Berkah Rating Positif, BEI Genjot Pasar Obligasi - Targetkan 67 Penerbitan Obligasi

NERACA

Jakarta- PT Bursa Efek Indonesia menargetkan sebanyak 67 penerbitan obligasi pada tahun 2013 dibandingkan tahun ini yang hanya sebesar 59 obligasi dengan total nilai emisi sekitar Rp50 triliun. “Tahun ini ada sekitar 59 obligasi, sehingga tahun depan diperkirakan bisa mencapai sekitar 67. Selain itu, ada beberapa kelanjutan dari obligasi tahun sebelumnya.” jelas Direktur Penilaian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (26/12).

Menurutnya, proyeksi pertumbuhan obligasi di tahun depan didasarkan pada kondisi makro dan perekonomian Indonesia, di mana saat ini mencatatkan pertumbuhan yang sangat positif sehingga diharapkan dapat mendorong perkembangan investasi. "Tahun depan obligasi akan lebih baik. Rating negara kita kan bagus, dan pastinya dalam jangka panjang." ujarnya.

Hoesen mengatakan, di samping prospek pasar yang cerah bagi penerbitan obligasi, pihaknya juga optimistis dapat mencapai target pelaksanaan pencatatan saham (listing) sebanyak 30 emiten di tahun depan. Pasalnya, di tahun ini saja ada sebanyak 23 emiten yang telah melakukan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) dari target 25 emiten. Selain itu, di awal tahun depan ada sebanyak sembilan emiten yang akan melakukan IPO. “Tinggal tunggu keputusan mereka kapan realisasinya.” ujarnya.

Sementara pengamat obligasi dari PT Penilai Efek Indonesia, Fakhrul Aufa mengatakan, untuk tahun depan prospek penerbitan obligasi masih cukup positif. “Untuk penerbitan obligasi saya perkirakan masih akan semarak menyusul suku bunga yang masih rendah. Target 67 obligasi saya perkirakan bisa tercapai.” jelasnya.

Menurut dia, pertumbuhan obligasi di tahun depan diproyeksikan dapat mencapai sekitar 20-25%. Meskipun demikian, investor tampaknya akan hati-hati menyusul tingkat inflasi yang sepertinya akan mengalami kenaikan dengan adanya rencana kenaikan tarif dasar listrik dan upah minimum. Hal tersebut tentu dapat mendorong kenaikan BI rate dan inflasi sehingga akan berdampak negatif bagi pasar.

Karena itu, dia menilai, pemerintah perlu mendorong agar tingkat inflasi dan BI rate tetap stabil, terlebih dengan adanya rencana pemerintah untuk mengembangkan obligasi. “Iya, target pemerintah tahun depan memang naik, tapi yang jadi masalahnya kalau pasarnya sedang tidak bagus, lelang pemerintah bisa mendapatkan yield yang lebih tinggi. Artinya, beban utang yang akan ditanggung pemerintah akan lebih tinggi. Karena itu pemerintah perlu menjaga inflasi agar tidak bergerak liar.” jelasnya.

Korporasi Masih Marak

Dari sisi potensi pasar, lanjut dia, obligasi korporasi akan tetap menjadi incaran investor dikarenakan dapat memberikan imbal hasil yang lebih tinggi daripada obligasi pemerintah. Pihaknya mencatat, untuk imbal hasil obligasi pemerintah saat ini tidak lagi dapat memberikan sebesar 7%. Tenor paling panjang 30 tahun pemerintah itu di level 6,41%.

Sementara untuk imbal hasil obligasi korporasi bisa mencapai 7% sesuai rating yang diperoleh perusahaan untuk penerbitan obligasi tersebut. Semakin bagus rating maka semakin kecil yield atau kupon pada penerbitan obligasi tersebut seperti halnya penerbitan obligasi SMF yang memperoleh rating AAA sehingga dapat memberikan persentase imbal hasil yang menarik bagi investor.“Untuk penerbitan obligasi korporasi sampai dengan 26 Desember sudah 118 seri obligasi dengan total penerbitan sebesar RpRp67,8 triliun. Selain itu masih ada sebanyak tujuh seri yang akan diterbitkan.” jelasnya.

Dia menambahkan, bagi pihak penerbit di tahun depan, akan lebih menguntungkan bagi penerbit obligasi pemerintah karena dapat memperoleh yield yang lebih rendah. Dengan catatan, apabila pasar berada dalam kondisi bagus. Sementara untuk persentase yield obligasi dalam kurun waktu lima tahun diproyeksikan berada pada level 4,74%, sedang untuk sepuluh tahun dapat mencapai level 5.35%. (lia)

BERITA TERKAIT

Optimisme Ekonomi Positif Bawa IHSG Menguat

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis ditutup menguat seiring penilaian investor terhadap…

Waskita Targetkan Kontrak Baru Rp 55 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) menargetkan total kontrak baru sekitar Rp55 triliun,”Total kontrak baru…

E-Bookbuilding Rampung Tengah Tahun - Peran BEI Masih Menunggu Arahan OJK

NERACA Jakarta – Mendorong percepatan modernisasi pelayanan pasar modal di era digital saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…