Hulu-Hilir Industri Rumput Laut Makin Diperkuat

NERACA

Jakarta - Sebagai salah satu dari empat komoditas unggulan di dalam industrialisasi perikanan budidaya, rumput laut memiliki potensi yang begitu besar untuk terus dikembangkan. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan usaha budidaya rumput laut secara terintegrasi mulai dari hulu (up stream) sampai hilir (down stream) dengan memperhatikan pilar-pilar pengembangan blue economy. Demikian dikatakan Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo seperti dukutip dari keterangan tertulisnya yang dikutip Neraca, Selasa (1/1).

Sharif menjelaskan, industrialisasi rumput laut dilaksanakan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kualitas produksi budidaya rumput laut. Hal itu ditujukan untuk dapat memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan, meningkatkan pendapatan pembudidaya, menyediakan lapangan kerja serta merevitalisasi usaha budidaya rumput laut baik skala mikro, kecil maupun menengah secara berkelanjutan.

Peningkatan produktivitas dan nilai tambah pada komoditas rumput laut akan meningkatkan pendapatan para pelaku usaha di sektor tersebut. Sementara pengembangan usaha budidaya rumput laut yang merujuk pada pilar-pilar pengembangan blue economy berperan penting dalam melipatgandakan pendapatan (revenue), dengan penyerapan tenaga kerja yang tinggi dan tidak merusak lingkungan (zero waste).

Maka dari itu, inovasi dan kreativitas termasuk didalamnya diversifikasi produk, sistem produksi, pemanfaatan teknologi, financial engineering menjadi kunci dalam mengolah limbah suatu kegiatan menjadi bahan baku produk lainnya. Pasalnya sebagai bahan baku, rumput laut memiliki lebih dari 500 end product. Artinya, rumput laut sebagai bahan baku penggunaannya luas dan banyak dibutuhkan oleh industri baik pangan maupun non pangan.

Untuk industri, rumput laut bisa berperan sebagai pengenyal, pengemulsi, pengental, dan penjernih. Blue economy diartikan sebagai sebuah model ekonomi baru untuk mendorong pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dengan kerangka pikir seperti cara kerja ekosistem. Cara pandang ekonomi tersebut merupakan suatu model bisnis yang mampu meningkatkan nilai tambah dari komoditas rumput laut.

Langkah tersebut ditempuh untuk meningkatkan penerimaan negara dan masyarakat sekitar lokasi budidaya rumput laut melalui upaya peningkatan nilai tambah komoditas rumput laut. Lantaran, permintaan akan produk olahan rumput laut yang terus meningkat mesti dibarengi dengan ketersediaan bahan baku rumput laut. Sebagai informasi, produksi perikanan budidaya 2011 mencapai 7.928.962 ton. Capaian tersebut telah melebihi target produksi yang telah ditetapkan sebesar 6.847.500 ton.

Adapun dari produksi 2011 tersebut, produksi rumput laut merupakan yang terbesar dibandingkan dengan komoditas lainnya. Bahkan dapat dikatakan produksi rumput laut setiap tahunnya menyumbangkan sekitar 2/3 dari total produksi perikanan budidaya yaitu sebesar 5.170.201 atau sebesar 65,2%. Bahkan, Indonesia memiliki 45% spesies rumput laut dunia dan merupakan produsen terbesar rumput laut jenis cottonii. Sementara pada 2012, KKP menargetkan produksi perikanan budidaya akan mencapai 9.42 juta ton atau dapat dikatakan meningkat 35% jika dibandingkan dengan produksi tahun 2011.

KKP menyatakan komitmennya untuk mewujudkan keberlanjutan usaha budidaya rumput laut agar terus meningkat sesuai dengan peningkatan dari target produksi yang telah ditetapkan. Pada 2014 ditargetkan produksi rumput laut basah mencapai 1.182.159 ton diatas lahan seluas 19.703 Ha. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bagi industri, ditargetkan mencapai 118.000 ton. Di samping itu, sampai dengan akhir tahun 2014 pula, kegiatan usaha budidaya rumput laut yang padat karya, diperkirakan dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 650.188 orang serta tercapainya peningkatan nilai tambah komoditas rumput laut Rp 550 miliar dengan nilai produksi sebesar Rp. 1.063,94 miliar. Hal ini dimungkinkan karena teknologi budidaya yang sederhana, modal usaha yang sedikit dan masa pemeliharaan yang pendek adalah diantara alasan berkembangnya kegiatan budidaya rumput laut dikalangan masyarakat pesisir.

Untuk memacu kegiatan usaha di perikanan budidaya, KKP terus menyalurkan program bantuan Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP). Sepanjang 2012, KKP telah menyalurkan bantuan langsung masyarakat seperti bantuan Program Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) sebanyak 3.600 paket untuk 3.600 Kelompok Pembudidaya Ikan (pokdakan) yang terdiri atas 40 ribu pembudidaya ikan dengan total anggaran sebesar Rp234 miliar, paket model usaha berbasis kelompok masyarakat sebanyak 146 paket senilai Rp. 10,95 miliar serta bantuan modal usaha untuk wirausaha pemula perikanan budidaya terdidik untuk 100 orang pembudidaya dengan anggaran sebanyak Rp. 460 juta.

BERITA TERKAIT

Rampungkan Right Issue - Keuangan Lippo Karawaci Makin Kokoh

NERACA Jakarta - Perusahaan real estate, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) merampungkan penawaran umum saham terbatas (right issue) senilai Rp…

Dunia Usaha - RUU Desain Industri Dorong Daya Saing dan Akomodir Teknologi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan daya saing industri di Indonesia agar mampu kompetitif baik di lingkup pasar…

Catatkan Penjualan Lahan 25,3 Hektar - DMAS Masih Mengandalkan Kawasan Industri

NERACA Jakarta – Kejar target penjualan, PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS) masih fokus mengembangkan kawasan industri. Apalagi, perseroan menerima permintaan lahan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Investasi Industri Padat Karya Terus Didorong

  NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan, pemerintah baru-baru ini mengeluarkan kebijakan insentif pajak terbaru berupa mini tax…

AMMDes Pengumpan Ambulans Jadi ‘Pilot Project’ di Banten

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong pemanfaatan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (AMMDes) di seluruh daerah Indonesia. Upaya ini selaras…

Pembajakan Masih Jadi Masalah Pemilik Kekayaan Intelektual

NERACA Jakarta – Mentor program Katapel milik Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Mochtar Sarman mengatakan pembajakan menjadi masalah yang kerap kali…