Jangan Pernah Bosan Kerjakan Rutinitas! - Handaka Santosa, CEO Senayan City dan Ketua Umum DPP APPBI

Bagi Handaka, hal luar biasa adalah ketika seseorang itu mempunyai kontribusi dan nilai tambah di masyarakat. Makanya, seseorang itu harus kreatif dan tidak pernah bosan akan rutinitas sehari-hari.

NERACA

Sore itu, jam tangan milik fotografer kami (NERACA) menunjukkan pukul 16.00, dan suasana kantor Managemen Senayan City di bilangan Senayan Jakarta Pusat, seketika berubah menjadi lebih sibuk dari sebelumnya akibat kedatangan CEO mereka Handaka Santosa, dan kami pun harus menunggu sang CEO menandatangani setumpuk berkas sekian lama sebelum akhirnya dapat wawancara.

Ya, itulah sebagian gambaran kesibukan dari sosok CEO Senayan City Handaka Santosa. Maklum, selain menjabat CEO Senayan City, Handaka juga memiliki jabatan penting di beberapa organisasi kemayarakatan lainnya. Seperti di Palang Merah Indonesia (PMI), APPBI (Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia), Kadin, KONI, APINDO, REI, dan Dekranasda.

Kontan hal itu membuat dirinya menjadi seorang yang begitu sibuk bahkan boleh dikatakan super sibuk. Akibatnya, jangankan untuk bersantai sejenak, persoalan makan pun tak sempat ia lakukan karena waktu yang begitu ketat, memaksanya untuk menghadiri ini dan itu. “Maaf dik, saya sambil makan yak wawancaranya,” kata Handaka sambil mengambil sepotong roti dari atas piring.

Namun, semua kesibukannya ini dijalani Handaka dengan bijak. Baginya, mengerjakan pekerjaan CEO adalah hal biasa, tetapi jika dirinya mampu berkontribusi dan memiliki nilai tambah di hadapan masyarakat, itu baru hal yang luar biasa. Tak heran, mengapa kini ia begitu aktif di organisasi-orngaisasi kemasyarakatan.

“Saya ingin menunjukkan pada junior saya, kalau kita hanya mengerjakan yang merupakan pekerjaan kita itu adalah hal biasa, tetapi kita juga harus memiliki kontribusi penting di masyarakat, karena kita juga akan memiliki added value di masyarakat,” sebut dia.

Akibatnya, jangan heran kalau Handaka seringkali membawa pulang pekerjaannya untuk diselesaikan di rumah. Jangan heran, kalau setiap hari ia harus tidur larut malam, dan bangun di kala mentari belum menampakkan wajahnya. “Saya tidak pernah bosan mengerjakan itu, malah saya bersyukur masih di kasih kesempatan sama Tuhan kerjakan rutinitas itu,” ujar pria kelahiran Solo 1956 itu.

Meski demikian tak mengurangi kedisiplinan Handaka terhadap satu pekerjaan, persoalan kedisiplinan ini baginya merupakan hal penting. Untuk itu, sebelum memerintahkan anak buahnya untuk disiplin, ia juga harus disiplin. “Saya tidak mau menuntut yang tidak-tidak sama karyawan, makanya ruangan di kantor ini saya buat dari kaca semua, jadi selain saya bisa mengawasi anak buah, anak buah juga bisa melihat saya lagi berbuat apa, apa saya tidur atau bekerja?” tegas Handaka.

Nah, untungnya, kondisinya itu dapat difahami oleh keluarga dalam hal ini istri Handaka. kalau tidak, bukan tidak mustahil sederet kegiatannya dapat membuat kehidupan keluarganya berantakan. Karena, setaip harinya, Handaka hampir tak ada waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Bahkan, di hari libur saja, terkadang Handaka masih bekerja. “Untungnya istri saya sangat pengertian, dia mau mendukung saya terus dalam kondisi seperti ini,” jelas pria yang gemar mengoleksi barang antik itu.

Mengedukasi Anggota APPBI

Belakangan, kesibukan Handaka semakin “gila” lagi. Pasalnya, kini ia juga menjabat Ketua Umum DPP APPBI, otomatis kesibukannya pun bertambah. Apalagi, program yang diusung APPBI ini ada kaitannya dengan program pemerintah, yakni untuk menjadikan pusat perbelanjaan di Jakarta sebagai lokasi wisata belanja yang diminati. “Nah, kini saya terus berupaya untuk mengedukasi pusat belanja (mal dan trade center), menggerakkan mereka untuk dukung kegiatan pemerintah tadi,” jelas dia.

Makanya, ia harus terus memutar otak agar pusat perbelanjaan di Jakarta layaknya pusat perbelanjaan di Singapura, yang memiliki daya magis menarik wisatawan. Untuk itu, memerlukan sinergitas dengan pihaklain, seperti departemen pariwisata.

“Rencananya, saya ingin mengawinkan pusat perbelanjaan dengan kebudayaan. Untuk itu, beberapa waktu lalu saya sempat memanggil orang mal untuk saksikan acara budaya, yang nantinya dapat digunakan sebagai fragment di mal.

Selain itu, ia juga tengah bekerjasama dengan para pengrajin yang tergabung dalam Dekranasda untuk membuat souvenir yang berhubungan dengan Jakarta, rencananya souvenir tersebut untuk dijadikan oleh-oleh atau buah tangan bagi para wisatawan yang sempat mampir ke Jakarta. “Kalau dari luar negeri biasanya kita membawa buah tangan khas, kalau batik itu kan nasioanl, nah kita akan buat yang khsus buah tangan khas Jakarta,” tegas Handaka.

BERITA TERKAIT

Kemendagri Dorong Penegakkan Hukum Bagi Kepala Daerah dan ASN Pelaku Korupsi

  NERACA   Jakarta - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) hingga kini terus mendorong Penegakkan Hukum Bagi Kepala Daerah dan ASN…

KPU Kota Sukabumi Tetapkan Caleg Terpilih dan Perolehan Kursi Parpol

KPU Kota Sukabumi Tetapkan Caleg Terpilih dan Perolehan Kursi Parpol NERACA Sukabumi - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Sukabumi menetapkan…

PENDAPAT SEJUMLAH PRAKTISI DAN PENGAMAT PERPAJAKAN: - Kebijakan Tax Amnesty Jilid II Belum Perlu

Jakarta-Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah dan kalangan pengamat perpajakan meminta agar pemerintah memikirkan ulang…

BERITA LAINNYA DI PROFIL

Selamatkan Masa Depan 250 Ribu Siswa Keluarga Ekonomi Lemah

KCD Wilayah III‎ Disdik Jawa Barat, H.Herry Pansila M.Sc    Saatnya Untuk selamatkan 250 Ribu Siswa dari Keluarga Ekonomi tidak…

Aktivis Masjid Yang Kini Menjabat Sebagai Menteri - Idrus Marham, Menteri Sosial Republik Indonesia

    Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham dilantik sebagai Menteri Sosial menggantikan Khofifah Indar Parawansa. Perjalanan karier Idrus sebagai…

Proses Belajar Tak Mengenal Batas - Diding Sudirdja Anwar, Presdir Perum Jamkrindo

“Jangan pernah berpikir untuk berhenti belajar. Meski sudah berada di posisi puncak sebuah perusahaan, jangan pernah berpuas diri. Teruslah belajar,…