2013, Koperasi Siap Masuk 300 Kelas Dunia

Tahun 2012 lalu memang menorehkan catatan kurang melegakan bagi dunia perkoperasian Indonesia. Pasalnya, sebanyak lima koperasi terbesar di Indonesia gagal masuk dalam daftar 300 koperasi top dunia yang diumumkan Organisasi Koperasi Dunia (International Cooperative Alliance/ICA) pada World Cooperative Monitor (WCM) 2012.

Seperti diketahui pada 31 Oktober 2012 lalu, ICA mempublikasikan 300 koperasi berskala terbesar di dunia dalam WCM. Mereka berasal dari 24 negara yang volume bisnisnya dari US$1 miliar sampai US$70 miliar.

Kelima koperasi yang didaftarkan itu adalah Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Jasa Pekalongan dengan aset Rp2,5 triliun, Induk KSP Jakarta dengan aset Rp33,7 miliar, Koperasi Kredit Obor Mas (Maumere, NTT) dengan aset Rp200,8 miliar, Koperasi Karyawan PT Semen Gersik (Jatim) dengan aset Rp529 miliar, dan Koperasi Sapi Perah Lembang (Jabar) dengan aset Rp233,7 miliar.

Kelima koperasi itu masih kalah dengan lembaga serupa yang dimiliki negara tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura, yang sukses masuk dalam top dunia tersebut. Padahal, di Indonesia saat ini adanya sebanyak 192.443 unit koperasi dengan anggota berjumlah 33.687.417 orang. Total volume usaha sekitar Rp95 triliun dan modal yang dapat dihimpun dari anggota sebanyak Rp43 triliun sedangkan dari luar Rp46 triliun.

Hanya saja, kelima koperasi yang diusulkan itu tetap dianggap tidak memenuhi beberapa kriteria yang ditentukan ICA. Kriteria itu diantaranya adalah nilai volume bisnis koperasi per tahun. Sementara kelima koperasi yang didaftarkan itu omsetnya jauh di bawah peringkat 300 dunia yang memiliki nilai usaha sebesar Rp12 triliun per tahun. Sedangkan omset yang dimiliki koperasi terbesar di Indonesia adalah Rp7,7 triliun, milik KSP Jasa Pekalongan.

Namun, ada juga kriteria lain yang belum bisa dipenuhi para koperasi di negeri ini. Yakni, belum mampu mengelola dana corporate social responsibility (CSR). Bahkan, ada koperasi yang belum memiliki website sehingga tidak bisa dilihat informasinya oleh masyarakat dunia.

Meski begitu, Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan tetap optimis bahwa di 2013 ini bakal ada koperasi nasional yang menembus koperasi kelas dunia. “Dalam pidato saya di depan PBB di Amerika Serikat, saya mengeluhkan persyaratan koperasi kelas dunia itu hanya dilihat dari sisi omzet atau revenue yang dihasilkan. Seharusnya, ditambah dengan syarat keikutsertaan masyarakat dalam berkoperasi. Jika hanya omzet, lantas apa bedanya dengan PT? Sedangkan filosofi dari koperasi adalah seberapa besar keikutsertaan orang dalam berkoperasi. Percuma omzet besar tapi manusianya sedikit”, papar Menkop.

Oleh karena itu, Menkop mengusulkan untuk 2013 ini persyaratan tersebut agar dipertimbangkan untuk masuk. “Mereka antusias dengan usulan kita, dan akan menggali lebih dalam akan hal itu”, tegas Syarifuddin.

Simak saja, jumlah koperasi pada 2012 mengalami peningkatan sebanyak 6,72% dari 188.818 unit pada 2011 menjadi 194.295 unit koperasi pada akhir November 2012. Jumlah anggota koperasi aktif meningkat dari 30.849.913 orang pada 2011 menjadi 33.869.439 orang pada November 2012. “Perkembangan ini berdampak positif bagi peningkatan penyerapan tenaga kerja koperasi dari 377.238 tenaga kerja menjadi 429.678 tenaga kerja”, tukas Menkop lagi dengan meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sustainable, bagus dan semakin tinggi mampu meningkatkan kualitas koperasi Indonesia.

Yang jelas, pemerintah mentargetkan 50 persen dari seluruh koperasi di Indonesia sudah bertaraf internasional. Keyakinan itu dilihat dari pertumbuhan aset yang semakin melesat "Banyak koperasi di Indonesia dan kini yang besar mencapai 100 koperasi. Dalam waktu lima tahun lagi, 50 persennya dari jumlah koperasi di Tanah Air akan bertaraf internasional," Syarifuddin.

Dia pun yakin, koperasi tetap menjadi penopang ekonomi Indonesia. Maka dari itu, dia berharap 50 persen koperasi di Indonesia berstandar dunia. Syarat status koperasi bertaraf internasional adalah mendapat pengakuan International Cooperative Alliance (ICA). Namun, “Bisnis baik saja tidak menjalin sebuah koperasi mendapat status koperasi bertaraf internasional. Karena, diperlukan dukungan teknologi, minimal sudah dikuasai para pengurus”, imbuh Menkop. rin

BERITA TERKAIT

Tampil dengan Warna Baru, Infinix HOT S3X Siap Goda Pengguna

NERACA Jakarta – Vendor smartphone terkemuka asal Hong Kong, Infinix, mengumumkan ketersediaan varian warna baru untuk produk andalannya, Infinix HOT…

KPK Siap Periksa Petinggi Lippo Group - YLKI DESAK PERLINDUNGAN KONSUMEN MEIKARTA

Jakarta-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan segera memanggil sejumlah pihak dari Lippo Group, untuk selanjutnya diperiksa dalam kasus dugaan suap pengurusan…

TOWR Naikkan Pinjaman Jadi Rp 300 Miliar - Rubah Perjanjian JP Morgan

NERACA Jakarta – Besarnya kebutuhan dana ekspansi bisnis, menjadi alasan bagi PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) melalui anak usahanya…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

KSPI Minta Kenaikan UMP 2019 Sebesar 25%

Jakarta-Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) meminta kenaikan Upah Minimum Provinsi tahun depan sebesar 25%. Sementara itu, pemerintah menetapkan besaran kenaikan…

Pengamat: Perubahan Asumsi Kurs Rupiah Realistis

NERACA Jakarta - Pengamat ekonomi sekaligus Rektor Universitas Katolik Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko menilai perubahan asumsi nilai tukar Rupiah dalam…

Diversifikasi Pasar Ekspor Antisipasi Perang Dagang

NERACA Jakarta – Indonesia perlu melakukan berbagai langkah sebagai bentuk antisipasi dari dampak negatif perang dagang antara Amerika serikat dengan…