Askes Targetkan Indeks Kepuasan 88,13%

NERACA

Jakarta - PT Asuransi Kesehatan (Persero) atau Askes, menargetkan indeks kepuasan peserta bisa mencapai 88,13% sampai akhir tahun ini, atau meningkat satu persen dari indeks tahun lalu yang sebesar 87,13%. “Dari tahun ke tahun indeks kepuasan peserta kami selalu meningkat. Kalau indeks kepuasan konsumen (peserta) meningkat maka akan mempengaruhi yang lain untuk membeli (produk asuransi) itu,” kata Direktur Utama Askes, I Gede Subawa di Jakarta, Rabu (26/12).

Meski begitu, karena Askes bergerak di bidang asuransi kesehatan sosial, maka mereka tidak bisa memperoleh kenaikan laba dari kepuasan peserta meningkat, karena jumlah pesertanya masih sama setiap tahun. “Jumlah peserta kami tetap 16,6 juta orang, sehingga jumlah premi juga (yang diperoleh) tetap. Yang lebih kami inginkan sebenarnya adalah kepuasan peserta yang meningkat,” imbuhnya.

Secara angka, laba bersih (setelah pajak) yang dicatatkan Askes pada triwulan III 2012 mencapai Rp966,773 miliar, 57,71% dari RKAP 2012 yang sebesar Rp1,68 triliun. Angka ini memang turun dari pencapaian di periode sama tahun lalu. Sementara di akhir tahun ditargetkan mencapai Rp1,42 triliun. Di mana lebih kecil daripada yang ditargetkan dalam RKAP di awal.

Untuk jenis asuransi sosial seperti ini, indeks kepuasan peserta yang meningkat malah akan meningkatkan klaim di rumah sakit (RS) atau klinik, sehingga biaya pokok (pelayanan kesehatan) malah akan naik dan menurunkan laba. “Kalau pakai kartu askes tenang atau enak sekali maka akan ada banyak yg pakai atau bisa dibilang jumlah klaim ke RS akan bertambah. Tapi biaya pokok juga akan meningkat, jadi laba turun,” ungkap Gede.

Dia mencontohkan bahwa biaya pokok bisa naik 15%-16% dalam setahun. “Sampai level mana biaya pokok yaitu 85%-87,5% dari total premi boleh dijadikan biaya pokok. Kalau lebih akan bisa jadi sisa hasil usaha (SHU) yang bisa jadi dana cadangan program. Kita sudah memiliki Rp8,5 triliun (dana) cadangan kita untuk buffer yang bisa menutupi kelebihan biaya pokok,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa strategi utama yang ditetapkan perusahaan selama tahun 2012 memang adalah costumer focus yakni menerapkan optimalisasi pelayanan bagi peserta Askes.

“Optimalisasi pelayanan ini dilakukan dengan banyak cara, di antaranya dengan penambahan Askes Center yang sampai triwulan III 2012 sudah mencapai 933 buah di RS Pemerintah, RS TNI/Polri, RS Khusus, RS Jiwa dan RS Swasta. Serta ada penambahan item obat DPHO dari 1619 item di 2011 menjadi 1647 di tahun ini yang berdampak pada penurunan penulisan obat Non DPHO,” paparnya.

Iuran premi

Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada asuransi kesehatan komersial. Yang mana, tutur dia, di asuransi kesehatan komersial indeks kepuasan peserta yang meningkat akan bisa meningkatkan jumlah peserta dan pada akhirnya akan bisa menaikkan laba juga.

“Pada asuransi kesehatan komersial, barang yang lebih laku, volumenya akan ditingkatkan, dan dia juga bisa menaikkan harga, jadi profitabilitas meningkat. Jadi tingkat kepuasan konsumen sejalan dengan profit atau laba kalau di (asuransi) komersial,” tutur Gede.

Menurut dia, laba adalah memang hal yang paling diperhatikan untuk menilai kinerja dalam bisnis asuransi kesehatan komersial, apakah itu perusahaan asuransi swasta atau BUMN.

“Asuransi kesehatan sosial akan fixed (pendapatannya), karena jumlah preminya ditentukan pemerintah. Misalkan ditargetkan pendapatan Rp1 triliun, maka kita harus mengikuti itu. Di asuransi sosial tidak berlaku hukum pasar.

Premi peserta, kata dia, tidak boleh berubah yakni 2% dari gaji pokok. “Sedangkan gaji (PNS) tidak naik, paling-paling tahun depan naik 7%, jadi terjadi kesenjangan (antara pendapatan dengan biaya pokok). Peserta (kita harapkan) malah kalau boleh tidak ada iuran premi. Tarif RS kami bayar full, jadi peserta tidak perlu bayar lagi,” tambah dia.

Mengenai akan bertransformasinya Askes menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di 2014 maka salah satu hal yang akan dilakukan perseroan ini adalah mengalihkan aset dan liabilitasnya ke badan tersebut.

“Untuk itu, kami akan melakukan audit terhadap aset-aset yang sebenarnya untuk dipindahkan ke BPJS Kesehatan. Kemudian, di 2014 akan ada dua jenis keuangan yang dikelola badan ini, yakni keuangan badan dan dana program (yang salah satunya adalah dana jaminan kesehatan yang dikelola terpisah),” ulasnya. Sebagai informasi, pendapatan premi (netto) Askes yang diproyeksikan bakal diraih di akhir tahun ini adalah Rp10,67 triliun, dan pendapatan dari investasi adalah Rp1,2 triliun. [ria]

BERITA TERKAIT

Tahun 2019, Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Aplikasikan Tekhnologi

Pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, khususnya skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itu, upaya…

Pemerintah Targetkan Ekspor Jadi US$175 Miliar

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan telah menetapkan target ekspor non migas pada 2019 tumbuh sebesar 7,5 persen totalnya menjadi 175…

PNM Targetkan 18.000 Nasabah di Sumbawa Pada 2019

PNM Targetkan 18.000 Nasabah di Sumbawa Pada 2019 NERACA Mataram - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Area Sumbawa, Nusa Tenggara…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Diprediksi Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta – Ekonom BNI Ryan Kiryanto memprediksi Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Kamis…

OJK Evaluasi Pengangkatan Dirut Bank Sumut

    NERACA   Medan - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 5 Sumbagut Yusup Ansori menegaskan, OJK sedang…

Bank Mandiri Syariah Platform Digital Pelunasan BPIH

      NERACA   Jakarta - PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) telah menyiapkan platform digital channel dalam rangka…