Kenaikan Tarif Listrik dan UMP Pukul Laba Emiten

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintah menaikkan tarif listrik tahun ini, tidak hanya memicu peningkatan inflasi dan dampak bagi sektor riil. Namun juga industri pasar modal dalam pencapaian laba bersih emiten di pasar modal.

Kata Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, kenaikan tarif listrik dan upah minimum provinsi (UMP) dapat mempengaruhi kiner emiten, “Tentunya ini akan mengurangi laba bersih secara umum,”ujarnya di Jakarta, Rabu (2/1).

Oleh karena itu, dia mengharapkan perusahaan di Indonesia dapat meningkatkan kinerjanya sehingga pedapatan emiten dapat lebih tinggi dibanding pencapaian sebelumnya menyusul kenaikan TTL dan UMP.

Ito juga menilai emiten sektor pertambangan dan perkebunan masih akan terkena dampak negatif menyusul harga komoditas dunia yang mengalami tekanan, “Pada 2013 sektor batubara diperkirakan masih akan terkena dampak negatif dari harga komoditas dunia yang melemah,"ungkapnya.

Alhasil, tahun 2012 lalu, perusahaan sektor pertambangan yang melakukan pelaksanaan penawaran umum saham perdana (IPO) juga terkena dampaknya dengan mengurangi jumlah saham yang dicatatkan di BEI, “Perusahaan sektor pertambangan yang mencatatkan saham di BEI pada 2012 jumlah sahamnya yang ditawarkan diperkecil karena harga batu bara kurang bagus," tandasnya.

Selain itu, dampak dari penurunan harga komoditas dunia juga memicu perusahaan sektor perkebunan yang menunda pelaksanaan IPO-nya. Karena itu, lanjut Ito, jika ditahun 2013 kalau harga komoditas tidak banyak berubah, barangkali sektor pertambangan dan perkebunan akan menunda IPO sampai harga berkembang bagus.

Kendatipun demikian, Ito masih menyakini kenaikan tarif listrik dan UMP tidak akan berpengaruh pada investor asing di bursa saham Indonesia. Pasalnya, investor asing lebih melihat kinerja keuangan emiten dan kebijakan jurang fiskal di Amerika Serikat,, “Selama kinerja emiten masih bagus, investor asing masih berdatangan ke Indonesia,”tegasnya.

Menurutnya, jika pertumbuhan ekonomi Amerika terdorong lebih baik, tentunya pasar modal Amerika akan berkembang dan tumbuh. Kondisi ini akan memberikan sentimen positif bagi pertumbuhan pasar modal di dunia. (bani)

BERITA TERKAIT

Apresiasi Pelaksanaan GCG Terbaik - IICD Rilis Top 50 Emiten Big Cap dan Mid Cap

NERACA Jakarta - Indonesian Institute for Corporate Directorship (IICD) tahun ini kembali mengadakan CG Conference & Award yang ke 10,…

Jumlah IPO Melebihi Target - Ironis Emiten Masih Kapitalisai Pasar Kecil

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun 2018, antrian perusahaan yang go public masih banyak. Berdasarkan data dari PT Bursa Efek…

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif - Sukabumi Harus Bangun KEK dan Menjadi Destinasi Wisata

Caleg DPR RI A. Bagus Pekik : Kerjasama Daerah Antar Kota dan Kabupaten Sukabumi Sangat Positif Sukabumi Harus Bangun KEK…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Industri di Papua Berpeluang Go Public

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura berupaya mendorong pelaku industri di Papua untuk mengakses permodalan dari pasar modal untuk…

Restrukturisasi TAXI Disetujui Investor

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang obligasi (RUPO) PT Express Trasindo Utama Tbk (TAXI), para pemegang obligasi akhirnya menyetujui paket restrukturisasi…

Bidik Generasi Milenial - Chubb Life Luncurkan Platform Digital

NERACA Jakarta – Penetrasi pasar asuransi di Indonesia, PT Chubb Life Insurance Indonesia (Chubb Life) meluncurkan platform online bernama Chubb…