HPP Kedelai Tak Dapat Insentif Fiskal

NERACA

Jakarta - Berlarut-larutnya penetapan harga pembelian pemerintah (HPP) untuk komoditas kedelai karena tidak adanya dukungan fiskal. Pemerintah tidak mau mengalokasikan anggaran untuk menopang kebijakan HPP kedelai. Untuk melanjutkan kebijakan tersebut, Kementerian Perdagangan akan menggunakan instrumen perdagangan.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, di Jakarta, Kamis (3/1), mengatakan, semula HPP kedelai akan menggunakan instrumen anggaran. Namun, karena tidak ada persetujuan dari Kementerian Keuangan, kebijakan tersebut menggunakan instrumen perdagangan. “Kita akan gunakan dana keuntungan yang ada di Bulog sehingga jangkauannya tidak akan sebanyak jika menggunakan instrumen anggaran,” kata Gita.

Dia mengatakan, pembahasan yang cukup alot terkait sumber dana untuk menopang HPP membuat penetapannya berlangsung lama. Kebijakan tersebut telah digelontorkan sejak bulan Agustus 2012. Bulan Januari ini mudah-mudahan bisa selesai dan bisa dilaksanakan, katanya.

Sementara itu di tempat berbeda, Menteri Pertanian Suswono berharap pemerintah segera menetapkan kebijakan HPP untuk produk kedelai. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong peningkatan areal pertanaman dan produksi kedelai. "Diperlukan kebijakan yang dapat menjamin harga kedelai yang menguntungkan bagi petani. Salah satu caranya adalah dengan penerapan kebijakan HPP," kata Suswono.

Suswono mengatakan, menurunnya produktivitas kedelai nasional dikarenakan harga jual kedelai tidak menguntungkan bagi petani. Akibatnya pengembangan usaha tani kedelai pun menjadi terhambat. Selain itu, usaha tani pada umumnya juga kalah bersaing dengan tanaman padi, tebu dan jagung.

"Dengan melihat kondisi saat ini. Untuk mencapai target produksi kedelai tahun 2013 sebesar 1,50 juta ton diperlukan luas areal tanam kedelai 1,02 juta hektar dan luas panen sekitar 970 ribu hektar. Dengan produktivitas minimal 1,55 juta ton per hektar," ujar Suswono.

Terkait persoalan tersebut menurutnya ada empat peluang yang diambil pemerintah untuk bisa meningkatkan produksi kedelai. Adanya HPP kedelai yang menzjamin terserapnya kedelai oleh pemerintah/bulog.

Optimalisasi Produksi

Penambahan areal kedelai sekitar 500 ribu hektar melalui optimasi lahan terlantar dan pemenfaatan lahan Perum Perhutani. Bantuan subsidi benih secara optimal sehingga harga eceran tertinggi benih kedelai menjadi 24%. Fasilitasi pemerintah untuk pengembangan kedelai seluas 665 ribu hektar.

Ketua Hubungan Antar Lembaga Dewan Kedelai Nasional Muchlisin mengungkapkan berdasarkan data Ke­menterian Pertanian (Ke mentan), produksi kedelai tahun depan akan mengalami defisit 1,5 juta ton. Produksi nasional hanya mampu mencapai 783.000 ton, sisanya impor. “Kita tagih janji Menteri Per dagangan (Mendag) yang akan mengeluarkan HPP untuk ke delai,” tegas Muchlisin .

Dia menyayangkan, lambatnya kinerja Kemendag mengeluarkan kebijakan HPP kedelai. Padahal, dulu dijanjikan HPP akan keluar setelah Lebaran dan sebelum musim panen tiba. Tapi kenya taan nya hingga musim panen raya kedelai selesai, HPP belum juga keluar.

Muchlisin mengklaim sudah bolak-balik menanyakan soal nasib HPP kedelai ke Kemendag. Namun, kementerian itu selalu beralasan sedang dibahas dan menghitung subsidi. Padahal keputusan petani kedelai dengan perajin tahu tempe sudah sepakat HPP di angka Rp 7.000 per ki logram (kg).

Menurutnya, HPP sangat di tung gu petani untuk mem berikan kepastian harga kedelai. Apalagi saat ini harganya terus turun yang menyebabkan petani tidak mau menanam kedelai lagi. “Jangan sampai gara-gara pe merintah lambat mengeluarkan HPP, banyak petani yang alih profesi. Ini akan mengancam pro duksi dan menyebabkan ke langkaan seperti yang terjadi per­tengahan tahun,” tegasnya.

BERITA TERKAIT

BIROKRASI KURANG RAMAH HAMBAT INVESTASI - Istana Tak Terobsesi Kejar Pertumbuhan Tinggi

Jakarta-Istana Kepresidenan menyatakan pemerintah tak terobsesi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi selangit di tengah situasi ekonomi global yang sedang melambat seperti…

Masih Banyak Perusahaan Publik Tak Peduli HAM - Studi FIHRRST

      NERACA   Jakarta - The Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST), salah satu organisasi masyarakat…

RUU Pertanahan Tak Sejalan dengan Pemikiran dan Kebijakan Presiden Jokowi

RUU Pertanahan Tak Sejalan dengan Pemikiran dan Kebijakan Presiden Jokowi NERACA Jakarta - Pemerntah dan DPR diingatkan untuk tidak memaksakan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Internasional - Pemerintah Diminta Lobi China Guna Tingkatkan Ekspor Nasional

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir menginginkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dapat melobi pemerintah…

Kadin Berharap Investasi yang Masuk Berorientasi Ekspor

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap investasi yang masuk ke Indonesia merupakan investasi yang berorientasi ekspor…

Petani Cabai Diminta Antisipasi Panen Raya dan Harga Anjlok

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian meminta kepada petani cabai supaya mengantisipasi datangnya panen raya yang akan menjatuhkan harga cabai, salah…