Lindungi Investor, OJK Didesak Atur Soal Dark Pool

NERACA

Jakarta – Keluhan pelaku pasar soal praktek Dark Pool banyak merugikan investor pasar modal, langsung direspon serius oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Oleh karena itu, lembaga baru ini dituntut untuk segera merevisi UU Pasar Modal mengenai sistem perdagangan Dark Pool.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, revisi UU Pasar modal soal sistem Dark Pool dimaksudkan untuk memperketat peraturan dan merupakan langkah positif bagi perlindunganinvestor, “Sistem perdagangan Dark Pool seharusnya memang diatur, jadi tidak menimbulkan kesan adanya transaksi efek yang tanpa ada payung hukum yang jelas yang berpotensi merugikan investor,”katanya di Jakarta, Senin (7/1).

Dirinya menilai, revisi sistem perdagangan Dark Pool akan berdampak positif pada pasar modal Indonesia. Lebih lanjut menurutnya, dengan adanya aturan tersebut secara langsung akan melindungi perusahaan sekuritas atau perusahaan yang hendak mengeluarkan rate."Bila perusahaan sekuritas sudah mengeluarkan rate dan persiapannya sudah maksimal tapi payung hukumnya belum ada sehingga nanti investor menyangka perusahaan tersebut tidak siap," ungkapnya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Lily Widjaja pernah bilang, saat ini perkembangan teknologi begitu pesat juga mendorong produk-produk dan sistem perdagangan di bursa saham semakin berkembang. “Otoritas pasar modal diharapkan dapat lebih peduli terhadap perkembangan produk dan sistem perdagangan bursa sehingga dapat melindungi investor terkait Dark Pool,”katanya.

Oleh sebab itu, otoritas pasar modal diharapkan dapat masuk dengan membuat peraturan untuk melindungi investor. "Profil investor berbeda dan risk taker itu memang ada. Tetapi tetap ada koridornya dengan edukasi dan regulator harus masuk dengan meregulasinya,"ungkapnya.

Adalah investment technology group, perusahaan broker saham asal Amerika Serikat yang mentransaksikan saham perusahaan di Indonesia. Oleh karena itu, regulator lajut Lily harus aktif melihat jangan sampai merugikan investor publik dan masyarakat pemodal umumnya.

Peluncuran fasilitas Dark Pool di Indonesia ini sekaligus menjadi layanan pertama yang dibuka ITG di kawasan Asia Tenggara. ITG mengaku pembukaan fasilitas Dark Pool untuk Indonesia dilakukan karena Indonesia menjadi salah satu dari sedikit negara yang memungkinkan perdagangan atau transaksi perpindahan saham dilakukan di luar bursa.

Sebagai informasi, Dark Pool merupakan sistem alternatif perdagangan di luar bursa yang terutama ditujukan bagi investor institusi besar yang ingin melakukan penjualan dalam jumlah besar (block sale). Sistem itu mengakomodasi aksi jual dalam volume besar yang akan dilakukan investor tanpa harus memengaruhi harga saham di pasar. (lia)

BERITA TERKAIT

Akademisi Minta Negara Lindungi Saksi Ahli Korban Kriminalisasi

Akademisi Minta Negara Lindungi Saksi Ahli Korban Kriminalisasi NERACA Jakarta - Para akademisi meminta negara untuk melindungi saksi ahli yang…

Kalteng Urutan 23 Jumlah Investor Terbanyak - Catatkan 3.353 Investor

NERACA Palangka Raya - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat hingga akhir September 2018 jumlah investor di Provinsi Kalimantan…

OJK Keluarkan Aturan Equity Crowdfunding - Kembangkan Starup di Pasar Modal

NERACA Bogor – Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan perusahaan starup atau perusahaan dengan aset skala kecil (usaha kecil dan menengah)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BSDE Bukukan Penjualan Rp 5,4 Triliun

NERACA Jakarta - PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) membukukan marketing sales sebesar Rp5,4 triliun di kuartal tiga 2018 atau 75%…

Volume Penjualan Rokok HMSP Tumbuh 1,2%

NERACA Jakarta —Di kuartal tiga 2018, emiten rokok PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) membukukan kenaikan volume penjualan rokok sebesar…

Clipan Finance Raup Laba Rp 226,16 Miliar

Pada kuartal tiga 2018, PT Clipan Finance Indonesia (CFIN) mencatatkan laba bersih senilai Rp 226,16 miliar. Jumlah tersebut meningkat 37,66%…