Prospek Pasar Modal 2013

Oleh: Dr. Agus S. Irfani Lektor Kepala FE Univ. Pancasila

Fakta empirik menunjukkan bahwa pasang surutnya pasar modal Indonesia selama lima tahun terakhir ini sangat dipengaruhi oleh pergerakan bursa regional dan bursa global. Hal ini antara lain disebabkan oleh masih terlalu besarnya ketergantungan bursa lokal terhadap peran investor asing yang selama lima tahun terakhir ini tidak kurang dari 66%.

Meski pada pekan terakhir perdagangan di penghujung tahun 2012 indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat terbatas secara beturut-turut dan diakhiri dengan penguatan 34.826 poin (0,81%) ke level 4,316.69 (28/12), namun ketidakmampuan IHSG mencapai target level 4.500 di akhir tahun 2012 mengindikasikan masih kurang optimalnya kinerja pasar modal Indonesia.

Selain disumbang oleh push factor berupa ketidakpastian perekonomian dunia, lesunya bursa domestik, juga disumbang oleh pull factor berupa keengganan calon emiten merealisasikan rencana initial publik offering (IPO) di tahun lalu. Dari 34 calon emiten yang mendaftar IPO 2012, hanya terealisasi 22 emiten dengan fund raising yang hanya mencapai Rp9,59 triliun. Hal ini berarti kinerja BEI merosot selama tiga tahun terakhir, baik dalam jumlah emiten yang IPO maupun dalam nilai fund raising-nya. Jumlah IPO tahun 2010 mencapai 23 emiten dengan nilai perolehan dana Rp29,68 triliun dan Tahun 2011 terdapat 25 emiten yang IPO dengan nilai fund raising Rp19,53 triliun. Kemerosotan kinerja IPO ini antara lain dikarenakan oleh tidak adanya emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau emiten lain yang berkapitalisasi besar dan ditambah lagi batalnya rencana IPO dari 11 calon emiten yang diduga terlalu pesimis terhadap prospek pasar. Untuk memompakan darah segar sebagai penggerak kinerja bursa di tahun 2013 ini diharapkan ada sejumlah BUMN yang melakukan IPO.Peran emiten BUMN di pasar domestik diperlukan sebagai stabilisator dan sekaligus sebagai agent of development pasar modal domestik dalam menghadapi imbas memburuknya ekonomi global. Kondisi perekonomian global dan regional di tahun 2013 ini diprediksi masih belum kondusif. Sinyal dari Amerika Serikat (AS) yang akan menerapkan kebijakan penanggulangan “fiscal cliff” (jurang fiskal) di awal bulan ini memungkinkan Presiden Barrrack Obama memangkas anggaran dan menaikkan pajak orang-orang kaya di AS. Berdasarkan data yang ada, pemotongan anggaran itu akan mencapai US$700–900 miliar untuk beberapa tahun. Jika hal ini sampai terjadi maka akan memukul negara-negara yang selama ini perekonomiannya sangat tergantung pada pasar AS. Kebijakan AS tersebut juga berpotensi melumpuhkan perekonomian AS dan dunia. Lebih jauh, kebijakan fiscal cliff diduga akan berdampak pada terpukulnya indeks di bursa AS, Jepang, Hong Kong, Korea, Singapura, dan negara lainnya, termasuk Bursa Efek Indonesia (BEI). Perlu diwaspadai pula adanya prediksi perlambatan perekonomian regional di tahun 2013. Kondisi ini disikapi oleh India dengan menurunkan target pertumbuhan ekonominya dari 8,2% menjadi 8%. China dikabarkan juga menurunkan target pertumbuhan 2013 dari 10% ke 8%. Korea Selatan juga memangkas target pertumbuhan ekonominya tahun 2013 dari 4% menjadi 3%. Menyikapi kondisi tersebut kita tidak perlu pesimis dalam mengembangkan kinerja bursa domestik, tetapi harus tetap waspada melaui pengembangan stimulus positif dengan memperbanyak IPO BUMN, meningkatkan jumlah investor lokal, dan menahan holding period investor asing dalam berinvestasi di bursa.

BERITA TERKAIT

Benny Tjokro Tambah Modal Armidian

Investor kawakan di pasar modal, Benny Tjokrosaputro menambah modal PT Armidian Karyatama Tbk (ARMY) senilai Rp99,89 miliar, melalui penyerapan 340,95…

Tingkatkan Pangsa Pasar - Kimia Farma Bakal Akuisisi Phapros

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) akan membeli 47.901.860 lembar atau 56,77 dari total saham…

Sikapi Rekomendasi Credit Suisse - Dirut BEI Masih Optimis Pasar Tumbuh Positif

NERACA Jakarta – Di saat banyaknya pelaku pasar menuai kekhawatiran dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China terus…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Revolusi Mental Menjungkirbalikkan Akal - Oleh : EdyMulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Pekan silam atmosfir media kita, untuk kesekian kalinya, kembali disesaki isu-isu tak bermutu. Ada Walikota Semarang  Hendrar Prihadi yang bikin…

Sinkronisasi RTRW Jabodetabek

  Oleh: Yayat Supriatna Pengamat Tata Kota Presiden Jokowi telah menugaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla memnenahi persoalan pengelolaan rencana tata…

Pendanaan Pembangunan Berbasis Pasar

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Saving and investment gap tetap menjadi isu penting dalam pembangunan. Dan gap…