Kemendag Awasi Banjir Impor dari China

NERACA

Jakarta - Perekonomian global yang saat ini belum mengalami perbaikan ternyata memberikan dampak yang kurang baik terhadap Indonesia karena pengalihan ekspor beberapa negara dari pasar Amerika dan Eropa akibat krisis global berisiko membuat banjir impor di Indonesia tahun ini.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan salah satu negara tersebut adalah China. "Pertumbuhan ekonomi yang flat akan berpengaruh pada China. Selama ini mereka sangat tergantung pada pasar Eropa," kata Gita disalah satu kantor media di jakarta, Senin (7/1).

Dia menambahkan China akan menyasar pasar yang mempunyai tingkat konsumsi domestik tinggi dan pertumbuhan ekonomi negara yang baik. Indonesia, lanjutnya, merupakan pasar yang ideal bagi China. Pihaknya juga akan semakin mengawasi banjir impor tahun depan.

Tahun lalu, Kementerian Perdagangan menemukan 3.000 produk pangan dan non pangan yang tidak mempunyai ijin edar, K3L, dan SNI. "Budaya kita adalah mengkonsumsi yang murah dan enak. Namun, tidak memperhatikan kandungan lain seperti formalin ataupun boraks di dalamnya," tuturnya.

Tahun ini pihaknya akan mendeteksi secara intensif semua produk yang masuk. Akan tetapi Kemendag juga mengharapkan dukungan dari Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Banjir Impor

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan,Bayu Krisnamurthi memaparkan hal senada. Menurut Bayu, seiring membaiknya perekonomian saat ini, Indonesia diprediksi akan menjadi pasar baru dengan membanjirnya produk impor. "Indonesia akan menjadi pasar baru, tidak hanya China dan India, semua akan masuk ke Indonesia," kata Bayu.

Menurutnya, pemerintah akan melakukan upaya untuk mengamankan pasar dalam negeri. Caranya adalah dengan melindungi konsumen dengan memberlakukan safeguarding. "Kemudian meningkatkan daya saing produk lokal, mengkampanyekan pada konsumen untuk mencintai produk dalam negeri," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) menuturkan, secara kumulatif neraca perdagangan dari periode Januari-Desember 2011 surplus sebesar US$ 26,32 miliar. "Pada Desember 2011 neraca perdagangan surplus di mana ekspor sebesar US$17,20 miliar dan impor US$16,34 miliar," ungkap Pelaksana tugas (Plt) Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin.

Kinerja ekspor pada Desember 2011 mengalami penurunan sebesar 0,22 persen menjadi US$ 17,20 miliar dari ekspor November 2011 sebesar US$17,24 miliar. "Penurunan ekspor pada Desember 2011 dikarenakan adanya penurunan ekspor nonmigas menjadi USD13,60 miliar dari semula US$13,71 miliar," kata Suryamin.

Namun secara year on year (yoy), ekspor tersebut mengalami kenaikan sebesar 2,19% dari ekspor Desember 2010. Sementara untuk periode Januari 2011 hingga Desember 2011 total ekspor mencapai US$ 203,62 miliar di mana secara yoy naik 29,05%. Adapun ekspor nonmigas periode Januari 2011 hingga Desember 2011 sebesar US$ 162,02 miliar yang naik 24,8% secara yoy.

BERITA TERKAIT

Keuntungan Naik, Volvo Pertahankan Pusat Ekspor di China

Volvo Cars akan mempertahankan China sebagai lokasi pusat ekspor, setelah mencetak kenaikan keuntungan operasional sebesar 0,9 persen pada 2018, kata…

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

Menanti Perundingan AS-China - Sikap Wait and See Bawa IHSG Turun 1,1%

NERACA Jakarta – Lagi, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup terkoreksi sejak awal pekan kemarin…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Harga Beras di Indonesia Termasuk Murah di Pasar Internasional

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga beras di tingkat eceran masih terjangkau oleh masyarakat dan…

Harga Minyak Naik Didukung Optimisme Perdagangan

NERACA Jakarta – Harga minyak terus menguat pada penutupan perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pasar didukung oleh tanda-tanda kemajuan…

Agar Pemerintah Benahi Kekacauan Tata Niaga Impor Pangan

NERACA Jakarta – Pemerintah diminta membenahi kekacauan tata niaga impor pangan nasional terutama yang terkait dengan tata produksi, distribusi, serta…