Budidaya Rumput Laut Akan Jadi Kegiatan Wisata

NERACA

Jakarta - Sebagai wadah bagi pengusaha Indonesia yang bergerak dalam pengembangan budidaya, perdagangan dan ekspor serta pengolahan rumput laut yang bertujuan membina dan mengembangkan kemampuan, kegiatan dan kepentingan pelaku usaha rumput laut di Indonesia, maka Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) bersama-sama Kelompok Tani Rumput Laut Bali sebagai para pelaku usaha yang melakukan pembibitan dan pembudidayaan rumput laut di Bali dan akan mengembangkan pemasaran rumput laut yang lebih luas dalam jumlah yang lebih besar dengan kualitas standard dengan memanfaatkan kemampuan dan networking ARLI.

“Kerjasama pemasaran termasuk pengembangan dan pembinaan ini sebagai bagian dan upaya untuk menjadikan rumput laut sebagai salah satu sumber mata pencaharian utama penduduk Desa KUTUH, Kabupaten Badung. Diharapkan rumput laut Kutuh yang memiliki potensi dan kualitas sangat baik bisa terus ditingkatkan di masa yang akan datang,” kata Ketua Umum ARLI Safari Aziz dalam keterangan tertulisnya, Rabu (2/1).

Menurut dia, pengembangan dan pemanfaatan rumput laut yang memberikan banyak manfaat, mulai dari penciptaan lapangan kerja untuk masyarakat yang tinggal di daerah pantai, merupakan bahan baku dari berbagai indutri pangan, farmasi, kesehatan, kosmetik, pupuk cair dan berbagai prospek lainnya menjadikan rumput laut sebagai salah satu komoditi ”Blue Ekonomi” di Indonesia yang digagas oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo

“Terlebih lagi bahwa Indonesia dipercaya sebagai penyelenggara ISS (International Seaweed Symposium) ke 21 dengan tema ”Seaweed Science for SustanableProsperity” dari International Seaweed Association (ISA) yang akan dilaksanakan tanggal 21 – 26 April 2013 dimana Bali khususnya Nusa Dua sebagai daerah yang pertama membudidayakan rumput laut di Indonesia, seharusnya semakin menambah semangat kita (Indonesia) sebagai salah satu produsen rumput laut Euchemacottonii terbesar dunia untuk tetap mengembangkan dan melestarikan apa yang ada di Desa KUTUH, Kuta Selatan ini,” tambahnya.

Safari juga menjelaskan, sebagai catatan saja bahwa ISS ini baru pertama kali dilaksanakan di Indonesia setelah 60 tahun kegiatan ini dilakukan di dunia. Sebagai salah satu komoditi dalam mendukung visi ”Blue Economy” maka walaupun komoditi ini berada ditengah gencarnya aktivitas pariwisata di pulau Dewata ini, akan tetapi komoditi rumput laut yang mulai dikembangkan sekitar 30 tahun lalu menjadi salah satu penopang hidup masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dan pulau pulau tidak mesti kalah atau tergusur karena sesungguhnya dapat dilakukan sebuah sinergi antara komoditi rumput laut untuk mendukung sektor pariwisata.

“Tentunya sinergi ini dapat dilakukan dan bisa dibangun dengan dimulainya sebuah gagasan Minawisata atau Fishery Ecotourism yang menjadikan aktivitas budidaya rumput laut sebagai kegiatan wisata. Proses kehidupan masyarakat pembudidaya rumput laut dalam kesehariannya menjadi kekayaan wisata yang unik dan ditata sedemikian rupa sehingga tidak dianggap sebagai bidang yang bertentangan atau saling mengeliminasi tetapi menjadi sebuah kesatuan utuh yang saling menguntungkan,” lanjutnya.

Di sinilah, lanjutnya, Safari mengharapkan peran besar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk menggandeng bidang usaha ini sebagai salah satu kekhasan lokal Desa Kutuh yang harus dipertahankan dan dilestarikan untuk dioleh sedemikian rupa menjadi bagian terintegrasi dari kegiatan pariwisata.

BERITA TERKAIT

Likuefaksi di Palu Bakal Dijadikan Tempat Wisata

Salah seorang anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Matindas J Rumambi mengatakan semua lokasi likuefaksi di Kota Palu dan Kabupaten…

Demi 18 Juta Wisman, Kemenpar Bakal Perbanyak Diskon Wisata

Menteri Pariwisata Arief Yahya optimis bisa mendatangkan setidaknya 18 juta wisatawan mancanegara (wisman) tahun ini, atau sekitar 90 persen dari…

2019, Smesco Akan Tingkatkan Layanan Pemasaran KUKM

2019, Smesco Akan Tingkatkan Layanan Pemasaran KUKM NERACA Jakarta - Dirut Lembaga Layanan Pemasaran (LLP) KUKM Emilia Suhaimi mengatakan, tahun…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Sistem 3 in 1 Ditargetkan Jaring 72.000 Peserta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus menggelar program pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1 (Pelatihan, Sertifikasi, dan…

Sektor Pengolahan - Penyerapan Tenaga Kerja Industri Manufaktur Terus Meningkat

NERACA Jakarta – Industri manufaktur terus menyerap tenaga kerja dalam negeri seiring adanya peningkatan investasi atau ekspansi. Ini menjadi salah…

Kompetensi SDM Industri Logam Bakal Diperkokoh

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mengajak pelaku industri di Indonesia terlibat dalam program pendidikan dan pelatihan vokasi. Langkah ini…