Impor Barang Produk Plastik Diproyeksikan Naik 10% di 2013

NERACA

Jakarta - Konsumsi masyarakat Indonesia sangat tinggi sehingga impor berbagai macam produk terkerek naik, tak terkecuali bahan yang berbahan dasar plastik. Tahun ini, volume impor barang jadi plastik seperti terpal, ember, pipa, dan mainan anak-anak diproyeksi naik 10%. Dari 500.000 ton tahun lalu menjadi 550.000 ton pada tahun ini.

Asosiasi Industri Ofelin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) mencatat terdapat 110 jenis barang-jadi-plastik yang masih diimpor terutama dari China. “Seperti mainan anak-anak yang dibuat dengan cetakan dan produk melamin, masih harus impor dari China,” kata Sekretaris Jendral Inaplas Fajar A.D Budiyono di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurut Fajar, kenaikan impor tersebut terjadi seiring dengan konsumsi plastik nasional per kapita tahun ini yang diprediksi naik dari 10,75 kilogram per orang per tahun menjadi 11 kilogram per orang per tahun.

Masih rendahnya konsumsi plastik ini, lanjut Fajar, bisa menjadi peluang bagi pengusaha plastik hilir untuk memperbesar pasar dan meningkatkan pendapatan.

Pada November, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor plastik dan barang dari plastik secara total mengalami penurunan sekitar 5,7% dari US$631,8 juta menjadi US$595,7 juta. Pada periode Januari-November 2012, impor plastik dan barang plastik naik menjadi US$6,43 miliar dari US$6,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tempat berbeda, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto mengungkapkan sampai saat ini kebutuhan bahan baku plastik terus meningkat tajam yang antara lain untuk pembuatan kaca film dan botol air mineral. Secara total kebutuhan bahan baku plastik yang diimpor mencapai Rp US$ 6 miliar per tahun.

“Tantangah yang dihadapi oleh industri kimia yang termasuk didalamnya industri plastik dan karet adalah semakin ketatnya persaingan ekspor terutama di pasar Eropa yang mengalami krisis sejak beberapa tahun terakhir," kata Panggah saat di hubungi Neraca.

Lebih jauh lagi Panggah memaparkan, hal ini tampak pada ekspor prqduk industri termasuk industri kimia pada semester I tahun 2012 yang mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, namun diharapkan bahwa upaya restrukturisasi perekonomian Eropa tidak berlangsung lama agar dapat segera membuka peluang ekspor dari berbagai komoditi industri kimia.

Karena itu, imbuh dia, industri nasionai di tuntut untuk terus meningkatkan daya saing melalui berbagai upaya efisiensi. Untuk itulah, maka kebijakan pernbangunan industri kimia difokuskan pada, penguatan struktur industri kimia mulai dari sektor petrokimia hulu melalui pembangunan nafta cracker maupun refinery yang diintegrasikan dengan hilirnya.

Selanjutnya, beber Panggah, promosi investasi melalui fasilitas pembebasan pajakpenghasilan (tax holiday), keringanan pajak (tax allowance), keringanan bea masuk terhadap barang modal, dan fasilitas bea masuk ditanggung pemerintah.

Salah satu upaya untuk menjawab permasalahan ini adalah melalui pengembangan industri kimia nasionai yang mampu memberikan nilai tambah yang optimal di samping untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat dan selama ini dipenuhi dari impor.

Sejak awal tahun 2000, industri kimia di Indonesia telah berkembang seiring dengan tumbuhnya perekonomian nasionai, dan kini menjadi salah satu pilar pernbangunan industri manufaktur di samping industri otomotif, industri olahan berbasis sumber daya alam.

Pergeseran secara bertahap dari keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif mulai tampak pada upaya-upaya pemanfaatan nilai tambah dari potensi sumber kekayaan berupa minyak dan gas, serta berbagai potensi hasil pertanian guna menghasilkan nilai tambah yang optimal.

Berbagai produk industri kimia seperti ban, keramik, tekstil, kemasan plastik dan cat telah berhasil menembus pasar internasional dan memberikan kontribusi terhadap perolehan duvisii negara.

Industri-industri andalan tersebut diharapkan terus melakukan pengembangan dalam penguasaan pasar maupun kemampuan teknologi yang semakin efisien.

BERITA TERKAIT

BI Perkirakan Anggaran Penerimaan Operasional Naik 7,9%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) memperkirakan anggaran penerimaan operasional meningkat 7,9 persen menjadi RpRp29,1 triliun pada…

LG Perkuat Dominasi Di Pasar Inverter - Luncurkan Produk Baru

      NERACA   Jakarta – PT LG Electronics Indonesia (LG) telah meluncurkan produk terbaru mereka AC LG Dual…

Harga Premium Batal Naik, Pemerintah Malah Dikritik

  Oleh: Fajar Zulfadli S, Mahasiswa FISIP UNJ   Pemerintahan Indonesia era Presiden Joko Widodo cukup menarik perhatian berbagai kalangan.…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Laboratorium Pengujian di Era Disrupsi Teknologi

NERACA Jakarta -  Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), Imam Haryono mengatakan saat ini, pemerintah Indonesia…

Terkait Kemajuan Digital - RI Dapat Topang Asia Jadi Garda Depan Transformasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Implementasi industri 4.0 di kawasan Asia dinilai dapat membangkitkan kontribusi sektor manufaktur dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi bagi…

Ketahanan Pangan Harus Jadi Fokus Pembenahan

NERACA Jakarta – Salah satu hal yang layak untuk diprioritaskan dalam program para calon presiden (capres) dan calon wakil presiden…