Industri Rasakan Dampak Kenaikan TDL di Kuartal II

NERACA

Jakarta – Pemerintah telah sepakat untuk menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebesar 15% per 1 Januari 2013. Namun begitu, Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin) menilai dampaknya akan baru terasa pada kuartal ke II tahun 2013.

“Kalau sekarang belum terlihat dampaknya, hal itu sangat berpengaruh dan akan kelihatan di kuartal kedua 2013 sekitar bulan Juni efek kenaikan TDL dan upah,” kata Wakil Ketua Umum Bidang Industri, Riset, dan Teknologi Kadin, Bambang Sujagad, di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, saat ini proyek yang dijalankan di sektor industri merupakan pesanan lama yang diambil pada 2012. Dia mengatakan kenaikan TDL itu menyebabkan meningkatnya biaya produksi sebesar 5%, belum termasuk efek dari kenaikan upah buruh. Kondisi itu menurut dia akan menyebabkan menurunnya daya saing produk industri lokal dibandingkan produk impor.

Dia mengatakan pada 2013 akan dibanjiri produk impor karena daya saingnya lebih unggul dibandingkan produk dalam negeri. "Produk impor tidak dipengaruhi kenaikan TDL dan upah, sehingga harganya lebih murah dan bersaing. Lalu produk kita dijual dengan harga tinggi tidak laku, tapi ongkos produksi meningkat," ujarnya.

Menurut dia, dampak paling besar yang mungkin terjadi nanti adalah pemutusan hubungan kerja oleh pengusaha untuk menekan biaya produksi. Hal itu lanjut dia akan berdampak pada menurunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Daya Saing Anjlok

Tak hanya itu, kenaikan TDL juga berpotensi menurunkan daya saing produk Indonesia. Hal ini dikarenakan harga produk lokal akan mengalami kenaikan sedangkan produk impor justru lebih murah. "Kenaikan TDL akan menaikkan harga jual produk kami, itu yang akan menurunkan daya saing produk lokal dibandingkan produk impor yang lebih kompetitif, terutama dalam pasar global," kata Ketua Umum Asosiasi Pemilik Merek Lokal Indonesia (Amin) Putri K. Wardani.

Menurut dia, pihaknya menolak kebijakan pemerintah tersebut karena akan berdampak pada pengusaha dalam skala besar dan kecil. Putri mengatakan bahwa dampak terburuk dari kebijakan tersebut adalah banyak pengusaha yang bangkrut karena tingginya biaya produksi yang mereka tanggung. Dia mengatakan, selama ini, subsidi energi sebesar 50% diberikan pada sektor konsumtif, yaitu untuk daya 450 volt ampere (va) dan 900 va.

Menurut dia, jumlah itu tidak besar dengan biaya yang dikeluarkan pengusaha jika TDL dinaikkan untuk sektor produksi. "Harga TDL tidak naik di sektor konsumtif, tetapi naik 15% di sektor produktif, ini akan menimbulkan inflasi dan akhirnya masyarakat yang dirugikan," katanya. Dia mencontohkan industri kosmetik. Dampak kebijakan tersebut akan menaikkan biaya produksi 15--30%. Hal itu akan berpengaruh terhadap kenaikan harga jual produk tersebut. "Sebenarnya kami tidak ingin menaikkan harga jual, tetapi kami juga tidak ingin rugi," katanya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Franky Sibarani mengharapkan pemerintah memberikan dukungan bagi pengusaha lokal ditengah persaingan global karena dalam Undang-Undang APBN 2013 disebutkan keputusan pemberian subsidi energi ada pada pemerintah. "Oleh karena itu, kami dari Forum Komunikasi Asosiasi Nasional menolak kenaikan TDL pada tahun 2013," kata Franky.

Menurut dia, total subsidi pemerintah bagi konsumsi listrik sektor konsumtif dengan daya 450 va dan 900 va masing-masing Rp20,8 triliun dan Rp18,4 triliun per tahun, sedangkan subsidi untuk sektor industri lebih kecil dibanding sektor konsumtif. "Selama ini, sektor produktif menyubsidi sektor konsumsi. Di berbagai negara, sebaliknya," katanya.

Industri Terjepit

Sementara itu, Pengamat ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latif Adam mengatakan bahwa dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL) dapat membuat industri terjepit. "Di satu sisi, kenaikan TDL akan membuat biaya produksi meningkat sehingga harga jual menjadi naik, tetapi di sisi lain juga ada dampak menurunnya daya beli masyarakat," kata Latif.

Lebih lanjut Latif menjelaskan, kenaikan TDL yang rencananya mulai diberlakukan 2013 akan menyebabkan "cost-push inflation" atau inflasi yang disebabkan oleh naiknya biaya produksi. Dengan adanya kenaikan biaya produksi, tidak ada pilihan lain yang bisa diambil pelaku industri selain menaikkan harga jual produk atau jasa mereka. "Sehingga, kenaikan itu juga akan membuat daya saing produk kita terhadap barang impor menurun," tambah Latif.

Daya saing produk lokal yang menurun, secara berkelanjutan juga akan berimbas pada menurunnya daya beli masyarakat. "Kenaikan TDL juga mau tidak mau akan berdampak pada daya beli rumah tangga yang mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat," jelasnya.

Dengan kondisi terjepit seperti itu, Latif berharap Pemerintah bisa segera turun tangan mengatasi dampak kenaikan TDL, terutama dari segi peningkatan kualitas untuk meningkatkan daya saing perusahaan lokal. "Intinya adalah bagaimana Pemerintah memberikan perlindungan agar dunia usaha bisa terus meningkatkan daya saing sehingga tidak kalah dengan produk impor," ujarnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik, pekan lalu, mengumumkan kenaikan tarif dasar listrik secara bertahap sebesar 4,3% tiap kali kenaikan per triwulan mulai 1 Januari 2013. Namun kenaikan itu tidak berlaku untuk pelanggan listrik 450 watt dan 900 watt. Menurut Wacik, langkah itu merupakan bentuk subsidi silang yang dilakukan untuk masyarakat kelas bawah yang banyak menggunakan listrik dengan daya 450 watt dan 900 watt. Kenaikan itu diharapkan bisa menghemat subsidi listrik sebesar Rp14 triliun serta meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia.

BERITA TERKAIT

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Dunia Usaha - Industri Hijau Bisa Masuk Bagian Program Digitalisasi Ekonomi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus mendorong sektor industri manufaktur di Indonesia agar semakin meningkatkan kegiatan yang terkait…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…