NPI Negatif, Rupiah Tak Bergerak

NERACA

Jakarta - Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal 2013, Rabu (2/1), belum bergerak atau stagnan di posisi Rp9.628 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada, Rabu (2/1) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah nilainya menjadi Rp9.685 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp9.670 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah yang diperdagangkan cenderung bergerak dalam kisaran sempit meski dari eksternal dikabarkan ada kesepakatan penanganan fiscal cliff AS," kata analis Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, laju inflasi dalam negeri pada Desember 2012 yang tercatat sebesar 0,54% juga dinilai positif pelaku pasar uang di dalam negeri. Namun, lanjut Reza, neraca perdagangan Indonesia (NPI) yang diperkirakan masih negatif untuk bulan November dan Desember 2012 masih menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Masih defisitnya neraca perdagangan membuat rupiah dalam kondisi yang tertekan. Kebutuhan dolar AS masih cukup tinggi seiring dengan impor yang masih cukup kuat," paparnya. Kendati demikian, lanjut dia, fluktuasi mata uang rupiah terhadap dolar AS masih terjaga seiring dengan penjagaan Bank Indonesia (BI).

Sedangkan Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra menambahkan, pasca kabar dari resolusi fiskal AS yang positif akan mendorong nilai tukar berisiko bergerak menguat ke depannya. "AS dikabarkan menyetujui beberapa klausul yang bisa menghindarkan AS dari fiscal cliff. Kondisi itu akan membuat minat beli aset berisiko kembali merebak sehingga mata uang rupiah dapat terdorong," kata dia.

Di tempat terpisah, pengamat perbankan Lana Soelistianingsih menyatakan justru rupiah mesti menguat di awal 2013 ini. Namun tetap, rupiah masih dijaga BI di level maksimal Rp9.700 per dolar AS agar neraca perdagangan Indonesia lebih baik, yakni mendukung ekspor dan membendung impor.

Pada 28 Desember 2012, rupiah sempat menguat sebesar 30 poin atau Rp9.655 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya senilai Rp9.685 per dolar AS, di tengah sentimen negatif eksternal yang masih membayangi.

"Nilai tukar rupiah menguat meski terbatas pada akhir pekan ini dikarenakan sentimen negatif eksternal yang masih membayangi," kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara Rully Nova di Jakarta, pekan lalu.

Dia mengatakan, data neraca perdagangan Indonesia yang masih tercatat defisit menjadi salah satu faktor penguatan nilai tukar rupiah tertahan. Namun lanjut Rully, peran aktif bank sentral melakukan intervensi terhadap rupiah menjadi salah satu faktor yang mendorong nilai tukar domestik meningkat terhadap dolar AS. [ardi]

BERITA TERKAIT

Tepat Pemerintah, Atasi Dampak Negatif Kenaikan Tarif Pesawat

  Oleh : Abdul Aziz, Pengamat Jasa Transportasi   Sekarang, banyak sekali sektor yang bergantung pada dunia penerbangan, sebut saja…

MRT Dinilai Tak Pengaruhi Pasar Otomotif

    NERACA   Jakarta - Pasar otomotif di wilayah Jakarta dan sekitarnya dinilai tidak akan terpengaruh dengan kehadiran Moda…

Impor Beras Karena Data Permintaan dan Pasokan Tak Valid

NERACA Jakarta – Impor pangan terutama beras disebut masih terjadi karena data yang dimiliki pemerintah tidak valid mengenai ketersediaan dan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Holding BPR Bisa Terjadi

      NERACA   Padang – Pemerintah sedang gencar untuk menyatukan perusahaan-perusahaan BUMN yang satu lini bisnis. Seperti misalnya…

Suku Bunga Acuan Ditahan

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) untuk keempat-kalinya secara berturut-turut mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse…

BI Jamin Longgarkan Likuiditas dan Kebijakan Makroprudensial

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menjamin kondisi likuiditas yang longgar bagi perbankan dan akan memberikan stimulus…