Pertumbuhan Rentan Ketidakstabilan

Di tengah ancaman krisis ekonomi global yang tidak menentu, kita melihat masih ada paradoks ekonomi nasional yang mungkin saja bisa terjadi pada 2013. Artinya, pertumbuhan ekonomi masih tergolong cu­kup tinggi saat ini, kesenjangan pendapatan antar­kelompok masyarakat dan antarwilayah terlihat masih cukup tinggi. Laju inflasi pun cenderung me­ningkat karena faktor peningkatan tarif dasar listrik (TDL), ancaman PHK karena peningkatan upah yang akan makin kuat, sedangkan upaya peningkatan efisiensi sangat lambat.

Indikasi ancaman peningkatan inflasi antara lain disebabkan adanya kenaikan TDL rata-rata 15%, upah minimum provinsi (UMP) meningkat 40% serta kenaikan tarif tol di 14 rual jalan bebas hambatan. Sementara harga minyak internasional sampai November 2012 sudah melewati US$106 per barel. Dua jenis komoditas energi (listrik dan BBM) selalu rawan menjadi pemicu inflasi jika harganya dinaikkan. Opsi perlakuan terhadap dua komoditas itu pun terbatas; menambah subsidi atau menaikkan harga, bermuara sama, yakni kelesuan ekonomi walau berbeda jalur.

Bagaimanapun, menaikkan harga BBM adalah opsi yang selalu mengundang kontroversi dan respon yang cenderung politis, yang mungkin dihindari oleh partai politik menjelang Pemilu 2014. Sementara menambah subsidi, selain mengurangi kemampuan menciptakan kapasitas produktif juga bisa meningkatkan rasio defisit, yang juga meningkatkan risiko jangka panjang perekonomian. Contoh kasus Yunani merupakan fenomena konkret akibat beban defisit fiskal.

Selain itu, sejumlah indikator makro, fenomena internasional, dan agenda fiskal menjadikan ekonomi Indonesia 2013 rentan dan tidak sehat. Penerimaan PPN pertambangan pada 15 Des. 2012 tercatat Rp 3,67 triliun, lebih rendah dibanding periode yang sama 2011 Rp 5,79 triliun, atau turun 36,7%. Hal yang sama juga terlihat penurunan penerimaan Pph pertambangan dari Rp 63,07 triliun (2011) menjadi Rp 53,31 triliun (2012). Ini akibat kinerja ekspor produk tambang Indonesia melemah karena menurunnya permintaan dari luar negeri.

Tidak hanya itu. Sejumlah lembaga internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2013 lebih tinggi dari 2012. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan bisa 6,5%, IMF memperkirakan 6,3%. Tetapi perkiraan pertumbuhan yang lebih tinggi itu tidak secara otomatis menghapuskan sejumlah kerentanan yang setiap saat bisa terjadi di negeri ini.

Pada tahun lalu ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh lebih rendah dibanding tahun 2011. Sampai triwulan III-2012, pertumbuhan ekonomi diper­kirakan 6,29%, lebih rendah dari 2011 sebesar 6,46 %. Pola pertumbuhannya pun tak banyak beru­bah, konsumsi rumah tangga se­dikit menurun dari 55,6% (2011) menjadi 54,9% (2012), sementara investasi sedikit naik dari 24,4% menjadi 24,9%.

Ekspor kita memang lebih banyak ko­moditas tradisional seperti tekstil, minyak sawit, dan karet olahan pada industri manufaktur, dan batu bara yang menjadi primadona untuk komoditas pertambangan. Meski bukan hal baru, harus diingat bahwa ekspor kita terancam tidak sustainable dalam jangka panjang.

Ekonomi Indonesia yang diperkirakan tumbuh sekitar 6,3%, tidak jauh berbeda dari 2012 dengan angka 6,29 %, kondisi tersebut tetap rentan terhadap berbagai pemicu yang dapat mendorong guncangan ketidakstabilan baik dari dalam maupun luar negeri.

Apalagi ditambah situasi eksternal berupa kecenderungan nilai rupiah melemah pada akhir 2012, dan peningkatan konsumsi pemerintah untuk pesta Pemilu 2014, tingkat inflasi 2013 diperkirakan akan lebih tinggi, kecuali otoritas moneter mampu mengendalikan jumlah uang beredar. Bank Indonesia (BI) kini harus berpikir keras untuk menurunkan suku bunga industri perbankan jika kebijakan yang cenderung mendo­rong inflasi dari sisi penawaran berpotensi membuat ketidakstabilan perekonomian nasional pada tahun ini.

BERITA TERKAIT

Peran Penting Perbankan dalam Pertumbuhan Ekonomi Daerah

    NERACA   Gorontalo - Bupati Bone Bolango, Hamim Pou mengatakan kehadiran perbankan berperan penting mendorong pertumbuhan ekonomi di…

Ramayana Menaruh Asa Peluang di Natal - Kejar Pertumbuhan Penjualan

NERACA Jakarta – Sampai dengan September 2018, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang cukup apik…

IMF: Pertumbuhan Ekonomi RI Bisa Naik 1% - PERANG DAGANG AS-CHINA BAKAL PANGKAS EKONOMI GLOBAL 1%

Jakarta-Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund-IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa meningkat sekitar 1% dalam jangka menengah, dari posisi saat…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Praktik Suap di Birokrasi

Praktik suap di kalangan birokrasi kembali menjadi sorotan masyarakat. Kini giliran kasus suap yang menyeret Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin,…

Utang untuk Kegiatan Produktif

Berita tentang semakin membengkaknya utang negara membuat rakyat khawatir dan resah. Belakangan ini berbagai pendapat mengenai permasalahan ini santer diperbincangkan.…

Inkonsistensi Kebijakan Strategis

Ketika menteri ESDM Ignasius Jonan mengumumkan harga BBM untuk premium (bersubsidi) akan dinaikkan dari Rp 6.550 menjadi Rp 7.000 per…