Inflasi 2012 di Bawah Target APBN - Terendah dalam Tiga Tahun Terakhir

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi pada 2012 sebesar 4,3%, jauh lebih rendah dari target asumsi makro pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 yaitu sebesar 6,8%.

Pada Desember 2012, pemerintah mencatat laju inflasi sebesar 0,54%, lebih tinggi ketimbang November 2012 sebesar 0,07%.

“Inflasi tahunan ini juga terendah selama tiga tahun terakhir, di mana pada 2011 inflasi sebesar 7,39% dan 2010 sebesar 6,96%,” ujar Kepala BPS Suryamin di kantornya, Rabu (2/1).

Menurut Suryamin, inflasi Desember 2012 ini dikontribusi oleh beras sebesar 0,3%, ikan segar 0,22%, emas perhiasan 0,2%, rokok kretek filter 0,19%, tarif angkatan udara 0,19%, daging sapi 0,17%, gula pasir 0,15%, tarif sewa rumah 0,15%, bawang putih 0,14% dan tarif kontrak rumah 0,13%.

Sementara terhadap sektornya, bahan makanan mengalami inflasi (year on year) 5,68%, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 6,11%, perumahan, air, listrik 3,35%, sandang 4,67%, transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 2,2%.

Dampak Kenaikan TDL

Secara terpisah, pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam memperkirakan, kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per Januari 2013 akan memicu inflasi sekitar 0,2 hingga 0,3%.

Menurut dia, dampak inflasi itu akan mulai terasa sejak awal tahun 2013. Terlebih karena kenaikan TDL bukanlah satu-satunya faktor yang mendorong biaya produksi yang meningkat. "Persoalan upah buruh yang naik serta penurunan nilai tukar rupiah juga mendorong naiknya harga jual barang dan jasa, memicu naiknya inflasi," ujarnya.

Latif mengungkapkan, meski sebagian perusahaan akan mengulur waktu penangguhan kenaikan harga produk sebagai dampak kenaikan TDL, ada faktor lain yang juga mendorong kenaikan harga jual yang memicu inflasi. Dia menuturkan, kenaikan upah minimum provinsi yang hampir sebesar 44% sudah cukup membebani perusahaan sehingga mereka mau tidak mau harus menaikkan harga jual barang atau jasa.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indef Enny Sri Hartati memproyeksikan, kontribusi kenaikan TDL akan menyumbang inflasi hingga 0,5%. Efeknya terbilang masih kecil karena kontribusi TDL hanya 10% atas ongkos produksi. “Namun, proyeksi itu belum memperhitungkan ekspektasi yang berlebihan dari masyarakat atas kenaikan tarif listrik. Itu sebabnya, inflasi akibat kenaikan tarif listrik tidak sampai 0,5%," kata Enny.

Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS, Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, untuk awal 2013 dengan melihat gejala naiknya kuota Bahan Bakar Minyak (BBM), kenaikan harga listrik, impor daging, dan upah buruh, BPS memperkirakan inflasi dapat dikendalikan.

Menurut dia, upah buruh pun dapat berkontribusi terhadap inflasi jika dilihat dari belanja dan konsumsi buruh. BPS melihat kenaikan upah buruh terhadap inflasi tidak semata dilihat dari perubahan tingkat upah. "Kalau upah buruh tidak naik, tapi pola belanjanya tinggi ya sama saja. Kalau misalnya banyak yang beli emas, ya emas yang naik," ujarnya.

BERITA TERKAIT

Target Swasembada Pangan Tak Didukung Lahan

      NERACA   Jakarta - Target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah sulit untuk dicapai. Salah satu penyebabnya adalah…

MUN Ikut Konsorsium Tol Dalam Kota Bandung - Bersama WIKA dan Summarecon

NERACA Jakarta - PT Nusantara Infrastructure Tbk (META) lewat anak usahanya PT Margautama Nusantara (MUN) bersama PT Wijaya Karya (Persero)…

Harga Premium Tidak Naik untuk Jaga Daya Beli dan Inflasi

NERACA Jakarta -- Presiden Jokowi menegaskan,  harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Premium tidak mengalami kenaikan. Pasalnya, presiden khawatir kenaikan harga…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Meski Rupiah Melemah, Subsidi BBM Tak Berubah

      NERACA   Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar masih dikisaran Rp15.200 yang mana nilai tersebut jauh…

KawanLama Pasarkan Brankas Sentry Safe

  NERACA   Jakarta – PT Kawan Lama Inovasi telah memasarkan produk brankas yaitu Sentry Safe di Indonesia. Produk brankas…

Taiwan Ajak Pembeli dari Indonesia - Gelar Pameran AMPA 2019

      NERACA   Jakarta – Pameran otomotif dan suku cadang asal Taiwan akan digelar pada 24-28 April 2019…