Jelang Akhir Pekan, Rupiah Melemah 37 Poin

NERACA

Jakarta - Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis (3/1), bergerak melemah sebesar 37 poin menjadi Rp9.665 per dolar AS dibanding sebelumnya di posisi Rp9.628 per dolar AS. Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengatakan tercapainya kesepakatan AS guna menghindari jurang fiskal (fiscal cliff) belum mendorong nilai tukar rupiah terangkat terhadap dolar AS.

"Sejumlah analis masih cemas optimisme dapat memudar jika data ekonomi pekan ini mengecewakan," katanya. Dia menambahkan, mata uang dolar AS dan yen sempat melemah setelah pemerintah AS mencapai kesepakatan tepat waktu untuk menghindari kenaikan pajak dan pemangkasan belanja besar-besaran.

Sementara analis Trust Securities, Reza Priyambada menyatakan, pergerakan nilai tukar rupiah melemah setelah pelaku pasar melihat masih adanya ganjalan dalam persoalan jurang fiskal di Negeri Paman Sam itu.

"Masih ada kekhwatiran dari pelaku pasar uang seiring Parlemen AS yang belum menyetujui kenaikan batas atas penerbitan utang AS (debt ceiling) sehingga akan berpengaruh nantinya pada rencana penerbitan obligasi pemerintah AS," kata dia. Selain itu, sambung Reza, data neraca perdagangan Indonesia (NPI) yang masih negatif kembali menjadi penghadang rupiah untuk bergerak menguat meski ada sentimen positif dari naiknya data-data manufaktur di China dan Korea Selatan.

Kendati demikian, lanjut dia, fluktuasi mata uang rupiah terhadap dolar AS masih cukup stabil seiring dengan penjagaan Bank Indonesia (BI). Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia kemarin tercatat mata uang rupiah bergerak menguat nilainya menjadi Rp9.670 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp9.685 per dolar AS.

Sebelumnya, nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal 2013, Rabu (2/1), belum bergerak atau stagnan di posisi Rp9.628 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (2/1) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah nilainya menjadi Rp9.685 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp9.670 per dolar AS.

Pengamat perbankan Lana Soelistianingsih menyatakan justru rupiah mesti menguat di awal 2013 ini. Namun tetap, rupiah masih dijaga BI di level maksimal Rp9.700 per dolar AS agar neraca perdagangan Indonesia lebih baik, yakni mendukung ekspor dan membendung impor. [ardi]

BERITA TERKAIT

BEI Taksir Indeks Bisa Capai Level 6000 - Peluang IHSG di Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan industri pasar modal tetap terus tumbuh, meskipun dana asing keluar di pasar modal juga cukup…

BEI Taksir Indeks Bisa Capai Level 6000 - Peluang IHSG di Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Geliat pertumbuhan industri pasar modal tetap terus tumbuh, meskipun dana asing keluar di pasar modal juga cukup…

Titik Keseimbangan Rupiah Di Posisi Rp15.000

      NERACA   Jakarta - Ekonom Agustinus Prasetyantoko menilai level Rp15.000-an per dolar AS saat ini merupakan titik…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Dorong Penetrasi Asuransi, Insurance Day Digelar di 18 kota

      NERACA   Jakarta - Dewan Asuransi Indonesia (DAI) menyelenggarakan peringatan hari asuransi atau Insurance Day 2018. Perayaan…

Pertumbuhan Kredit Tahun Depan akan Melambat

      NERACA   Jakarta – Kalangan industri perbankan memperkirakan bahwa pertumbuhan kredit pada 2019 akan melambat dari 13…

OJK Ikut Bangun 1.000 Unit Hunian Sementara

    NERACA   Palu - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan industri jasa keuangan siap membangun 1.000 unit hunian sementara…