“Hati-Hati Menghitung Nilai Ekspor” - Statistik Perdagangan

NERACA

Jakarta – Penghitungan neraca perdagangan yang selama ini dilakukan di Indonesia adalah dengan mengurangi nilai ekspor dengan nilai impor. Cara penghitungan yang demikian harus ditelisik lagi lebih dalam. Pertama, karena mayoritas barang yang diekspor adalah barang-barangraw materialyang malahan bisa jadi mematikan industri hilir dari komoditas yang diekspor tersebut. Kedua, eksportir dari barang-barangraw materialtersebut kebanyakan adalah perusahaan-perusahaan asing atau perusahaan nasional yang mayoritas investasinya dari asing.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Indonesia for Global Justice (IGJ) Salamuddin Daeng kepadaNeraca, Senin (7/1).

Daeng memberikan beberapa contoh yang lebih detail. Misalnya untuk mineral. “Kita eksporraw materialuntuk konsentrat ke Jepang lewat Newmont. Yang investasi di Newmont itu Sumitomo (Group) punya Jepang. Sumitomo menguasai 35% struktur kepemilikan saham Newmont. Jadi, kita ekspor konsentrat ke Jepang. Eksportirnya Newmont yang 35% sahamnya dimiliki Jepang,” jelas dia.

Contoh lain adalah batubara, Daeng melanjutkan. Bicara batubara, ada PT Bumi Resources Tbk sebagai perusahaan batubara terbesar di Indonesia. “Tapi coba perhatikan komposisi kepemilikan saham Bumi Resources. Delapan puluh persen itu utang ke asing. Bumi Resources tidak bisa dikatakan sebagai perusahaan nasional karena 80% dari struktur kapital dia itu adalah utang yang itu dari asing,” jelas Daeng.

Kalau ditelisik lebih dalam lagi, sumber utang Bumi Resources adalah China dan Swiss, kata Daeng. “Kita ekspor batu bara ke China. Itu dilakukan oleh Bumi (Resources). Jadi, investasinya dari China, bayar bunga ke China, dan kirim batu baranya ke China juga,” kata dia.

Belum lagi kalau melihat struktur investasi modal awal Bumi Resources. “Modal investasi Bumi itu 51% milik Rothschild, berarti Inggris,” jelas Daeng.

Kelapa Sawit

Komoditas lain yang menjadi sorotan adalah kelapa sawit. Menurut Daeng, 75% perkebunan sawit di Indonesia dikuasai oleh investor asing. “Memang, kita bisa mengetahui bahwa masih kurang dari 50% perusahaan asing, tapi perusahaan-perusahaan asing juga masuk lewat sektor keuangan. Perusahaan-perusahaan CPO Indonesia banyak yang berkantor pusat di Singapura. Jadi saya perkirakan 75% kepemilikan CPO di Indonesia adalah asing,” kata Daeng.

Investasi di CPO dikuasai pengusaha-pengusaha Singapura. “Kita ekspor ke Singapura. Perusahaan-perusahaan CPO Indonesia banyak yang berkantor pusat di Singapura. Jadi sebetulnya pengusaha Singapura sendiri yang melakukan ekspor ke Singapura. Apa yang semacam itu bisa disebut sebagai ekspor Indonesia?” ujar Daeng.

Sebetulnya, kata Daeng, sederhana saja menghitung kualitas ekspor Indonesia, apakah betul dari Indonesia atau milik asing. Pertama, berapa perusahaan sawit yang diakuisisi lewat pasar keuangan. Kedua, berapa utang luar negeri dari perusahaan-perusahaan swasta yang bergerak di sektor sawit. Ketiga, berapa banyak perusahaan-perusahaan sawit yang berkantor di luar negeri.

“Dengan perhitungan demikian, bisa jadi seluruh perusahaan sawit asing semua,” ujar Daeng.

Andaikan neraca perdagangan surplus sekalipun, tetap saja ekspor yang dilakukan Indonesia belum tentu betul-betul dari Indonesia. Apalagi kenyataannya saat ini neraca perdagangan Indonesia defisit.

Untuk diketahui, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), total impor Indonesia dari Januari sampai November 2012 senilai US$ 176,09 miliar, sementara total ekspor US$ 174,76 miliar. Berarti Indonesia defisit sebesar 1,33 US$ miliar.

BERITA TERKAIT

Pasar Ekspor Meningkat - KPAS Tingkatkan Kapasitas Produksi 300%

NERACA Jakarta – Tahun depan, emiten produsen kapas PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) berencana meningkatkan kapasitas produksi sebesar 300% menjadi…

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Mencari Pasar Ekspor Baru Produk Sawit

Sepanjang Oktober 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, antara lain melalui lonjakan permintaan dari China. Ekspor…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bappenas Dorong Pembangunan Papua Berbasis Pendekatan Adat

    NERACA   Jakarta - Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua. Pendekatan…

Devisa Sektor Pariwisata Selalu Meningkat

    NERACA   Jakarta - Devisa dari sektor pariwisata selama empat tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo meningkat 202 miliar…

2019, Belanja Pemerintah Pusat Rp1.634 Triliun

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan belanja pemerintah pusat pada tahun 2019 akan mencapai…