Pengamat: Perbankan Masih Tahan Krisis - Waspadai Dana Jangka Pendek

NERACA

Jakarta - Pengamat perbankan Universitas Gajah Mada (UGM), Sri Adiningsih, menilai secara umum, perbankan nasional tidak akan mengalami gangguan serius terhadap krisis global yang diperkirakan masih berlangsung di 2013. “Tapi ada syaratnya seperti rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) masih bagus dan rendahnya kenaikan kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL). Ini untuk mendukung kinerja dan likuiditas perbankan yang sedang bagus,” kata dia kepada Neraca, Selasa (25/12).

Sri Adiningsih justru mengkhawatirkan kalau dana-dana jangka pendek dan portofolio yang saat ini banyak dimiliki swasta. "Saya tidak tahu berapa persisnya dana jangka pendek yang dimiliki perbankan. Namun kalau khusus dilihat dari sektor swasta, mereka mempunyai lebih dari Rp30 miliar dana jangka pendek. Ini sumber kerawanan menghadapi krisis global ke depan," tegasnya.

Akan tetapi, lanjut dia, saat ini sudah ada aturan yang lebih ketat dan prudent dalam mengatasi permasalahan dana jangka pendek. Termasuk Bank Indonesia (BI) yang harus bisa menjamin efisiensi dan prudensial bank-bank yang dikelolanya dengan berbagai aturan yang mendukung. Tak hanya itu saja. Dosen FE-UGM ini menambahkan, bank sentral selalu melakukan stress test dalam membuat berbagai regulasi, baik pengawasan perbankan maupun makroprudensial.

“Jadi saya bisa yakin bahwa keadaan moneter dan perbankan Indonesia tidak mengkhawatirkan selama ada assessment langsung dari BI," tambah dia. Kemudian mengenai keberadaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun depan, dirinya berujar kalau lembaga itu memiliki tanggung jawab besar karena akan mengambil alih pengawasan sektor keuangan, baik pasar modal, asuransi, perbankan, maupun lembaga keuangan non bank.

Oleh karena itu, lanjut Sri Adiningsih, OJK harus bisa membuat aturan atau kebijakan yang bukan hanya lebih baik dari BI, tetapi juga terintegrasi. Bahkan kalau bisa tetap berkoordinasi dengan BI maupun otoritas keuangan lainnya dalam membuat aturan atau kebijakan.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Bank, Halim Alamsyah menuturkan, pihaknya tetap menjadikan regulasi sebagai senjata ampuh perbankan menghadapi krisis ekonomi global. Bahkan, BI menilai perbankan akan tetap bertumbuh meski ada krisis yang belum selesai. Untuk mengendalikan agar pertumbuhan perbankan stabil, pembenahan regulasi menjadi penting.

“Ketika ekonomi tumbuh, maka potensi yang kita punya akan luas. Ibarat orang lari, pasti butuh oksigen. Nah, oksigen harus ada ketika kita memacu sampai puncak kekuataan,” jelas Halim. Menurut dia, sektor keuangan Indonesia akan tetap baik namun harus tetap dibenahi. Terlebih, dalam membuat kesehatan perbankan tidak bisa tiba-tiba. Artinya, aturan ini memerlukan waktu yang cukup lama.

Halim juga menuturkan, khusus membuat aturan, pihaknya mengklaim melakukan kajian yang mendalam dan waktu yang lama, sebelum mengeluarkan dan menerapkan kepada perbankan Indonesia. Apalagi tahun ini BI tidak bisa menjaga nilai tukar rupiah yang fluktuatifnya cukup keras.

“Nilai tukar rupiah fluktuatif akibat ekspektasi defisit neraca berjalan kita. Ini yang mengakibatkan pemain-pemain di pasar menganggap ada koreksi dilevel kurs yang terjadi. Nah, kita akan coba sesuaikan dengan kebijakan kita,” paparnya.

Dia menyatakan, kebijakan yang dikeluarkan BI bertujuan membuat perbankan semakin sehat, dan berkontribusi baik kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi kebijakan yang dikeluarkan untuk meminimalkan terjadinya overheating, yakni tidak seimbangnya antara demand dengan supplay.

“Ada tiga kata yang bisa menjelaskan perbankan kita. Pertama, modal cukup. Kedua, tidak ada permasalahan likuiditas. Ketiga, dikelola dengan baik. Dengan regulasi yang dikeluarkan diharapkan membuat perbankan semakin sehat,” tegas Halim. [ria/ardi]

BERITA TERKAIT

LPS Perkirakan BI Tahan Suku Bunga Di Awal 2019

NERACA Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate pada awal 2019 ini…

Pertumbuhan Lambat Perbankan Syariah Di Kalbar

  NERACA Pontianak – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat, Mochamad Riezky F Purnomo, mengatakan pertumbuhan perbankan syariah…

Dorong Bisnis Lebih Agresif - Bukalapak Raih Kucuran Dana dari Mirae Asset

NERACA Jakarta –Pesatnya pertumbuhan bisnis e-commerce Bukalapak, mendorong beberapa perusahaan besar lainnya untuk ikut serta memberikan suntikan modal. Apalagi, Bukalapak…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Pertahankan Suku Bunga

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar enam persen…

OJK Sebut DP 0% Gairahkan Sektor Produktif

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengklaim kebijakan penghapusan uang muka kendaraan bermotor pada perusahaan…

SMF Kerjasama Operasional dengan Bank Penyalur KPR FLPP

    NERACA   Jakarta - PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama operasional dengan bank penyalur…