Garap Tiga IPO, Indo Premier Targetkan Pendapatan Rp 11 Triliun

NERACA

Jakarta-PT Indo Premier Securities menargetkan pendapatan sebesar Rp 11 triliun dari penjaminan emisi di tahun 2013. "Saat ini kita sudah dapat mandat menangani penjaminan emisi untuk 5 obligasi dan 3 IPO dan sudah diproses, “kata Direktur PT Indo Premiere Securities Rayendra Tobing di Jakarta, Selasa (8/1).

Total nilai untuk penjaminan emisi 5 obligasi tersebut menurut Rayendra sekitar Rp5 triliun. Sementara untuk 3 IPO perusahaan ditaksir mencapai Rp2 triliun. Di kuartal pertama tahun ini, perusahaan akan menangani 3 perusahaan untuk penerbitan obligasi. "Di 2-3 minggu akan ada penerbitan obligasi, sedang untuk kuartal pertama ada 3 obligasi." ujarnya.

Kata Rayendra, perusahaan yang akan menerbitkan obligasi tersebut bergerak di sektor keuangan sementara untuk perusahaan yang akan melakukan IPO bergerak di sektor riil.

Sementara sepanjang 2012, pihaknya mencatat ada sekitar 29 -30 efek, yaitu berupa obligasi, MTN dan saham dengan total nilai sebesar Rp 10,4 triliun. Dari total angka tersebut, didominasi oleh penerbitan obligasi. "Mayoritasnya dari obligasi sebesar Rp 9,7 triliun," ujarnya.

Sementara Economist Indo Premier, Seto Wardono mengatakan, penerbitan obligasi masih akan marak di tahun 2013. Terlebih jika pemerintah berhasil menstabilkan inflasi dan tingkat suku bunga. "Dalam penerbitan obligasi, pasar akan melihat imbal hasil dan yield yang dinilai menarik." ujarnya.

Untuk penerbitan obligasi tahun ini, menurut dia akan lebih menarik untuk penerbitan obligasi korporasi dibandingkan pemerintah. Pasalnya, obligasi dapat memberikan yield lebih tinggi sesuai dengan sektor industri dan rating yang diperoleh oleh obligasi tersebut. "Yield government bond pemerintah sudah lebih kecil sehingga beralih ke korporasi." jelasnya.

Dampak Kenaikan Listrik

Hal yang dikhawatirkan lanjut dia adalah apabila terjadi kenaikan inflasi yang disebabkan kenaikan tarif dasar listrik (TDL), upah minimum regional (UMR) dan pelemahan rupiah. Kenaikan TDL diperkirakan akan mendorong terjadinya inflasi sebesar 0,88 basis point, sementara UMR sebesar 0,2 basis point. Jika demikian, hal tersebut tentu akan berpengaruh terhadap perkembangan investasi di Indonesia.

Vice President Business Development & Corporate Marketing Indo Premier, Jayawati Sukidja mengatakan, tahun ini diharapkan Indo Premier kembali menempati posisi teratas. "Dengan perolehan obligasi rupiah sebesar Rp 10,7 triliun sepanjang tahun 2012, Indo Premier menempati posisi teratas." ujarnya.

Peringkat tersebut, lanjut dia didasarkan pada data Thomson Reuter. Kemudian peringkat kedua ditempati Bank Mandiri dengan perolehan Rp 8 triliun, sementara di posisi ketiga ditempati Standard Chartered PLC dengan perolehan dana sebesar Rp 6,5 triliun. Pada posisi tersebut, Indo Premier tercatat memiliki pangsa pasar sebesar 16,3 % sementara Bank Mandiri 12,3% dan Standard Chartered sebesar 9,9%. (lia)

BERITA TERKAIT

Jasa Raharja Targetkan Laba Rp1,6 triliun

      NERACA   Jakarta - PT Jasa Raharja (Persero) menargetkan perolehan laba 2018 sebesar Rp1,6 triliun. Angka tersebut…

Yelooo Integra Raup Dana Rp 48,75 Miliar - Harga IPO Dipatok Rp 375

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Yelooo Integra Datanet Tbk go public telah mendapatkan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan…

Rizal Ramli Ajukan Ganti Rugi Rp1 Triliun

Rizal Ramli Ajukan Ganti Rugi Rp1 Triliun  NERACA Jakarta - Ekonom senior Rizal Ramli mengajukan ganti rugi sebesar Rp1 triliun…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Verena Multifinance Patok Rights Issue Rp140

PT Verena Multifinance Tbk (VRNA) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau right…

Mandiri Kaji Terbitkan Obligasi US$ 1 Miliar

Perkuat modal guna memacu pertumbuhan penyaluran kredit, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berencana menerbitkan instrumen utang senilai US$ 1 miliar.…

Realisasi Kontrak Baru PTPP Capai 66,22%

NERACA Jakarta - Sampai dengan September 2018, PT PP (Persero) Tbk (PTPP) berhasil mengantongi total kontrak baru sebesar Rp32,45 triliun.…