Kinerja Industri 2013 Bisa Terpuruk

Sektor industri tengah memasuki tahun yang maha berat. Berat, karena sepanjang 2013 ini, dari hulu hingga hilir, sektor ini dikepung problem, baik yang datang dari sisi internal maupun eksternal dunia industri. Tapi yang paling membuat gentar, problem itu begitu besar dan kompleks, seperti gelombang raksasa yang siap melumat kinerja sektor industri sepanjang 2013 ini.

Demam krisis global yang tak kunjung sembuh bisa menjadi salah satu gelombang raksasa yang bakal membuat terpuruk industri nasional. Akibat krisis itu, penyerapan produk industri nasional ke pasar dunia bakal semakin terkoreksi. Nilai ekspor yang telah terbukti turun dari US$ 203 miliar di 2011 menjadi US$ 190 miliar pada 2012 diperkirakan akan lebih terpuruk sepanjang 2013 ini.

Selain menghantam kinerja ekspor, efek berantai dari krisis finansial di Amerika Serikat dan Eropa juga menghantam kinerja investasi, terutama investasi asing. Sejauh ini, penanaman modal masih menjadi penopang utama pertumbuhan industri nasional. Namun, karena pengaruh krisis global, realisasi investasi lebih dari US$30 miliar di 2012 ditaksir menyusut sehingga akan secara langsung mengerem laju pertumbuhan industri.

Faktor eksternal di atas seperti menggenapi derita industri nasional yang di dalam negeri sendiri tengah diselimuti awan yang begitu pekat. Di tahun ular air yang juga tahun politik menjelang Pemilu 2014 ini, kebijakan pemerintah tidak sedikit yang secara langsung maupun tidak menekan dunia usaha. Kenaikan tarif listrik sebesar 15% yang berbarengan dengan kenaikan upah buruh sekitar 20% di 2013 ini membuat dunia bisnis seperti kena bogem mentah dengan telaknya.

Apalagi kedua kebijakan yang merupakan kenyataan dari mimpi buruk pelaku usaha itu masih harus dikawinkan dengan setumpuk masalah klasik yang tak kunjung rampung. Persoalan pasokan gas yang hanya 30% dari total kebutuhan industri adalah masalah menahun yang timbul dari kekeliruan kebijakan eksportasi oleh pemerintah. Perkara buruknya infrastruktur berikut ketidakmerataannya antara di Jawa dan di luar Jawa juga menjadi problem kekal yang mempersulit sektor industri.

Sulit Hadapi AEC

Sementara berbarengan dengan itu, biaya logistik yang masih bertengger di kisaran 25-30% dari total biaya produksi produksi barang dan jasa, biaya siluman yang termasuk pungutan liar di dalamnya sebesar 10%, serta mahalnya ongkos birokrasi kian memperburuk daya saing industri nasional di tahun ini. Di lain pihak, permasalahan buruknya daya saing sektor industri akan mempersulit sektor ini menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) di 2015.

Nah, kendati pertumbuhan industri non migas bisa menyentuh angka 6,4% pada 2012, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,2%, namun dengan segudang problem yang mendera sektor industri, maka prestasi di 2012 itu bakal sulit terulang di 2013. Hal ini pun diprediksi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi. “Krisis global, tingginya biaya energi, dan tingginya biaya logistik diperkirakan membuat pertumbuhan industri stagnan,” ujar Sofjan belum lama ini.

Meskipun demikian, pemerintah mengaku tetap optimis dengan kinerja industri di 2013. Menteri Perindustrian MS Hidayat masih percaya diri industri manufaktur bisa tumbuh sebesar 6,8%. Bahkan pertumbuhannya diperkirakan bisa mencapai 7,1% jika upaya sektor ini bisa digenjot lagi. “Membaiknya segi investasi dan ekspansi akan membuat kinerja sektor industri pada 2013 semakin baik,” jelas mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) tersebut. munib

BERITA TERKAIT

BEI Taksir Indeks Bisa Capai Level 6000 - Peluang IHSG di Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan industri pasar modal tetap terus tumbuh, meskipun dana asing keluar di pasar modal juga cukup…

BEI Taksir Indeks Bisa Capai Level 6000 - Peluang IHSG di Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan industri pasar modal tetap terus tumbuh, meskipun dana asing keluar di pasar modal juga cukup…

Pasar Menaruh Asa Indosat Bisa Raup Untung - Miliki Nahkoda Baru

NERACA Jakarta – Di tengah ketatnya persaingan industri telekomunikasi dan tuntutan membawa performance kinerja keuangan lebih baik atau catatkan untung…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

KSPI Minta Kenaikan UMP 2019 Sebesar 25%

Jakarta-Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) meminta kenaikan Upah Minimum Provinsi tahun depan sebesar 25%. Sementara itu, pemerintah menetapkan besaran kenaikan…

Pengamat: Perubahan Asumsi Kurs Rupiah Realistis

NERACA Jakarta - Pengamat ekonomi sekaligus Rektor Universitas Katolik Atma Jaya, Agustinus Prasetyantoko menilai perubahan asumsi nilai tukar Rupiah dalam…

Diversifikasi Pasar Ekspor Antisipasi Perang Dagang

NERACA Jakarta – Indonesia perlu melakukan berbagai langkah sebagai bentuk antisipasi dari dampak negatif perang dagang antara Amerika serikat dengan…