Masih Menarikkah Investasi di Indonesia?

Jakarta – Sepanjang akhir 2012, aksi demo kaum buruh nyaris seolah tidak berhenti. Tuntutan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) di beberapa kota di Indonesia dikabulkan oleh pemerintah setempat. Besarannya bervariasi. Yang tertinggi adalah di DKI Jakarta yang menjadi Rp. 2,2 juta.

Kubu pengusaha merasa keberatan dengan kenaikan tersebut. Mereka mengklaim bahwa kenaikan itu akan membuat bisnis mereka terganggu. Di sisi lain, kaum buruh menuntut agar pengusaha tidak terlalu besar mengambil untung dari keringat mereka. Mereka mencontohkan, jika selama ini pengusaha memperoleh marjin keuntungan 5%, dengan kenaikan upah itu, keuntungan memang tergerus. Tapi itu bukan berarti pengusaha menjadi merugi.

Kendati begitu, masalah tidak berhenti sampai di situ. Kenaikan UMP itu tidak lantas membuat buruh puas. Menurut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, tahun ini akan ada 8-10 aksi besar yang dimulai dari pertengahan Januari. Iqbal mengancam akan menurunkan lebih dari 30.000 buruh se-Jabodetabek. Aksi besar ini dilakukan serempak, bersama-sama atau berturut-turut di Indonesia.

Tuntutan mereka adalah tahun ini UMP dinaikkan lagi menjadi Rp 3 juta. Mereka beralasan, angka itu wajar karena negara lain dengan pendapatan per kapita sama dengan Indonesia telah menerapkannya. Mereka mencontohkan Thailand yang sudah menaikkan upah menjadi Rp 2,7 juta, sementara Filipina Rp 2,5 juta.

Belum puas juga. Buruh ingin ada kenaikan upah sebesar 30% setiap tahunnya hingga 2015 nanti. Pada 2015, upah harus dinaikkan 100% sehingga UMP Jakarta yang sekarang Rp 2,2 juta menjadi Rp 4,4 juta atau Rp 5 juta.

Wajar jika Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) berang. Sekretaris Umum Apindo Suryadi Sasmita mengatakan, pengusaha yang selama ini menjadi penyumbang terbesar dalam penerimaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merasa dimatikan lewat aturan UMP. Itu saja baru dari kenaikan yang ditetapkan pada akhir 2012.

Suryadi menegaskan, kalangan pengusaha yang membayar pajak lewat Pajak Penghasilan (PPh), terbesar dari pajak-pajak lainnya, merasa menjadi sapi perah.

Ancaman Berbagai Kenaikan

Kenaikan upah buruh itu baru satu macam ancaman yang akan mengganjal pertumbuhan industri tahun ini, yang pada akhirnya akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi. Dengan berbagai kenaikan harga yang terjadi tahun ini, ancaman kenaikan inflasi sudah menghadang di pelupuk mata.

Pemerintah sudah menetapkan model kenaikan tarif dasar listrik (TDL) per 1 Januari 2013 yaitu dengan cara bertahap setiap 3 bulan sekali di kisaran 3,75-4,3% hingga mencapai total kenaikan 15%. Sementara itu, harga gas untuk sektor industri telah dinaikkan per 1 September 2012. Kenaikan lainnya adalah pada tarif tol. Tahun ini, pemerintah berencana menaikkan tarif 15 ruas jalan tol dengan rata-rata kenaikan tarif Rp500-2.500. Yang masih tarik ulur adalah rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sarat dengan muatan politis.

Dengan berbagai kenaikan tersebut, masih menarikkah investasi di Indonesia? Selama ini, investasi asing masuk ke Indonesia karena tertarik dengan upah buruh yang murah. Ketika buruh memberontak demi peningkatan kesejahteraan, bahkan dengan menyodorkan angka-angka yang rasanya makin tidak realistis, bagaimana nasib sektor industri?

Jika kondisi ini terus berlarut-larut, apa yang dikhawatirkan berbagai pihak akan melemahnya daya saing investasi Indonesia akan menjadi kenyataan. Padahal, selama ini investasi dan konsumsi domestik menjadi kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kalau investasi sudah tidak menarik, apa bisa Indonesia hanya mengandalkan sektor konsumsi? Belum lagi, konsumsi di dalam negeri ini masih banyak yang mengandalkan impor. Jadi, banyak-banyaklah berdoa, mudah-mudahan pertumbuhan masih tetap positif. Tidak usah 6,8%. Sama dengan 2012 juga sudah sangat bagus. (cundoko)

BERITA TERKAIT

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata - Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018 NERACA  Depok - ‎Pemerintah Kota (Pemkot) Depok setelah berhasil…

Masalah Fintech, LBH dan OJK Masih Deadlock

      NERACA   Jakarta - Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta belum…

MASALAH KEPATUHAN WP DIPERTANYAKAN - Kontribusi Pajak Orang Kaya Masih Minim

Jakarta-Pengamat perpajakan menilai, meski nilai harta orang terkaya di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan data majalah Forbes…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

AKIBAT KINERJA EKSPOR MENURUN - BPS: Defisit NPI Kian Meningkat US$7,52 Miliar

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungungkapkan, neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 masih mengalami defisit US$2,05 miliar, lebih besar jika dibandingkan…

Kepentingan Politik Hambat Ketahanan Energi

NERACA Jakarta – Ketahanan energi yang dicita-citakan diyakini tidak akan tercapai jika pengelolaannya masih dipengaruhi berbagai kepentingan politik. Hal itu…

MASALAH KEPATUHAN WP DIPERTANYAKAN - Kontribusi Pajak Orang Kaya Masih Minim

Jakarta-Pengamat perpajakan menilai, meski nilai harta orang terkaya di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan data majalah Forbes…