Gandeng Swasta untuk Jalankan Konversi BBM

Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini mengatakan, diperlukan keterlibatan pihak swasta dalam menjalankan program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke gas.

"Solusinya menggalang pihak swasta dalam pemasangan conventer kit dan bengkel melalui Astra dan Gaikindo," kata Rudi di kantor BPH Migas di Jakarta, Kamis (27/12).

Dia mengatakan, pihak swasta itu perlu diberikan lisensi sehingga mereka mau memasang dan memperbaiki conventer kit tersebut. Sedangkan untuk Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG), Rudi mengatakan, hal itu dapat dilakukan kerja sama dengan supermarket besar untuk menempatkan SPBG mobile sehingga bisa ditempatkan di halaman parkir tempat perbelanjaan itu.

"Namun kewenangan converter kit sudah tidak ada lagi di Kementerian ESDM tapi di Kementerian Perindustrian," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengakui, pihaknya menghadapi kendala teknis dan non-teknis dalam pelaksanaan program konversi bahan bakar minyak ke gas.

"Kami menghadapi kendala teknis dan nonteknis pada 2012. Misalnya kendala teknis konversi mobil perlu conventer kit yang harus diimpor, dan teknisnya masih sulit," kata Jero, Rabu (26/12).

Ia mengatakan, kendala teknis juga terkait penyiapan bengkel dan sumber daya manusia dalam menjalankan kebijakan tersebut. Kendala itu, menurut dia, menyebabkan program itu hingga Oktober 2012 belum berhasil, sehingga anggarannya tidak bisa dimasukkan dalam multiyear.

Kendala nonteknis menurut Jero adalah terkait perizinan dalam pembukaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Dia mengatakan, perizinan tidak bisa dilakukan secara cepat karena menyangkut lahan untuk SPBG tersebut.

Rudi menegaskan, Kementerian ESDM memiliki anggaran sebesar Rp1,8 triliun untuk pengadaan 14.000 conventer kit dan 13 unit SPBG pada 2012. Namun menurut dia, karena perencanaannya baru pada Juni 2012 dan masih banyak proses yang dilewati. maka tidak bisa dilakukan hingga akhir tahun ini.

"Pelaksanaan teknis sekitar 2-3 bulan, bulan September baru tender, November pengumuman pemenang dan dikerjakan sektiar 4-5 bulan dan baru selesai bulan Maret atau April 2013," ujarnya.

Menurut dia, anggaran tersebut tidak tertulis sebagai multiyears sehingga harus habis pada 15 September 2012. Dia mengatakan tidak mungkin anggaran itu menjadi multiyears dan Kementerian Keuangan juga tidak berani karena berkaca kasus Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) Hambalang yang menyeret kementerian tersebut.

"Menkeu tidak berani karena kasus Hambalang Menkeu terbawa karena hanya multiyear. Apakah tahun 2013 bisa diajukan, Wallahualam," katanya.

Dia menegaskan, Januari 2013 baru akan dibicarakan mengenai ada atau tidak pemberian insentif dalam pengadaan conventer kit. Namun menurut, dia harga conventer kit itu tidak senilai Rp15 juta dan diberikan cicilan dengan bunga yang dibicarakan bagi pengguna alat tersebut. (doko)

BERITA TERKAIT

Realisasi Belanja Negara Hingga Oktober Capai 73,1%

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa realisasi belanja negara sejak Januari hingga Oktober…

Cara Menpan RB Rampingkan Birokrasi

    NERACA   Jakarta - Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB) Tjahjo Kumolo menyampaikan langkah-langkah perampingan…

Kemendagri Minta Pemda Evaluasi Perda Terkait Dugaan Desa Fiktif

    NERACA   Jakarta - Kementerian Dalam Negeri meminta pemerintah daerah agar mengevaluasi peraturan daerah pembentukan desa terkait belakangan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pemerintah Serap Rp23 Triliun dari Lelang SUN

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana Rp23 triliun dari lelang tujuh seri Surat Utang Negara (SUN)…

MRT Kembangkan Pembayaran Tiket Lewat QR Code

    NERACA   Jakarta - PT Mass Rapid Transit Jakarta mengembangkan sistem pembayaran tiket baru dengan menggunakan QR Code…

Motor Penyumbang Polusi Terbesar di Jakarta

    NERACA   Jakarta - Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan bahwa sepeda motor masih menjadi…