Genjot Kinerja, WIKA Manfaatkan Peluang Bisnis Bidang Energi

NERACA

Jakarta- Sukses memberikan kontribusi yang signifikan bagi kinerja perseroan, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) akan menggunakan sebagian besar dana investasinya di bidang energi (power plant). “Investasi yang dilakukan di sektor energi ini telah mencapai total kapasitas lebih kurang 200 MW.” ujar Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Tbk Natal A Pardede di Jakarta, Senin (7/1).

Natal mengatakan, pihaknya menangkap peluang bisnis di PLN yang cukup besar. Perseroan optimistis dapat memperoleh sekitar 200 MW tiap tahun dari total kebutuhan listrik nasional sebesar 5000 MW. Sementara untuk total kapasitas sebesar 200 MW tersebut, sebesar 50 MW PLTD Bali, 60 MW PLTG Borang, 21 MW PLTD Rengat, 34 MW PLTD Ambon, dan 25 MW PLTG Rawa Minyak.

Menurut Natal, untuk mendukung pengembangan usaha yang dilakukan perseroan, pihaknya menyiapkan dana investasi senilai Rp 1,78 triliun. Dana tersebut lebih besar 197% dari dana investasi pada tahun lalu yang mencapai Rp 600 miliar. “Dari dana yang disiapkan itu, sekitar Rp 898 miliar akan digunakan untuk pengembangan usaha, sekitar Rp213,6 miliar untuk akuisisi dan penyertaan nilai,” jelasnya.

Selain untuk pengembangan usaha tersebut, perseroan menempatkan dana investasi tersebut sebagai aset tetap sebesar Rp 192,9 miliar, dan sebesar Rp475,5 miliar untuk belanja modal anak-anak usaha dengan nilai mencapai Rp 475,5 miliar.

Akuisisi

Lebih lanjut Natal mengatakan, pihaknya akan menyelesaikan akuisisi PT Sarana Karya pada kuartal pertama 2013. Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perseroan untuk pengembangan usaha baru. “WIKA sudah siap dan berproses untuk akuisisi. Kami mau mengembangkan bisnis aspal B to Men. Aspal alami yang diproduksi raw material di pulau Buton, Sarana Karya merupakan pemilik konsesi besar,” jelasnya.

Rencananya, perseroan akan membangun 6 pabrik di lahan seluas 30 hektar. Salah satunya, yaitu membangun satu pabrik untuk kapasitas 50 ribu ton per tahun, yang mulai berproduksi pada 2015. Penyelesaian pabrik aspal alami ini, menurut dia, membutuhkan dana senilai Rp250 miliar yang berasal dari belanja modal 2013.

Untuk akuisisi tersebut, menurut dia, pihaknya dapat mengakuisisi 100% saham Sarana Karya. Saat ini pihaknya masih menunggu penyelesaian PP di Kementerian Keuangan dan BUMN. Di tahun ini, pihaknya menargetkan laba kotor sebesar Rp1,51 triliun atau naik sebesar 26,23% dari target laba kotor tahun 2012 sebesar Rp1,19 triliun. Untuk laba usaha tahun 2013 diperkirakan mengalami kenaikan 27,98% dari tahun 2012 menjadi Rp1,24 triliun. Dengan demikian, laba bersih ditargetkan dapat mencapai Rp555,06 miliar atau naik 28,8% dari target 2012 sebesar Rp430,68 miliar.

Sementara hingga akhir tahun 2012, perseroan mencatat memperoleh kontrak baru sebesar Rp16,89 triliun yang berarti telah melampaui target 2012, yaitu Rp16,52 triliun. Khusus di Desember 2012, beberapa proyek yang telah didapat antara lain proyek pembangunan jalan akses jembatan Tayan senilai Rp74,24 miliar. Proyek pembangunan jaringan air baku kawasan bergas II senilai Rp94,59 miliar, proyek hanggar Narrow Body GMF senilai Rp444,5 miliar.

Selain itu, perseroan juga menggarap proyek Railway Facility Construstion for Bekasi-Cikarang senilai Rp231,45 miliar. proyek bandar internasional Ngurah Rai Bali paket JO Rp106,01 miliar. Pembangunan relokasi pipa air baku PDAM Surabaya senilai Rp92,50 miliar, dan proyek Arthajasa BSD City senilai Rp68,14 miliar. (lia)

BERITA TERKAIT

Tawarkan Bunga 12% - Sky Energy Indonesia Rilis MTN Rp 300 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna mendukung ekspansi bisnisnya, PT SKY Energy Indonesia Tbk (JSKY) tengah mencari pendanaan sebesar Rp300…

Catatkan Kinerja Keuangan Anjlok - Bisnis Batubara IMTG Cetak Raport Merah

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2019 kemarin, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan raport merah untuk kinerja keuangan. Pasalnya,…

Buntut Harga Saham Jatuh - Totalindo Kaji Kembali Rencana Rights Issue

NERACA Jakarta –Nyungsepnya harga saham PT Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS) hingga di posisi level terendah Rp 50 per lembar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kadin: Industri Tidak Bisa Langsung Tumbuh Meski Harga Gas Turun

NERACA Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) menilai bahwa penurunan harga gas industri yang rencananya akan mulai berlaku…

Beli Rumah di Usia Muda Bukan Lagi Mustahil

Empat tahun sejak di lantik menjadi perwira polisi, Nuril Fajar (25) memberanikan diri mengambil rumah di usia muda. Hal ini…

PP Properti Rilis Obligasi Rp 401,3 Miliar

Perkuat likuiditas guna mendanai ekspansi bisnisnya, emiten properti PT PP Properti Tbk (PPRO) akan menerbitkan dua seri obligasi senilai dari…