Restrukturisasi Utang Central Proteinaprima Belum Jelas

NERACA

Jakarta- Terancam dikeluarkan secara paksa dari lantai bursa (force delisting), PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) mengaku akan terus mengupayakan penyelesaian proses restrukturisasi utang anak usaha PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO). Meskipun demikian, sejauh ini pihak manajemen belum dapat menginformasikan terkait perkembangan hal tersebut. “Semua proses terus berjalan. Kalau sudah ada keputusan, pasti kami beritahukan,” jelas Head Coorporate Communication, George Basoeki di Jakarta akhir pekan kemarin.

George mengatakan, pihaknya akan terus mengkomunikasikan kepada otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk mengenai penghapusan saham (delisting) CPRO. Hal tersebut pun bergantung pada perkembangan proses restrukturisasi yang tengah dijalankan perseroan.

Sebelumnya, pihak manajemen perseroan optimistis dapat menyelesaikan proses restrukturisasi utang senilai US$325 juta pada bulan November 2012. Bahkan, Direktur Utama Central Proteinaprima, Mahar Sembiring pun sempat menegaskan bahwa tidak ada rencana alternatif untuk mengantisipasi risiko gagal bayar. Selain proses negosiasi yang berjalan cukup baik dan telah memasuki tahap commercial term dengan pemegang obligasi utama, proses restrukrisasi ini pun diyakini dapat berjalan dengan bersih dan transparan melalui persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada September lalu, sehingga diharapkan bisa selesai pada 2012.

Dalam melakukan restrukturisasi obligasi anak perusahaan ini akan lebih menguntungkan karena menghasilkan perpanjangan jatuh tempo hingga 2020 dan pengenaan suku bunga pinjaman yang lebih rendah. Karena itu, Mahar Sembiring juga menyampaikan optimistisnya dapat melakukan transaksi efek kembali pada November atau Desember 2012 sehubungan penghentian sementara perdagang sahamnya pada papan utama Bursa Efek Indonesia (Main Board).

Namun nyatanya banyak tahapan yang tidak mudah dan harus dilakukan CPRO. Selain meminta persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) untuk menjadikan perusahaan dan anak usaha sebagai jaminan, CPRO juga harus mengajukan pengesahan proposal restrukturisasi obligasi di Pengadilan Singapura. Setelah itu CPRO perlu melakukan pemungutan suara untuk menentukan disetujui tidaknya proposal restrukturisasi.

Asal tahu saja, BEI mencatat, CPRO sebagai salah satu emiten yang terancam dikeluarkan secara paksa (force delisting) bersama 6 emiten lain. Pihak otoritas bursa memberikan batas waktu hingga semester pertama tahun 2013. Untuk CPRO, ancaman force delisting tersebut disebabkan perusahaan yang bergerak di bisnis pertambakan udang tersebut terancam default atas obligasi Blue Ocean Resources Pte Ltd., yang merupakan anak usaha perseroan.

Sementara, hingga semester pertama 2012, perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp3,52 triliun atau mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,62 triliun. Laba kotor naik menjadi Rp449,12 miliar pada semester pertama 2012 dari semester pertama 2011 sebesar Rp350,60 milair. Ekuitas perseroan sebesar Rp59,90 miliar pada semester pertama 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar Rp545,91 miliar.

Adapun kewajiban perseroan Rp6,17 triliun pada semester pertama 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar Rp6,51 triliun. Kas dan setara kas perseroan sebesar Rp127,87 miliar pada 30 Juni 2012 dari 31 Desember 2011 sebesar Rp168,7 miliar. Sementara itu, volume penjualan produk pakan perseroan meningkat menjadi 282.945 metrik ton pada semester pertama 2012 atau naik 25,6% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 244.747 metrik ton. (lia)

BERITA TERKAIT

Panitia Seleksi: Belum Ada Kandidat Isi Posisi Sekjen KPK

Panitia Seleksi: Belum Ada Kandidat Isi Posisi Sekjen KPK NERACA Jakarta - Panitia Seleksi Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Pemberantasan Korupsi…

Bayar Utang, TAXI Jual 1.200 Unit Armada

Setelah menjual aset tanah di Bekasi untuk melunasi utang, kali ini PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) akan menjual 1.200…

Membangun Tanpa Utang - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Membangun infrastruktur tanpa utang menjadi sangat penting karena akan menyehatkan APBN. Indikator APBN yang sehat, dan utang  semakin mengecil. Mengingat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Adira Finance Terkoreksi 28,81%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatatkan laba bersih Rp1,815 triliun atau turun 28,81% dibanding periode…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

MNC Sekuritas Kantungi Mandat Tiga IPO

Keyakinan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bila tahun politik tidak mempengaruhi minat perusahaan untuk go publik, dirasakan betul oleh PT…