Ekonomi Global dan Risiko 2013

Oleh : Prof. Firmanzah PhD

Staf Ahli Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan

Terintegrasinya ekonomi Indonesia dengan perekonomian global membuat kita perlu terus mewaspadai arah dan trend ekonomi global. Kebijakan yang cepat, tepat dan terukur untuk merespon peluang dan tantangan global perlu terus kita lakukan. Beberapa waktu lalu, perekonomian Indonesia relatif berhasil memitigasi dampak negatif krisis sub-prime mortgage dan krisis utang di zona Eropa. Pada 2013, potensi ancaman krisis dunia masih tetap tinggi yang bersumber pada pemulihan krisis di zona Eropa dan pelemahan ekonomi Amerika Serikat akibat program pengetatan belanja publik dan kenaikan pajak.

Efek berantai kedua wilayah ini perlu kita antisipasi terhadap sejumlah kinerja ekonomi nasional terutama di sektor perdagangan dan investasi. Sebenarnya pada 2012, perekonomian nasional telah menerima dampak atas pelemahan ekonomi global.

Secara akumulatif Januari-November 2012, defisit Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) mencapai US$ 1,33 miliar dengan nilai impor mencapai US$ 176,09 miliar dan ekspor sebesar US$ 174,76 miliar. Strategi yang dilakukan seperti diversifikasi negara tujuan ekspor, import-substitution, hilirisasi dan industrialisasi akan terus dilakukan untuk lebih menyeimbangkan ekspor-impor Indonesia pada 2013.

Selain itu juga, perubahan iklim dan cuaca ikut meningkatkan volatilitas harga pangan dunia. Pada beberapa waktu yang lalu, ekonomi Indonesia mendapatkan ujian dari meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan dunia seperti kedelai akibat tidak tercapainya target produksi negara penghasil utama.

Salah satu faktor yang menyebabkan hal ini yaitu kekeringan yang terjadi di Amerika Serikat ditambah dengan aksi borong negara importir untuk mengamankan pasokan dalam negerinya. Risiko akan hal ini masih akan tetap tinggi mengingat unpredictability perubahan iklim dan cuaca pada 2013. Revitalisiasi lembaga stabilitas pangan Indonesia (Bulog) tengah disusun guna meningkatkan ruang gerak dalam mengantisipasi risiko ini.

Dari sisi keseimbangan fiskal dan belajar dari krisis yang terjadi di zona Eropa, maka defisit anggaran dan utang menjadi perhatian kita semua. Pemerintah akan tetap menjaga proporsi defisit/PDB Indonesia tetap kita jaga pada rentan yang aman. Pemerintah dan DPR telah menyepakati defisit anggaran terhadap PDB pada 2013 sebesar 1,65% dan dibawah rule of thumb standar aman sebesar 3%. Sementara rasio utang terhadap PDB berada pada level 25%. Proporsi ini perlu terus kita jaga dan pertahankan untuk menciptakan fundamental ekonomi yang semakin kuat. Sekaligus juga sebagai antisipasi terhadap setiap external-shock kepada kesehatan belanja dan fiskal Indonesia pada 2013.

BERITA TERKAIT

Kenaikan Investasi dan Ekspor Manufaktur Wujudkan Ekonomi Sehat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang memprioritaskan peningkatan investasi dan ekspor guna memperbaiki struktur perekonomian nasional. Dua faktor tersebut, juga menjadi…

Penugasan Khusus dan Relevansi Penghapusan Pajak BUMN

Oleh: Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi Polemik mahalnya tiket pesawat dengan menuding mahalnya harga avtur yang dijual oleh BUMN Pertamina bisa…

Menkop dan UKM: Pariwisata Akar Pengembangan KUMKM

Menkop dan UKM: Pariwisata Akar Pengembangan KUMKM NERACA Garut - Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga menegaskan, bila suatu daerah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Torehan Positif Keuangan Negara

Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economics Universitas Prasetiya Mulya                   Pemerintah mampu menorehkan prestasi gemilang dalam pengelolaan…

Rezim Devisa Bebas, Siapa Menikmati?

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Indonesia dan juga negara-negara lain di dunia pada dasarnya menjadi anggota klub…

Dilema Pengupahan

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tema Rapimnas Kadin Indonesia (26-28 Nov 2018) di…