Industri Ban Bisa Tumbuh 4% - Pasar Tradisional Membaik

NERACA

Jakarta - Beberapa negara tujuan ekspor ban nasional seperti Amerika dan Eropa diprediksi akan membaik sehingga keadaan ini berpengaruh terhadap industri ban nasional. Karena membaiknya pasar tradisional itulah, Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) memprediksi pertumbuhan industri ban nasional pada tahun ini akan mencapai 4%.

"Tahun ini industri ban nasional diproyeksikan tumbuh hingga 4%, meningkat 2% dari realisasi pertumbuhan pada tahun lalu yang mencapai 2%. Membaiknya kondisi ekonomi di Amerika Serikat dan Eropa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja ekspor ban dari Indonesia," kata Ketua APBI, Aziz Pane di Jakarta, Kamis (3/1).

Namun begitu, lanjut Aziz, pada pertengahan tahun ini permintaan ban akan menurun. Hal itu dikarenakan para konsumen telah mengurangi jumlah perjalanannya sehingga mempengaruhi terhadap permintaan. "Tren pelemahan ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pertengahan tahun ini. Untungnya kondisi ekonomi di Amerika Serikat mulai menunjukkan perbaikkan dan bisa memperbaiki kinerja ekspor ban nasional," paparnya.

Sebelumnya, Ia juga mengatakan akibat krisis ekonomi Uni Eropa, dan AS, telah mempengaruhi sejumlah ekspor pasar kawasan andalan perusahaan ban Tanah Air. "Cina, India, dan Jepang sebagai pasar andalan pengusaha juga terpengaruh krisis global. Akibatnya permintaan dari negara-negara itu juga menurun," katanya.

Menurut catatan APBI, volume ekspor ban sepanjang Januari - Juli mencapai 19,6 juta unit atau turun Sembilan persen dari total sebelumnya yang mencapai 21,5 juta unit. Dalam penilaiannya, kawasan Uni Eropa menjadi wilayah dengan penurunan permintaan terbesar. Apalagi ekspor ban diluar negeri berkontribusi sebesar 80% terhadap total penjualan. Hal ini semakin membuat industri ban dalam negeri kelimpungan.

Azis menilai masa-masa seperti ini adalah masa sulit. Permasalahan buruh dan regulasi pemerintah mengenai energi juga menuntut pengusaha melakukan efisiensi. Dia menambahkan, dengan segala permasalahan mendatang, biaya produksi industri ban Indonesia meningkat mencapai empat persen. Lebih jauh Azis menyampaikan, pertumbuhan sektor industri di paruh kedua tahun ini hanya lima persen. Hasil itu didapat dari kontribusi penjualan di dalam negeri. "Kami lakukan penggenjotan di pasar dalam negeri sehingga industri ban juga tetap mengalami pertumbuhan," katanya.

Sedangkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Anshari Bukhari mengatakan, perbaikkan ekonomi di negeri paman sam harus dimanfaatkan oleh industri di dalam negeri yang berorientasi ekspor seperti ban. "Kondisi ekonomi di Amerika Serikat yang sudah mulai membaik tentu jadi kabar bagus untuk eksportir dari Indonesia," ujarnya.

Pada tahun lalu, Amerika Serikat mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 2,1%. Sementara pada tahun 2011 mereka hanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 1,7%. Hal ini tentu bisa jadi kabar baik karena berdasarkan data Kemenperin, hingga kuartal ketiga 2012 ekpor industri sektor pengolahan karet termasuk ban mencatatkan penurunan signifikan hingga 25,7% dibandingkan periode yang sama pada 2011.

Persaingan Sengit

Persaingan pasar ban nasional akan semakin ketat lantaran banyak produsen ban Internasional seperti Hankook dan Pirelli yang menyerbu pasar ban domestik. Hankook bahkan telah membangun pabrik di Indonesia. General Manager Marketing PT. Gajah Tunggal Arijanto Notorahardjo mengatakan pesaingan ban akan semakin sengit di Indonesia dan perusahaan akan terus meluncurkan produk-produk ban yang berkualitas dan bernilai tinggi dengan harga yang kompetitif. "Serbuan produsen ban asing akan membuat pasar ban semakin atraktif dan harga akan semakin kompetitif," katanya.

Arijanto mengatakan pasar ban Indonesia menjadi magnet perusahaan-perusahaan ban asing lantaran penjualan mobil Indonesia terus meningkat dan pertumbuhan industri otomotif Indonesia semakin besar. Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil Indonesia mencapai angka 894.164 unit pada tahun lalu. Gaikindo menargetkan angka penjualan mobil tahun ini tembus satu juta unit. Saat ini PT. Gajah Tunggal menguasai pangsa pasar sekitar 26% setelah Bridgestone di urutan pertama dan Michelin di urutan kedua. Perusahaan memproduksi 45 ribu unit ban setiap harinya dan 15.5 juta ban pertahun.

Sekedar informasi paling kurang, tiga prinsipal ban dunia dan satu perusahaan gabungan lokal Indonesia berkomitmen segera malakukan investasi di Indonesia dengan total nilai 2,22 miliar dollar AS atau Rp 20,8 triliun pada semester pertama tahun ini. Rincian investasi yang dikucurkan adalah dari Hankook Tire (Korea) yang memasuki tahap pertama membangun pabrik ban mobil di Cikarang dengan nilai US$ 353 juta. JK Tyres – prinsipal ban asal India – berniat mengakuisisi PT Mega Rubber di Jawa Tengah dengan aliran dana US$ 250 juta

Selanjutnya, Pirelli Tire SpA (Italia) bermitra dengan PT Astra International Tbk segera membangun pabrik ban sepeda motor senilai US$ 120 juta di Bekasi, Jawa Barat pada tahun ini. Tak ketinggalan, PT Karet Unggul Nusantara, perusahaan gabungan dari beberapa BUMN yakni PT Perkebunan Nusantara III (PT PN-III), PT PN-IX, PT PN-VII, PT PN-VIII dan PT PN-XII menyiapkan investasi US$ 400 juta untuk membangun pabrik ban sepeda motor berkapasitas 14 juta ban per tahun di Kawasan Industri Kujang, Cikampek, Jawa Barat.

Kondisi tersebut adalah gambaran industri komponen Indonesia menyambut pertumbuhan industri dan bisnis otomotif nasional ke penjualan satu juta unit. Sayang, kondisi di pertengahan bulan ini, juga muncul rintangan baru, pembatasan DP minimum 30%.

BERITA TERKAIT

Industri Sawit Bertahan

Industri kelapa sawit di Indonesia sudah sejak lama menarik reaksi negatif di dalam negeri karena dianggap merusak lingkungan. Hilangnya habitat…

Mencari Pasar Ekspor Baru Produk Sawit

Sepanjang Oktober 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, antara lain melalui lonjakan permintaan dari China. Ekspor…

Reksadana Pendapatan Tetap Tumbuh 2,80%

NERACA Jakarta – Performance kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap sepanjang bulan November kemarin masih positif. Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Sektor Riil - Komplek Petrokimia Senilai US$3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor…

Kemenperin Gandeng IMIP Gelar Diklat 3 in 1 Industri Logam

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sepakat menjalin kerja sama dalam upaya mencetak tenaga…