Tegakkan Disiplin, Perlu Sanksi Keras dan Moril Bagi Emiten Nakal - Tren Telat Laporan Keuangan Naik

NERACA

Jakarta- Sejatinya, sebagai perusahaan publik penyampaian laporan keuangan dan kewajiban lainnya seharusnya dapat dipenuhi dengan baik oleh pihak emiten sesuai persyaratan dan persetujuan pada saat mencatatkan sahamnya di lantai bursa. Karena itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berwenang penuh untuk mengambil sikap tegas, baik dengan menjatuhkan peringatan tertulis, denda, maupun di-delesting dari bursa bagi emiten yang tidak dapat memenuhi komitmennya.

Meskipun demikian, pada semester pertama kemarin saja misalnya, pihak otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 29 emiten telat menyampaikan laporan keuangan (LK) untuk kuartal kedua 2012 yang terdiri atas 27 emiten saham dan dua emiten obligasi. Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding periode yang sama pada 2011 yaitu sebanyak 24 emiten yang terdiri dari 21 emiten saham dan tiga emiten obligasi.

Kata Hoesen, beberapa pelanggaran emiten antara lain dapat berupa keterlambatan dalam penyampaian laporan keuangan ataupun komponen laporan keuangan yang tidak lengkap, baik dari sisi penyajian yang tidak sesuai dengan PSAK, angka laporan keuangan yang tidak sesuai dengan penjelasan dalam catatannya dan sering informasi dalam laporan keuangan berbentuk “soft copy” tidak sama dengan laporan keuangan dalam bentuk "hard copy". “Kadang angka dalam laporan keuangan yang tidak dapat dibuktikan kebenaran dan kejadian setelah tanggal laporan keuangan yang belum memadai,” jelasnya.

Apabila perseroan tidak memenuhi kewajibannya tersebut, pihak regulator dapat memberikan sanksi mulai dari peringatan tertulis I. Selanjutnya, bursa meminta perseroan untuk dapat segera memberikan tanggapan atas permintaan penjelasan selambat-lambatnya dua hari bursa setelah tanggal surat. Jika tidak, bursa akan mengenakan saksi peringkat tertulis II dan denda.

Terjadinya pelanggaran yang dilakukan emiten, seperti keterlambatan menyampaikan laporan keuangan menuai komentar dari pelaku pasar. Kepala Analis dari Trust Securities misalnya. Menurut dia, denda yang dikenakan terhadap emiten yang melakukan pelanggaran masih tergolong sangat kecil. “Seharusnya pengenaan dendanya bisa lebih besar, misalnya 5 juta per hari untuk keterlambatan.” ujarnya.

Perlu Sanksi Berat

Selain pengenaan denda tersebut, lanjut dia, pihak otoritas seharusnya dapat pula memberikan sanksi moril seperti mempublish atau mengumumkan emiten-emiten yang melakukan keterlambatan kepada publik melalui keterbukaan informasi. Dengan begitu akan membuat pelaku pasar negatif terhadap emiten tersebut sehingga diharapkan tidak kembali mengulanginya.

Meskipun demikian, Reza menilai, hal yang paling penting bukan hanya kepada pengenaan denda atau sanksi maupun ketentuan lainnya, namun lebih kepada sikap tegas yang seharusnya dilakukan oleh pihak otoritas bursa.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang. Menurut dia pihak BEI perlu menaikkan jumlah denda per hari bagi emiten yang telat menyampaikan laporan keuangan. Karena hal itu terjadi disebabkan tidak adanya efek jera dari pemberian sanksi oleh pihak regulator sehingga pelanggaran kembali diulangi oleh pihak emiten. “Pemberian sanksi dengan efek jera atas keterlambatan penyampaian laporan keuangan emiten menjadi hal yang penting yang perlu dilakukan pihak otoritas bursa.” jelasnya.

Selain itu, pihak BEI juga perlu tegas mengeluarkan ketentuan mengenai batasan berapa kali emiten-emiten yang tercatat sebagai perusahaan publik di pasar modal boleh melakukan keterlambatan. Apabila melewati batasan waktu yang sudah ditentukan, direksi dan emiten perlu diberi peringatan keras misalnya di-delisting dari bursa.

Menurut Edwin, besaran denda atau pengenaan sanksi kepada emiten yang melakukan pelanggaran atau mungkin dikatakan hanya sebatas telah menyampaikan laporan keuangan masih kecil. Sehingga hal tersebut dimanfaatkan oleh emiten yang senang terlambat menyampaikan laporan keuangannya. Padahal penyampaian laporan keuangan bagi perusahaan yang tercatat sebagai perusahaan publik bisa berdampak pada pelaku pasar secara umum. “Agar tidak terjadi misleading advice bagi investor di pasar modal.

Sebagai informasi, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi emiten yang raji telat dalam menyampaikan lapora keuangan. Selain itu, ada juga PT Jakarta International Hotels & Development Tbk (JIHD).

Bahkan BEI menjatuhkan peringatan tertulis I kepada PT Jakarta International Hotels & Development Tbk. Pasalnya, perseroan terlambat merespons surat bursa. Sebelumnya, perseroan memang telah menyampaikan surat pernyataan mengenai komitmen untuk menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu yang diminta sebagai lampiran surat bursa.

Namun demikian, perseroan belum menyampaikan tanggapan atas permintaan penjelasan dalam surat tersebut Sementara bursa meminta agar surat tanggapan tersebut disampaikan melalui sistem bursa, selambat-lambatnya tiga hari bursa setelah tanggal surat. "Sehubungan dengan hal tersebut, bursa memberikan peringkatan tertulis I kepada perseroan atas keterlambatan dalamn menyampaikan tanggapan atas permintaan penjelasan bursa," kata Kepala Divisi Penilaian Perusahaan Sektor Jasa BEI Umi Kulsum.

Selanjutnya, bursa meminta perseroan untuk dapat segera memberikan tanggapan atas permintaan penjelasan selambat-lambatnya dua hari bursa setelah tanggal surat. Jika tidak, bursa akan mengenakan saksi peringkat tertulis II dan denda. (lia)

BERITA TERKAIT

Sentimen Stimulus Pemerintah - Laju IHSG Berhasil Balik Arah Ke Zona Hijau

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (2/4) kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

Latinusa Bukukan Untung US$ 2,68 Juta

NERACA Jakarta - Emiten pengolahan pelat timah PT Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) atau Latinusa membalikkan posisi rugi tahun lalu…

Laba Bersih Alfamart Melesat Tajam 71,11%

NERACA Jakarta - PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) membukukan kenaikan laba 2019 sebesar 71,11% menjadi Rp1,11 triliun dari periode…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Bantu Tangani Covid-19 - Akulaku Finance Salurkan Bantuan Alkes

Jakarta - Akulaku Finance Indonesia dan Bank Yudha Bhakti menyerahkan bantuan berupa alat kesehatan (alkes) guna membantu pemerintah provinsi DKI…

Pedagang Raup Cuan Berlipat Berkah Tol Trans Sumatera

Wanadi (38) petani asal Palembang, Sumatera Selatan merasakan betul cuan berlipat dari usahanya berjualan sayuran dan buah buahan hasil kebun…

Tekan Efisiensi Bisnis - Telkom Akan Konsolidasikan 20 Anak Usaha

NERACA Jakarta – Jaga pertumbuhan bisnis, PT Telkom Indonesia (Perseroa) Tbk (TLKM) tengah fokus melakukan efisiensi dengan melakukan restrukturisasi anak…