Regulasi BPN Hambat Pengembangan Industri

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian menilai peraturan Badan Pertanahan Nasional No. 2/1999 tentang izin lokasi sudah tidak relevan dengan upaya penambahan lahan bagi kawasan industri. Kendati Kemenperin sudah lama menyampaikan keluhan aturan tersebut, namun pihak BPN belum meresponsnya.

"Peraturan Badan Pertanahan Negara No. 2/1999 tentang izin lokasi sudah tidak cocok dengan kondisi saat ini. Padahal keluhan hambatan penambahan lahan industri telah lama disampaikan kepada BPN dan belum ada respon dari lembaga tersebut," kata Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kemenperin Dedi Mulyadi di Jakarta, Senin (6/1).

Sedangkan Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Sany Iskandar menambahkan, peraturan BPN No.2/1999 harus diperbahuri seiring meningkatnya kebutuhan lahan untuk industri. “Dalam aturan tersebut dinyatakan permohonan penambahan kawasan industri oleh sebuah grup dalam satu provinsi hanya diizinkan maksimal 400 hektar. Padahal, penambahan kawasan industri baru bisa mencapai skala keekonomian bila mencapai 1.000 hektar," ujarnya.

Masalah klasik

Sementara itu, Konsultan properti Colliers International menilai keterbatasan lahan menjadi alasan yang klasik dalam pengembangan kawasan industri. Pihaknya mencatat, sampai dengan paruh pertama 2012, penjualan lahan industri khusus untuk wilayah Jabodetabek baru mencapai 30% dari pencapaian tahun lalu, atau hanya seluas 180,21 hektare (ha). Penjualan 2012 memang diprediksi sulit melebihi penjualan tahun lalu. "Alasannya bukan karena permintaan menurun, tapi karena lahan yang tersedia terbatas," ujar Associate Director Research Colliers, Ferry Salanto.

Lantaran minimnya lahan, lanjut dia, beberapa pengembang kawasan industri di lokasi favorit seperti di Bekasi dan Karawang menjual lahan mentah dengan harga lahan siap pakai. Skema ini, sejatinya, sama-sama menguntungkan pengembang maupun pembeli. "Pembeli bisa antisipasi kenaikan harga kalau lahan sudah siap pakai," imbuh Ferry.

Menurut dia, pengembangan kawasan industri memang masih terpusat di Pulau Jawa. Di sekitar Jakarta, kawasan industri tumbuh pesat di Karawang, Bekasi, Serang, Tangerang, dan Bogor. Alasannya, infrastruktur wilayah tersebut dianggap paling maju. Di luar Jabodetabek, Ferry menyebut Semarang bisa menjadi alternatif kawasan industri baru yang menarik. "Ada investor asal Asia yang mau masuk ke wilayah selatan Semarang," ungkapnya.

Hanya saja, Ferry enggan menyebut nama investor tersebut. Yang jelas, kawasan industri di Semarang itu baru siap pakai sekitar dua tahun lagi, karena saat ini baru sampai tahap akuisisi. Menurut Ferry, Semarang menyimpan potensi sebagai kawasan industri karena lokasinya di tengah dua kota besar, yakni Jakarta dan Surabaya. Selain itu, di Semarang terdapat pelabuhan dan upah tenaga kerjanya relatif rendah.

Selain Semarang, kota lain di pulau Jawa yang juga potensial adalah Tuban dan Lamongan. Kedua kota ini terletak di Jawa Timur. Senior Associate Director Colliers, Sutrisno R. Soetarmo menambahkan, pengembangan kawasan industri di luar Jawa masih terganjal infrastruktur, seperti listrik. Padahal, lahan masih berlimpah dengan harga hanya 10% dari harga tanah di Jabodetabek.

Selain Batam yang memang identik dengan kawasan industri, Kalimantan Timur, (Kaltim) juga punya potensi. Sutrisno bilang, Kaltim bisa dikembangkan menjadi kawasan industri. "Di sana bisa dibangun industri pengolahan batubara dari hulu sampai hilir. Saya dengar sudah ada investor asal Timur Tengah mau masuk," ucapnya.

Soal minimnya infrastruktur di luar Jawa itu diakui Kordinator Wilayah Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Sumatera, HM Aritonang. "Yang kurang di Sumatera itu listrik dan gas," ungkapnya.

Di samping itu, beberapa pengembang kesulitan memperluas lahan. Ambil contoh Kawasan Industri Medan (Persero) yang punya lahan seluas 300 ha. Saat ini sisa lahan tinggal 80 ha tapi pembebasan lahan sulit dilakukan. Padahal, perusahaan berencana menambah lahan seluas 320 ha lagi.

Tambah Kawasan

Di sisi lain, Colliers mencatat, sepanjang kuartal II 2012 di Jabodetabek hanya ada penambahan satu kawasan industri baru, yaitu di Kota Bukit Indah. Saat ini kawasan industri seluas 84 ha ini lagi sedang dibangun infrastruktur karena sudah dipesan sebuah perusahaan otomotif.

Tambahan lahan industri siap pakai baru ada pada 2014 nanti. Tidak terkecuali yang dibangun oleh pengembang besar yang sebelumnya bukan pemain kawasan industri, seperti PT Agung Podomoro Land Tbk dan PT Lippo Cikarang Tbk. Karena permintaan terus meningkat, padahal persediaan minim, harga lahan industri di Jabodetabek sudah melonjak 32,4% year on year (yoy). Kenaikan harga lahan tertinggi ada di Bekasi, sebesar 70% yoy. Kenaikan harga ini bakal berlangsung sampai akhir tahun ini.

BERITA TERKAIT

Batam Butuh Regulasi Pasti

  Oleh: Dr. Enny Sri Hartati Direktur Indef Pertama, kita sering gagal paham. Dulu pak Habibie membangun Batam adalah sebagai…

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…