Selamat dari Gelombang Pasar, Emiten Incar Sektor Properti

NERACA

Jakarta-Bertahannya sektor properti di tengah kondisi pasar global yang bergerak fluktuatif, diproyeksikan masih dapat diakumulasi sebagai saham yang layak dikoleksi yang didasarkan pada kondisi fundamental perseroan pada tahun 2013. Tidak heran, jika beberapa emiten tergiur untuk mengembangkan usaha di sektor tersebut guna mendongkrak kinerjanya.

PT Jasa Marga (Persero) Tbk misalnya, sebagai pemain bisnis pengoperasian jalan tol, pihak manajemen secara optimistis akan fokus pada pengembangan usaha di sektor properti. Saat ini pihak manajemen sedang memproses pembentukan anak usaha, Jasa Marga Properti dan telah mengalokasikan dana sebesar Rp5 miliar. Rencananya, perseroan akan membangun rumah-rumah di dekat jalan tol sehingga diharapkan dapat mempermudah akses. “Kami akan membangun rumah-rumah di dekat akses jalan tol, jadi ketika keluar rumah kan bisa langsung ke jalan.” jelas Direktur Utama Jasa Marga Adityawarman.

Untuk mendukung beberapa proyek tol yang sedang dikerjakan pun perseroan akan menerbitkan obligasi pada September 2013 senilai Rp2 triliun, di samping melunasi obligasi yang akan jatuh tempo sekitar Rp1,8 triliun. Hingga kuartal ketiga 2012, perseroan mencatat kenaikan laba periode berjalan sebesar 34,47% menjadi Rp1,25 triliun hingga kuartal ketiga 2012 dari kuartal ketiga 2011 sebesar Rp935,71 miliar. Kenaikan laba bersih diikuti kenaikan pendapatan usaha sebesar 37,94% menjadi Rp5,59 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp4,05 triliun.

Pendapatan tersebut berasal dari kenaikan pendapatan tol menjadi Rp4,07 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp3,50 triliun. Pendapatan konstruksi menjadi Rp1,43 triliun hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp459,65 miliar. Serta pendapatan usaha lain turun menjadi Rp84,02 miliar hingga September 2012 dari kuartal ketiga 2011 sebesar Rp89,20 miliar.

Kenaikan pendapatan perseroan didukung adanya kenaikan tarif jalan tol pada Oktober 2011 sehingga tak ayal perseroan pun memperoleh laba yang cukup signifikan di tahun 2012. Seperti diketahui, tarif sembilan ruas tol pun direncanakan akan kembali naik dengan kisaran 10% pada September 2013.

Selain JSMR, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk juga melakukan hal yang sama. Bahkan untuk memuluskan ekspansi bisnisnya di sektor properti, perseroan bakal menerbitkan obligasi senilai Rp300 miliar. Disebutkan, antara lain Rp100 miliar untuk penyertaan modal kepada ekuitas anak perusahaan dengan kepemlikan sebesar 99,95%, TIJA yang bergerak dalam bidang rekreasi, resor, perdagangan, dan jasa.

Dana yang digunakan untuk mendanai sebagian biaya pembangunan hotel di kawasan Putri Duyung dan penambahan wahana baru di Dunia Fantasi. Sisanya untuk mendanai sebagian biaya pembangunan perumahann Coastavilla yang terletak di Kawasan Ancol Timur.

Dalam rangka penerbitan surat utang ini, perseroan menggunakan buku laporan keuangan Juni. Pada periode tersebut, perseroan mencatatkan peningkatan pendapatan usaha 5,90% menjadi Rp452,564 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp427,370 miliar. Laba komprehensif menurun menjadi Rp64,746 miliar.

Per Desember 2011 pemegang saham perseroan adalah Pemerintah Daerah DKI dengan kepemilikan sebesar 72%, PT Pembangunan Jaya sebesar 18% dan masyarakat sebesar 10%. Terkait pengembangan usaha, pada tahun ini perseroan menyiapkan belanja belanja modal (capital expenditure/capex) senilai Rp974,42 miliar atau meningkat 50,83% dari capex tahun lalu yang sebesar Rp646 miliar. Selain berasal dari kas internal, dana belanja modal ini akan diperoleh perseroan dari pinjaman perbankan.

Pada kuartal ketiga 2012, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 105,17 miliar atau Rp 66 per saham. Angka tersebut menunjukkan kenaikan 3,54% bila dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal ketiga tahun lalu sebesar Rp 101,57 miliar atau Rp 64 per saham. Hal ini disebabkan oleh pendapatan pokok perseroan mengalami kenaikan dari Rp 650,20 miliar pada kuartal ketiga tahun lalu menjadi Rp 717,48 miliar pada kuartal tahun ini. Beban Pokok perseroan mengalami peningkatan dari Rp 306,78 miliar menjadi Rp 345,39 miliar. Beban Usaha perseroan mengalami penurunan dari Rp 156,67 miliar menjadi Rp 147,05 miliar.

BERITA TERKAIT

Momentum Tahun Politik - BBJ Incar Transaksi Tumbuh 15% di 2019

NERACA Jakarta – Momentum tahun politik di 2019, tidak membuat kekhawatiran bisnis perdagangan bursa komoditi ikut lesu. Namun demikian PT…

Naik Bus Keliling Kota, Dukungan Terhadap Presiden Jokowi dari London

Naik Bus Keliling Kota, Dukungan Terhadap Presiden Jokowi dari London NERACA Jakarta - Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf di Sumatera Utara…

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil NERACA Jakarta - Pasar properti nasional pada tahun 2019 mendatang diprediksi bakal…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Optimis Target 7000 Investor Tercapai

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta optimistis mampu meraih target sebanyak 7.000 investor hingga akhir tahun ini seiring dengan berbagai…

Intikeramik Bidik Rights Issue Rp 463,8 Miliar

Cari modal untuk mendanai ekspansi bisnisnya, PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) akan menawarkan sebanyak 3,86 miliar saham baru seri…

Adira Bagikan Hasil Sukuk Rp 7,77 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan pembiayaan kendaraan, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) membagikan hasil sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance…