Rp80 Miliar, Anggaran Promosi Bank Syariah

NERACA

Jakarta - Tahun 2013, Bank Indonesia (BI) sepertinya tidak mau main-main dalam menumbuhkembangkan industri perbankan syariah. Sepertinya mereka mulai sadar kalau perbankan syariah di Indonesia sudah jauh tertinggal, sebut saja, dari Malaysia. Oleh karena itu, guna membuat masyarakat sadar akan keberadaan bank syariah di Indonesia, beriklan menjadi salah satu alternatif yang bisa dilakukan.

Pengamat perbankan syariah Muhammad Syafii Antonio bilang, untuk beriklan, regulator terkait perlu memberikan stimulus dan dorongan nyata dalam hal pendanaan, yang diperkirakan sebesar Rp80 miliar per tahun untuk mensosialisasikan melalui iklan.

Untuk membuat masyarakat sadar akan perbankan syariah, lanjut dia, salah satu cara memperkenalkanya adalah dengan cara beriklan, baik mengiklankan profil bank terkait maupun produknya.

“Kalau di Malaysia, pemerintah yang pertama memberikan subsidi silang untuk mengiklankan bank syariah. Saya juga sudah bilang berulang kali ke BI bahwa idealnya (biaya) itu 4 kali dari yang sekarang. Sekarang kan baru Rp20 miliar. Jadi, kira-kira dibutuhkan Rp80 miliar,” ujar Syafii Antonio di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, biaya beriklan di media massa membutuhkan dana yang tidak sedikit. Dengan demikian perlu ada bantuan pada tahap awal untuk mensosialisasikan perbankan syariah kepada masyarakat. Apalagi, modal bank syariah di Indonesia masih dalam tahap awal bila dibandingkan dengan perbankan konvensional.

“Idealnya itu gabungan. Jadi, regulator yang mengiklankan untuk industri. Nanti setelah industri tumbuh dilanjutkan dengan bank syariah itu sendiri,” jelasnya. Syafii Antonio menambahkan, beriklan yang dilakukan oleh suatu bank syariah akan memunculkan permintaan baru oleh maasyarakat. Pada akhirnya akan meningkatkan penetrasi bank syariah itu sendiri. Namun, sangat disayangkan bahwa dana sosialisasi yang dimiliki BI untuk bank syariah masih terbilang kecil.

Lima aspek

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Perbankan, Halim Alamsyah mengatakan, pihaknya bersiap mengeluarkan kebijakan perbankan syariah dalam lima aspek, termasuk proyeksi pertumbuhan, di 2013 mendatang. Lima aspek ini, kata dia, untuk mendorong dan menjaga kesinambungan pengembangan perbankan syariah di Indonesia.

Kelima aspek itu adalah mengarahkan pembiayaan perbankan syariah kepada sektor ekonomi produktif dan masyarakat yang lebih luas, mengembangkan produk yang lebih memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas dan sektor produktif.

Kemudian pelaksanaan transisi pengawasan yang tetap menjaga kesinambungan pengembangan perbankan syariah, revitalisasi peningkatan sinergi dengan bank induk, serta meningkatkan edukasi dan komunikasi produk perbankan syariah.

Dari kelima aspek itu, terselip pernyataan bahwa BI mempersiapkan infrastruktur guna memperkuat perbankan syariah seperti proses revisi Cetak Biru (Arsitektur) Perbankan Syariah atau APS. Hal itu melanjutkan kebijakan makroprudensial yang sudah dibuat BI pada 2012 ini khusus bagi perbankan syariah, yakni Financing to Value (FTV) dan Down Payment (DP).

Sebelumnya, pedoman untuk pengembangan perbankan syariah untuk lima tahun ke depan, sudah ada. Namun ini masih akan direvisi dan digarap secara bertahap. Cetak Biru Perbankan Syariah yang baru ini nantinya akan berfungsi untuk mendongrak pangsa pasar (market share) mereka di posisi 5%, dari sebelumnya yang hanya 4,4%.

Tak hanya itu saja. Kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan tingkat efisiensi (seperti BOPO atau biaya operasional pendapatan operasional) tidak luput dari ‘mata’ APS tersebut. Terlebih, perbankan syariah sudah diperkuat regulasinya melalui UU No. 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.

Mengenai memproyeksi, pertumbuhan aset industri perbankan syariah dalam kisaran 36%-58% pada 2013, seiring dengan harapan kondisi perekonomian global yang akan membaik, sehingga memberikan lingkungan usaha yang kondusif bagi pertumbuhan industri perbankan nasional.

Sedangkan tahun ini, bank sentral memprediksi pertumbuhan aset perbankan syariah ini masih berada dalam koridor proyeksi pertumbuhan tahun sebelumnya, yakni mencapai kisaran Rp177,8 triliun sampai Rp205,8 triliun pada akhir tahun.

Per Oktober 2012, besaran aset perbankan syariah telah mencapai Rp178,6 triliun, yang terdiri dari aset bank umum syariah dan unit usaha syariah sebesar Rp174,09 triliun, dan Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) sebesar Rp4,46 triliun. [ardi]

BERITA TERKAIT

BANK DKI RAIH TOP IT & TELCO

Direktur Teknologi dan Operasional, Priagung Suprapto (kedua kiri) bersama Pimpinan Divisi Development Teknologi Informasi,Ari Sulistyo (kedua kanan), ketua dewan juri…

Ditopang Apartemen Parkland - Trimitra Propertindo Raup Laba Rp 12,8 Miliar

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2018, emiten properti PT Trimitra Propertido Tbk (LAND) berhasil membukukan laba bersih Rp12,8 miliar atau tumbuh…

Gelar Private Placement - Bank BJB Bidik Dana di Pasar Rp 684,19 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) berencana melakukan aksi korporasi penambahan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bunga KPR Disebut Bakal Naik di 2019

    NERACA   Jakarta - Ekonom Andry Asmoro mengemukakan, kenaikan suku bunga acuan akan semakin meningkatkan potensi kenaikan suku…

Pemerintah Kucurkan KUR Khusus Peternakan

    NERACA   Wonogiri – Pemerintah meluncurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dikhususkan peternakan rakyat. Hal itu sebagai implementasi…

Perang Dagang Mulai Berdampak ke Sektor Finansial

      NERACA   Jakarta – Perang dagang antara China dengan Amerika Serikat (AS) mulai berdampak ke sektor finansial.…