Menggiurkan, Bisnis Kartu Kredit di Indonesia

Data yang dimiliki Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) menunjukkan jumlah kartu kredit di Indonesia terus meningkat, bahkan drastis. Demikian pula nilai transaksinya, terbang melayang tinggi. Bahkan, pemahaman pemilik kartu kredit pun meningkat yang ditandai menurunnya tingkat kemacetan pengembalian (non performanece loan/NPL).

Steve Marta, general manager AKKI mengungkapkan, dari nilai transaksi rata-rata tiap bulan sebesar Rp 18 triliun, yang macet hanya 3,5%. “Volumenya naik, tapi persentasenya turun dilihat dari nilai transaksinya tiap bulan,” kata Steve kepada Neraca, belum lama ini.

Kini penggunaan kartu kredit tidak lagi sekadar gaya-gayaan, tapi dipakai untuk mengcover kebetuhan bulanan. Misalnya untuk membayar tagihan bulanan untuk listrik, air PAM, telepon, internet, maupun teve langganan. Dengan melalui kartu kredit, tagihan bulanan tak bakal telat.

Jika bukan itu, kata Steve, pemakaian kartu kredit juga untuk berbelanja keperluan sehari-hari secara bulanan. Biasanya sering ada diskon atau potongan harga jika membeli di supermarket. “Yang belanja di supermarket mencapai 12-13%,” ujarnya.

Dari hasil survei yang dilakukan Visa Worldwide Indonesia (VWI), kartu kredit biasanya dipakai untuk berbelanja partai besar atau dalam nominal yang besarnya di atas .

Pertanyaannya, mengapa bank-bank jor-joran mengobral kartu kredit kepada masyarakat? Pada 1990 jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia baru sekitar 300 ribu lembar. Hingga November 2012, sudah bertambah menjadi 15,8 juta lembar. Menurut Steve, tahun depan diprediksi naik hanya 5%. Rendahnya pertumbuhan itu kemungkinan dipicu terbitnya Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/27/DSAP yang menyatakan, debitur berpenghasilan di bawah Rp 10 juta hanya dibolehkan memiliki kartu kredit dari dua perusahaan penerbit.

Berapa pendapatan dari kartu kredit dalam setahun? Jika iuran tahunannya misal Rp 100 ribu saja, terkumpullah Rp 1,58 triliun yang akan dibagi kepada 20 penerbit kartu kredit. Selain itu, ada lima principal kartu kredit, yaitu Visa, Master, Dinner Club, Amex, dan Japan Credit Bureu (JCB).

Rata-rata masing-masing perusahaan penerbit mengumpulkan Rp 79 miliar. Pendapatan bertambah lagi jika terdapat transaksi dari bunga cicilan, denda keterlambatan, over limit, biaya transfer pembayaran, bunga tarik tunai, maupun biaya tarik tunai.

Bagi pemegang kartu kredit, yang penting adalah bagaimana caranya agar setiap transaksi terbebas dari beraneka pungutan itu. (saksono)

PERTUMBUHAN KARTU KREDIT DI INDONESIA

TAHUN

JUMLAH

KARTU

NILAI TRANSAKSI

(rupiah)

1990

300.000

2007

9.000.000

72.000 triliun

2008

11.548.000

107,000 triliun

2009

12.259.000

136,000 triliun

2010

13.513.020

163,208 triliun

2011

14.785.382

182,600 triliun

Sumber: disarikan dari BI dan sumber lain

BERITA TERKAIT

Bank Diminta Agresif Kucurkan Kredit

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta industri perbankan untuk lebih ekspansif dalam mengucurkan kredit sejak awal 2019 guna…

Kredit Bermasalah UMKM Mencapai 3,79% di Januari 2019

NERACA Jakarta-Bank Indonesia mengungkapkan besaran kredit bermasalah (NPL) untuk sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada awal 2019 mengalami…

Bisnis Semen Masih Lesu - Indocement Patok Pertumbuhan Konservatif

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan masih terjadinya kelebihan pasokan pasar semen dalam negeri dan juga melihat pencapaian kinerja keuangan sepanjang tahun…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…