RBS Proyeksikan Kredit Korporasi Meningkat di 2013

NERACA

Jakarta – Royal Bank of Scotland (RBS) memproyeksikan pada tahun 2013 ini kredit korporasi perbankan akan meningkat. Bank ini melihat masih ada ruang untuk penyaluran kredit yang lebih mendalam.

“Ini disebabkan pada saat ini Indonesia sudah diberikan rating investment grade oleh dua dari tiga perusahaan pemeringkatan. Kemudian itu akan dialokasikan kepada pembangunan jalan, pelabuhan, dan water supply,” kata Enrico Tanuwidjaja, Chief Economist RBS, dalam siaran persnya beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan bahwa pengeluaran anggaran untuk infrastruktur akan bisa menarik FDI lebih banyak. “BKPM sudah mengindikasikan bahwa FDI di 2013 bisa mencapai 33% lebih tinggi daripada di 2012,” ujarnya.

RBS optimis bahwa 2013, yang merupakan tahun sebelum Pemilu 2014, adalah tahun di mana masih akan banyak sisi yang belum tersentuh investasi terutama di infrastruktur publik dan pasar pekerja.

“Apa yang kita lihat di 2012, secara keseluruhan mungkin tidak akan terjadi lagi di 2013, tapi mengingat track record Indonesia dalam reformasi ekonomi, maka kami masih melihat resiko implementasi sebagai yang utama,” jelasnya.

RBS juga memprediksikan pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi di 2013, khususnya dengan kenaikan upah minimum regional (UMR) yang diterapkan pertama kali di Jakarta dulu kemudian menyebar ke daerah lain. “Ini akan mendukung pengeluaran konsumen,” imbuhnya.

Kemudian, secara garis besar RBS memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 6,3% di 2013, yang mana lebih tinggi dari proyeksi mereka yang sebesar 6,2% di 2012. “Pertumbuhan ini masih akan didorong oleh permintaan domestik yang bisa mencapai 80%-90%,” tuturnya.

Kemudian, inflasi diperkirakan akan sama seperti tahun lalu, apalagi dengan tidak jadinya peningkatan harga BBM. “Jadi kami perkirakan rata-rata inflasi masih di bawah 5%, tepatnya 4,6%, dan depresiasi Rupiah tidak terlalu menyebabkan inflasi di tahun 2013,” katanya.

Di 2013, neraca perdagangan, khususnya ekspor juga menjadi baik. Dalam arti ekspor akan meningkat seiring dengan ekonomi Cina yang sudah mulai pulih. “Tapi ini tidak terlalu pengaruh karena Indonesia masih lebih didukung konsumsi domestik,” tutupnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Obligasi Korporasi Ditaksir Bakal Tumbuh 10%

NERACA Jakarta – Tren penerbitan surat utang korporasi masih tumbuh positif. Menurut lembaga pemeringkat surat utang, Fitch Ratings Indonesia memperkirakan…

Ekspansif Gelar Aksi Korporasi - Sarana Menara Pacu Pertumbuhan Harga Saham

NERACA Jakarta –Mampu mencetak pencapaian positif kinerja keuangan di 2018 kemarin, serta ekspansif dengan mengakuisisi beberapa perusahaan menara mendorong volume…

Pemkot Sukabumi Menunda Bantuan Modal Bagi Pelaku Usaha di Bank BPR - Walikota: UMKM Bisa Memanfaatkan Kredit Anyelir dan Program Mesra

Pemkot Sukabumi Menunda Bantuan Modal Bagi Pelaku Usaha di Bank BPR Walikota: UMKM Bisa Memanfaatkan Kredit Anyelir dan Program Mesra…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…

Pemerintah Terbitkan Sukuk US$ 2 miliar

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk wakalah global senilai dua…