Minim, Eksplorasi Cadangan Migas Baru

NERACA

Jakarta - Cadangan terbukti saat ini 4 miliar setara barel minyak. Sebagian besar peningkatan cadangan terbukti itu bukan berasal dari hasil penemuan cadangan baru. Cadangan minyak dan gas bumi di Indonesia terus terkuras untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri dan meningkatkan penerimaan negara. Badan Geologi mencatat sebagian besar cadangan terbukti migas sudah dikuras pada masa lalu.

Hingga saat ini, produksi minyak nasional secara kumulatif atau cadangan yang sudah diproduksi mencapai 22,6 miliar setara barel minyak. Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) R Sukhyar, untuk mempertahankan produksi minyak 900.000 barrel per hari, pengeboran dilakukan paling sedikit di sekitar 700 lapangan migas per tahun atau hampir 2.200 sumur eksplorasi per tahun.

Minimnya kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru dikhawatirkan berdampak pada penurunan produksi minyak dan gas bumi. “Oleh karena itu, investasi untuk kegiatan eksplorasi perlu ditingkatkan,” ujarnya, Selasa (8/1). Kenyataannya, saat ini wilayah kerja eksplorasi migas baru mencapai 228 blok. Ke depan, penemuan cadangan baru hasil kegiatan eksplorasi akan mengecil dengan risiko kegagalan penemuan meningkat.

Jika tahun 1960-an sebesar 50-60% dari penemuan cadangan migas berasal dari lapangan baru, saat ini hanya 12-15% penemuan cadangan baru berasal dari lapangan baru.

Sementara itu, Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini menyatakan, rendahnya tingkat eksplorasi migas di Indonesia untuk menemukan cadangan baru disebabkan tingginya biaya investasi eksplorasi yang mencapai miliaran rupiah.

Badan Geologi menyatakan masih optimistis produksi minyak masih berpeluang ditingkatkan. Berdasarkan hasil kajian geologi, masih ada cadangan minyak yang mungkin bisa diproduksi sebesar 43,7 miliar setara barel minyak. Dengan menerapkan teknologi peningkatan produksi tingkat lanjut, potensi tambahan cadangan minyak bisa mencapai 3,3 miliar barel atau potensi produksi 700.000 barel per hari.

Namun, sejauh ini kinerja produksi di lapangan-lapangan produksi dinilai masih belum optimal. Hal ini ditandai oleh rendahnya rasio penggantian cadangan yang disebabkan rendahnya kegiatan pengeboran eksplorasi, khususnya di blok-blok eksplorasi. Penemuan lapangan minyak berskala besar yang terakhir pada tahun 1992, yaitu Lapangan Banyuurip di Blok Cepu, dengan cadangan terbukti sekitar 600 juta barrel minyak.

Menurut Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Rovicky Dwi Putrohari, sebenarnya potensi migas masih banyak tetapi berada dibagian Indonesia Timur. Banyak investor enggan meliriknya karena faktor geografis serta minimnya infrastruktur. Selain itu, biaya penambangan migas di Indonesia timur lima kali lipat lebih mahal dibanding di Indonesia Barat.

(Novi)

BERITA TERKAIT

Taiwan Dukung Pertumbuhan Industri Non Migas Indonesia

HL6-4   NERACA   Jakarta - Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menargetkan pertumbuhan industri pengolahan non-migas pada tahun 2018 sebesar 5,6…

Cadangan Devisa Naik US$2 miliar

      NERACA   Jakarta - Posisi cadangan devisa Indonesia tercatat 117,2 miliar dolar AS pada akhir November 2018,…

Minim Disiplin Laporan Keuangan - BEI Berikan Sanksi Tegas 18 Emiten “Nakal”

NERACA Jakarta – Mendorong daya saing industri pasar modal tidak hanya sebatas inovasi pelayanan yang lebih efisien, tetapi juga prinsip…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

PII : Skema KPBU Mulai Banyak Diminati Investor - Resmikan SPAM Semarang Barat

        NERACA   Semarang - Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)…

Wapres Ingatkan Berhati-hati Investasikan Dana Haji

    NERACA   Jakarta - Wakil Presiden RI M Jusuf Kalla mengingatkan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) agar berhati-hati…

Gandeng BUMDes, Pertamina Bangun 77 Ribu SPBU Mini

    NERACA   Jakarta - PT Pertamina (Persero) akan membangun 77.000 SPBU mini di seluruh pelosok daerah di Indonesia…