsumsi di Malaysia mencapai 8 kg per tahun/kapita. Singapura, mencapai 6 kg per tahun/kapita, disusul Vietnam sekitar 4 kg per tahun/kapita. Sementara di Indonesia hanya 1,98 kg per tahun/kapita.

KDS mengaku belum mendapat gambaran program swasembada jangka panjang. Karena selama ini memang ada wacana untuk mengundang investor dari Australia atau Selandia Baru. Kedua negara tersebut diharapkan mengirim bibit sapi bakalan ke wilayah Indonesia bagian timur, terutama NTB (Nusa Tenggara Barat) dan NTT (Nusa Tenggara Timur) yang dekat dengan kedua negara.

Ada beberapa persoalan investasi peternakan sapi di NTB dan NTT. Utamanya menyangkut infrastruktur penyediaan air bersih, perkebunan untuk pakan sapi, transportasi dan lain sebagainya. Industri peternakan sapi di Australia dan Selandia Baru berhasil karena ada lahan rumput dengan luas ribuan hektar.

“Karena sapi-sapi dilepas me-rumput. Wilayah Indonesia Timur ideal untuk peternakan. Saya juga pernah dengar, ada satu pulau terpisah yang mungkin akan dijadikan peternakan terbesar di Indonesia,” jelas Afan.

Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Universitas Lampung (Unila) Bustanul Arifin mengungkapkan daging dan kedelai Indonesia ternyata masih ada yang impor. "Kalau beras dan jagung oke bisa swasembada, tapi jagung, gula dan daging, saya kira swasembada tidak akan pernah tercapai kalau kondisinya terus seperti ini. Apabila impor terus dibuka lebarnya," kata Bustanul.

Menurutnya, permasalahan daging sapi yang stoknya semakin menipis, bukan dikarenakan konsumsi masyarakat yang meningkat, akan tetapi pemerintah mensensus sapi yang tidak siap untuk dipotong. "Sensusnya benar, tapi tidak semua sapi tersebut ready di potong, bisa saja itu investasi, buat kawinin anaknya," tuturnya.

Seharusnya, kata Bustanul, metode sensus yang dilakukan pemerintah dengan mencatat stok sapi yang aktif sehingga perhitungan tersebut tidak salah dan tidak terjadi kelangkaan daging sapi. "Sensus harus dilakukan secara benar dan diperbanyak produksi dalam negeri, lahan diperbanyak dan untuk sapi diternak dengan baik agar gemuk serta menghasilkan bibit sapi yang banyak," tuturnya.

Sulit Tercapai

Sementara itu,Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Impor Daging Indonesia Thomas Sembiring menuturkan, swasembada sapi di 2014 tak bisa terjadi karena kita masih lebih pilih impor. "Kalau saya bilang itu mimpi," tutur Thomas.

Thomas mengungkapkan, ada cara lain untuk membuat swasembada sapi selain dengan menyetop keran impor, yaitu dengan menaikkan harga daging setinggi-tingginya, sehingga permintaan terhadap daging pun akan berkurang karena konsumen tak mampu membeli daging sapi. "Logikanya begini, harga dinaikkan saja yang di Jawa Barat, orang-orang sudah nggak mau beli daging lagi kan, sehingga permintaan menurun. Jadi beralih ke komoditi lain," papar Thomas.

Selain itu, Thomas mengatakan yang terjadi di lapangan saat ini harga daging sapi melonjak karena kekurangan pasokan. "Kalau mau tahu harga daging kenapa naik, langsung ke pedagang kenapa naik. Jawabannya pasokan, mereka pasti jujur," katanya.

"Kalau bisa impornya dihapuskan, biar harga naik terus. Pak Menteri bilang petani sudah bisa tersenyum walaupun belum ketawa. Mau sampai harga berapa mereka ketawa, nanti konsumen yang menangis, jadi mau pro yang mana?" katanya.

Menurut data dari Kementerian Perdagangan, harga daging sapi nasional per 16 Juli 2012 mencapai Rp 77.155 per kg. Naik dari minggu kedua bulan ini yaitu Rp 75.414 per kg.

BERITA TERKAIT

Walikota: Kota Sukabumi Sulit Dijadikan Kota Swasembada Pangan

Walikota: Kota Sukabumi Sulit Dijadikan Kota Swasembada Pangan NERACA Sukabumi - Dalam aspek ketersediaan pangan, Kota Sukabumi sangatlah sulit untuk…

Di Hadapan Pengusaha, Menteri LHK: Kita Lalui Masa-masa Sulit Karhutla

Di Hadapan Pengusaha, Menteri LHK: Kita Lalui Masa-masa Sulit Karhutla NERACA Jakarta - Berbagai langkah koreksi di sektor kehutanan terus…

Target Laba Bank Sumsel Tercapai

    NERACA   Palembang - Bank Sumsel Babel (BSB) telah mencapai target laba tahun 2018 per Oktober yakni sebesar…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…

Industri Sepeda Motor Agresif Pacu Pasar Ekspor

NERACA Jakarta – Industri sepeda motor di Indonesia semakin agresif menembus pasar ekspor. Hal ini tidak terlepas dari peningkatan produktivitas…