Tipuan ala Nigeria

Kotak email kita sering mendapat kiriman surat elektronik dari seseorang yang mengaku sebagai anak pengusaha di sebuah negeri antah berantah di benua Afrika dan Eropa. Dia ingin berbagi rezeki dengan cara memperoleh komisi dana warisan seorang pengusaha yang meninggal karena kecelakaan pesawat terbang beberapa tahun lalu. Korban tak punya ahli waris. Agar dana itu bisa diunduh, harus ditransfer ke satu rekening di luar negeri. Jika tidak, dana yang nilainya disebutkan mencapai US$ 1 juta itu akan disita pemerintah setempat.

Ada juga email yang masuk itu memberihukan bahwa email kita berhasil memenangkan lotere jutaan dolar AS. Agar dana itu dapat dikirimkan segera, kita diminta untuk mengirimkan sejumlah data pribadi, termasuk rekening koran khusus untuk mata uang asing.

Buntutnya, pengirim email itu minta kita untuk menalangi biaya administrasi bank, ongkos transfer, dan pajak yang nilainya ribuan dolar AS. Email itu tentu saja tidak dikirimkan ke kita saja, tapi ke ribuan bahkan jutaan email lainnya. Harapannya, ada sekitar persen saja yang tergiur dengan email busuk itu. Jika demikian, sang pengirim akan menggayung sekian kali ribuan dolar AS.

Jika sang korban minta agar biaya itu dipotongkan saja dari dana yang akan ditransfer, dia menjawab tidak bisa. Sebagai alternatif, dia akan mengurangi ongkos kirim yang harus kita setorkan sampai jumlah tertentu. Untuk korenpondensi, pengirim email itu juga minta alamat dan nomor telepon yang bisa dihubungi langsung. Para calon korban tentu tergiur, dengan hanya menyetorkan dana sekitar US$ 1.000, bakal mendapat komisi hingga puluhan ibu dolar AS.

Yang bermata gelap, tentu tanpa ba bi bu, langsung saja mengiyakan permintaan mentransfer ongkos pengiriman uang warisan itu. Yang waspada, loloslah dari aksi penipuan berbasis internet itu. Konsultan keuangan Eko Cahyono menyebut kasus itu sebagai Tipuan dari Nigeria.

Awalnya beredar di Nigeria, lalu Uganda, Afrika. Lalu pelakunya beredar dan berada di kawasan Eropa dan AS. Kejahatan ekonomi itu tentu saja menjadi perhatian Komisi Perdagangan (Federal Trade Commission/FTC). Sebab, kasus itu sudah mencapai 300 ribuan dengan nilai kerugian mencapai US$ 485,30 juta. (saksono)

BERITA TERKAIT

Hidup ala 'Rockstar' di Tepi Kuta Bali

Banyak cara menikmati debur ombak dan momen matahari terbenam alias sunset di Pantai Kuta Bali. Namun ada satu cara unik…

TINS Ekspansi Eksplorasi di Nigeria dan Myanmar - Tingkatkan Cadangan Timah

NERACA Jakarta – Genjot kapasitas produksi, PT Timah Tbk (TINS) perluas penetrasi pasar ekspolasi timah di Nigeria dengan membentuk perusahaan…

Nomadic Market ala Pasar Karetan Kian Menjanjikan

Warga antusias mendatangani Destinasi Digital milik GenPI Jawa Tengah, yakni Pasar Karetan saat dikenalkan mengenai konsep Nomadic Market di Festival…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…