Realisasi Belanja Negara Capai 89,5% - Lebih Tinggi dari Tahun Lalu

NERACA

Jakarta - Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja negara per 21 Desember 2012 mencapai Rp1385,9 triliun atau 89,5% dari pagu 1548,3 triliun. Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Agus Suprijanto memaparkan, realisasi belanja 2012 lebih tinggi dari realisasi tahun lalu yang mencapai 88,2% pada tanggal yang sama.

Adapun dengan rincian realisasi belanja pegawai mencapai Rp195,9 triliun atau 92,3% dari pagu Rp212,3 triliun, belanja barang Rp123,3 triliun atau 75,4% dari pagu Rp163,5 triliun dan belanja modal Rp128,1 triliun atau 72,1% dari pagu Rp177,7 triliun. sementara itu, pembayaran utang mencapai Rp100,2 triliun atau 85,1% dari pagu Rp117,8 triliun, subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) mencapai Rp186,7 triliun atau 135,9% dari pagu Rp137,4 triliun, dan subsidi listrik mencapai Rp83,3 triliun atau 128,2% dari pagu Rp64,9 triliun.

Di sisi lain, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.258,9 triliun atau 92,7% dari target Rp1.358,2 triliun. “Penerimaan ini memang lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 95,6%, dan kami masih berharap ada peningkatan di akhir Desember ini,” ujar Agus usai penandatanganan Perjanjian Kerjasama Penyaluran Dana APBN melalui Bank Umum dalam Rangka Implementasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN) Tahun 2013 di Gedung Prijadi, Rabu (26/12)

Adapun, rincian realisasi pendapatan negara dari penerimaan perpajakan telah mencapai Rp948,6 triliun atau 93,3% dari target Rp1.016,2 triliun dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp307,2 triliun atau 90% dari target Rp341,1 triliun. Maka, Kementerian Keuangan mencatat defisit anggaran telah mencapai Rp127 triliun atau 66,8% dari pagu dalam APBN-Perubahan sebesar Rp190,1 triliun atau 1,49% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Agus mengatakan, penyerapan yang kurang optimal disebabkan oleh penyaluran yang terlalu lama dengan menggunakan sistem kliring. Akibatnya, ini membutuhkan waktu untuk pencairan. Oleh karena itu, mulai 2013 sejalan dengan program strategis Kementerian Keuangan dalam pengelolaan keuangan, negara akan menggunakan SPAN.

“Perbedaan mendasar antara mekanisme SPAN dan non-SPAN, di luar sistem komunikasi, di antaranya adalah pola hubungan antara KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) dengan Bank Operasional (BO) I yang lebih dari 1 mitra kerja bank,” jelasnya.

Bank umum yang ditunjuk untuk sebagai BO I, yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank BTN.

Kebijakan penetapan jumlah BO I mitra kerja KPPN lebih dari satu bertujuan untuk meningkatkan layanan kepada penerima dana APBN, terutama percepatan penyampaian dana ke rekening. “Karena sistem transfer dana dari rekening kas negara ke rekening penerima akan lebih banyak dilakukan dengan overbooking. Selain itu, diharapkan dapat mengurangi terjadi retur SP2D (Surat Perintah pencairan Dana),” terang Agus.

BERITA TERKAIT

Beragam Solusi Keuangan di GIIAS - Astra Berikan Nilai Tambah dari Sekedar Jual Mobil

Lesunya bisnis pasar otomotif dalam negeri tidak mengurangi minat masyarakat Indonesia untuk hadir di pameran tahunan GAIKINDO Indonesia International Auto…

Wacana Abdi Negara Bekerja di Rumah

  NERACA Jakarta – Pegawai Negeri Sipil (PNS) bakal mendapat kesempatan untuk bisa bekerja di rumah. Kementerian Pendayagunaan dan Aparatur…

Aplikasi Mobile InvestASIK - DIM Bidik Investor Potensial dari Milenial

NERACA Jakarta – Mendukung program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam percepatan literasi keuangan di kalangan anak muda, khususnya industri pasar…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Badan Riset Dorong Prioritas Riset dan Inovasi Lebih Terarah

    NERACA   Jakarta - Wakil Direktur Indonesian Medical Education Research Institute (IMERI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI)…

LG Catatkan 1.000 Unit Penjualan Mesin Cuci Laundry

    NERACA   Jakarta - PT LG Electronics Indonesia berhasil mencatatkan penjualan 1.000 unit mesin cuci laundry sejak dimulai…

Pemerintah Siap Bangun Infrastruktur di 3 KEK

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menggelar sidang dewan nasional untuk membahas terkait pengembangan…