Pasokan Bermasalah Kerek Harga Daging

NERACA

Jakarta - Di berbagai kota, harga daging sapi melonjak tinggi dalam dua bulan terakhir. Kawasan Jabodetabek sempat mengalami kelangkaan daging sapi sehingga harganya mencapai lebih dari Rp 100.000 per kilogram.

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamukti menilai penyebab utama melonjaknya harga daging sapi adalah minimnya jumlah pasokan. Di sisi lalin, lonjakan permintaan terjadi karena pola konsumsi masyarakat berubah.

"Dari sisi demandnya makin kompleks. Orang yang mau makan iga bakar tidak bisa diganti sop buntut. Kalau iganya tidak ada, harga iganya tetep naik, walau sop buntutnya banyak," ujarnya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Bayu meyakini, yang mengalami kelangkaan sesungguhnya adalah daging sapi, bukan sapinya. Sebab, data Kementerian Pertanian mencatat, stok sapi mencapai 15 juta ekor sampai akhir bulan lalu. "Saya percaya data teman-teman Kementan. Tapi sapi itu harus dipotong untuk jadi daging, jadi rumah potong hewan yang akan kita pantau," ungkapnya.

Salah satu buktinya adalah menurunnya jumlah sapi yang dipotong di RPH terbesar Dharma Jaya di Cakung, Jakarta Timur. RPH itu empat tahun lalu bisa memotong sampai 800 ekor sapi per hari. Tahun ini, jumlahnya anjlok. Rata-rata cuma 120 ekor per hari.

Selain itu, dari hasil pengamatan Kemendag, cukup banyak peternak yang enggan melepas sapi potong mereka ke pasaran. Padahal harga jualnya saat ini tinggi. Dia menilai bisa saja tindakan itu diambil peternak lantaran sapi tidak hanya dianggap barang dagangan.

"Sampai saat ini banyak lho peternak yang belum melepas sapinya ke RPH. Kan bisa saja sapi itu dianggap tabungan, di beberapa daerah sapi malah menjadi klangenan, hewan yang dipelihara karena bagus," tuturnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI, Romahurmuziy atau Romy meminta pemerintah secepatnya mengatasi kelangkaan daging sapi beberapa hari terakhir ini. "Kenaikan harga daging sapi sepekan terakhir sudah di luar kewajaran, padahal tidak ada kenaikan konsumsi yang berarti," kata Romy.

Dia juga meminta agar pemerintah segera menyelesaikan masalah yang terjadi di rantai pasok. "Persoalannya hanya mungkin di dua tempat, para pengusaha penggemukan sapi (feed lotter) atau para pengusaha rumah potong hewan (jagal sapi)," tambah Romy.

Menurut dia, pemerintah jangan gegabah menambah kuota impor daging atau sapi, karena belum tentu di situ persoalannya. Populasi sapi nasional sekarang sekitar 15,9 juta ekor. Artinya stok ini cukup untuk pasokan domestik, tanpa harus terjadinya kenaikan harga, terutama menjelang libur Natal dan Tahun Baru.

"Pemerintah harus mendata, dimana populasi itu berada, dan bagaimana memobilisasinya ke rumah-rumah potonghewan di pusat-pusat konsumsi, khususnya Jabodetabek," tegasnya. Terkait kelangkaan daging sapi serta melonjaknya harga daging mencapai Rp90 ribu per kilogram.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Penerangan Asosiasi Pedagang Daging Asosiasi Pedagang Daging Indonesia, Asnawi mendesak pemerintah transparan memberikan informasi ketersediaan stok daging sapi di daerah. "Jangan hanya mengatakan bahwa stok sapi di peternak sapi ada tetapi ternyata tidak ada," kata dia.

Keterbukaan informasi tersebut menurutnya sangat penting demi menjaga kestabilan harga daging sapi di pasar. Sebab, kata Asnawi, kondisi di lapang menunjukkan pasokan daging di pasar terus turun dan bahkan langka di beberapa pasar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Dia mengatakan saat ini pedagang sapi tidak dapat memastikan seberapa banyak daging sapi yang dapat mereka peroleh dari peternakan karena tidak ada kejelasan mengenai jumlah pasokan sapi yang sebenarnya dan dimana pasokan sapi itu berada. “Itu membuat harga beli daging sapi secara fluktuatif terus melonjak dan membuat para pedagang sapi resah. Kami tidak tahu ada berapa banyak sapi yang tersedia dan dimana pasokan itu berada” kata Asnawi.

Ketidakjelasan pasokan itu pula yang menyebabkan harga jual daging sapi ke konsumen terus merambah naik. Dari penjelasan Asnawi, harga sapi hidup per kilogram saat ini telah menembus angka Rp 34-35 ribu per kilo gram dari yang semula normal sekitar Rp 26-27 ribu per kilo gram. Sedangkan harga sapi karkas (potongan daging) saat ini, telah menembus harga Rp 68-72 ribu per kilo gram dari harga normal Rp 54-58 ribu per kilo gram.

Jika harga beli daging karkas terus melonjak, tentu harga jual daging sapi ke konsumen juga harus kami naikkan agar tetap mendapatkan untung,” kata Asnawi. Asnawi mengatakan, harga jual daging sapi kepada konsumen saat ini telah menembus angka Rp 95-100 ribu per kilo gram.

BERITA TERKAIT

Pertumbuhan Industri Kopi Yang Didukung Pasokan Listrik PLN

    NERACA   Jakarta - Industri kopi di Indonesia mulai menunjukkan perkembangan yang masif, bahkan minum kopi dijadikan gaya…

Pemerintah Serius Atur Strategi Tekan Harga Tiket Pesawat

NERACA Jakarta – Pemerintah sedang mengatur strategi untuk menekan harga tiket pesawat agar tidak terlalu tinggi sehingga masyarakat mampu membeli…

HARGA GARAM

Petani memanen garam di Desa Bunder, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (13/8). Sebagian petani dan buruh tani di daerah itu enggan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ekspor Obat Hewan Tembus Rp26 Triliun Sejak 2015

NERACA Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat rekomendasi ekspor produk peternakan sejak 2015 sampai semester I 2019 sebesar Rp38,39 triliun…

Niaga Internasional - Perlu Siapkan Strategi Besar untuk Antisipasi Perang Dagang

NERACA Jakarta – Pemerintah dinilai perlu untuk benar-benar menyiapkan strategi besar dalam mengantisipasi dampak perang dagang antara dua raksasa global,…

Perjanjian Dagang Diharapkan Topang Kinerja Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku optimistis target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,3 persen pada tahun 2020 dapat…