Harga Komoditas Melorot, Picu Minimnya Pelaksanaan IPO di 2013

NERACA

Jakarta- Ditahun ular ini menjadi tantangan berat bagi emiten resources. Pasalnya, harga komoditas di tahun 2013 diproyeksikan masih mengalami penurunan secara drastis, khususnya dari sektor pertambangan dan Crude Palm Oil (CPO) yang berlangsung di tahun 2012.

Kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, penurunan harga komoditas yang terjadi tahun lalu bakal mengganjal beberapa emiten yang berniat melakukan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di lantai bursa pada 2013,”Apabila harga komoditas tidak banyak berubah, kemungkinan sektor pertambangan maupun perkebunan masih akan menunda pelaksanaan IPO sampai harga berkembang bagus,”katanya di Jakarta, Rabu (2/1).

Pihaknya mencatat, turunnya harga komoditas tersebut menyebabkan sektor perkebunan yang menunda IPO pada tahun 2012. Karena itu, di tahun ini pun pihaknya pesimistis kedua sektor tersebut dapat meramaikan pasar bursa.

Menurut dia, pengaruh kondisi pasar tersebut menyebabkan perusahaan yang mencatatkan sahamnya (listing) khususnya di sektor pertambangan memperkecil jumlah saham yang ditawarkan kepada publik. “Tahun lalu ada yang listing tapi jumlah saham diperkecil karena kurang bagus harga batubaranya.” ujarnya.

Terkait target penambahan jumlah emiten sebanyak 30 emiten atau lebih besar dibanding tahun lalu, pihaknya punya alasan tersendiri sehingga optimistis dapat mencapai target tersebut. “Sudah kita antisipasi, tahun 2012 memang hanya mencapai 23 emiten, itu karena di akhir tahun ada 3 perusahaan yang baru mendapatkan lisensi jadi tidak bisa listing di Desember.” jelasnya.

Padahal, kata dia, yang efektif di Bapepam LK dapat melampaui target atau sebanyak 26 emiten. Selain menambah jumlah emiten pihaknya juga menargetkan jumlah transaksi harian di bursa saham dapat mencapai Rp 5,5 triliun di 2013, atau lebih besar dibanding tahun 2012 yang hanya sebesar Rp 4,59 triliun.

Dia menambahkan, pada tahun ini pihaknya memperkirakan bursa efek Indonesia akan bersaing ketat dengan bursa efek di regional, khususnya bursa efek Thailand dan Filipina. Hal tersebut dilihat dari pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut. Sementara untuk perkembangan Indonesia secara umum, lanjut dia, juga akan ditentukan oleh adanya pengaruh kebijakan fiscall cliff di Amerika Serikat (AS). Pasalnya, kata dia, bursa AS memiliki pengaruh terhadap perkembangan bursa di dunia.

Minim IPO

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan, pihaknya sangat menyayangkan masih minimnya perusahaan yang melakukan IPO. Karena itu, pertambahan jumlah emiten di tahun 2013 menjadi salah satu fokus utama OJK yang mulai efektif bekerja di awal tahun ini. “Ini akan menjadi perhatian kita. Karena dengan bangsa sebesar ini, emiten cuma sekitar 400-an, saya kira terlalu kecil,” jelasnya.

Untuk meningkatkan jumlah emiten tersebut, lanjut dia, OJK akan melakukan dua pendekatan, yaitu dengan meningkatkan jumlah investor dengan melanjutkan kegiatan sosialisasi komunikasi mengenai pasar modal kepada seluruh masyarakat, termasuk dunia usaha.

Selain itu, OJK juga akan mengupayakan pendekatan dan bertemu dengan beberapa pihak yang diharapkan dapat mendorong jumlah emiten agar lebih banyak. Salah satunya dengan pihak Dirjen Pajak terkait meningkatkan partisipasi kelompok usaha menengah ke atas.

Dia menambahkan, tidak ada angka yang ideal berapa banyak jumlah emiten yang mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Namun, OJK juga akan mendorong agar jumlah pembiayaan melalui pasar modal dapat lebih meningkat dari perbankan sehingga investasi di Indonesia pun dapat berkembang. (lia)

BERITA TERKAIT

Mega Perintis Patok IPO Rp 298 Per Saham

NERACA Jakarta – Perusahaan ritel fashion modern, PT Mega Perintis Tbk menetapkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public…

Strategi Mengantisipasi Penurunan Harga Sawit

Oleh: Subagyo Selama 50 tahun terakhir hampir semua komoditas pertanian mengalami penurunan harga, rata-rata turun satu persen per tahun. Salah…

PT Bintang Energi Lestari Bangun Kota Baru di Daerah Lebak, Harga Rumah Mulai Rp 136 Jutaan

NERACA Jakarta - Pengembang properti PT Bintang Energi Lestari tengah mengembangkan kota baru di daerah Maja, Lebak, Banten dengan nama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Saham Renuka Coalindo Masuk UMA

Perdagangan saham PT Renuka Coalindo Tbk (SQMI) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami kenaikan harga saham…

Pemda Jateng Tunda Rilis Obligasi Daerah

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak melanjutkan rencana penerbitan obligasi daerah seniai Rp1,2 triliun. Padahal, proses penerbitan obligasi tersebut telah mendapat…

BATA Bagi Dividen Interim Rp 8,71 Persaham

PT Sepatu Bata Tbk (BATA) akan membagikan dividen interim untuk tahu buku 2018 sejumlah Rp 8,71 per saham atau semuanya…