Generasi Berjiwa Wirausaha - Millenials Indonesia

Saat ini83% kaum muda di Indonesia berusia produktif antara 18-28 tahun, atau yang akrab disebut generasi Y, berkeinginan menggerakkan ekonomi Indonesia dengan usaha yang mereka miliki sendiri.

NERACA

Berdasarkan data di Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menunjukkan bahwa wirausaha di Indonesia yang sudah berkontribusi menggenjot pertumbuhan ekonomi nasional baru sebesar 1,56% dari seluruh penduduk. Sangat rendah jika dibandingkan jumlah wirausaha di sejumlah negara lain. Malaysia 5%, China dan Jepang 10%, Singapura 7%, dan Amerika Serikat 12%.

Gayung bersambut, 83% kaum muda di Indonesia yang berusia 18-28 tahun atau disebut generasi Y itu berkeinginan menggerakkan dan memiliki usaha sendiri. Di Asia Tenggara hanya 68%. Sedangkan di kelompok yang disebut generasi millenials yang sudah memiliki usaha sendiri sebanyak 32%, jauh lebih besar dari minat di Asia Tenggara yang hanya 15 saja.

“Angka itu merupakan salah satu proporsi tertinggi di Asia Tenggara,” tutur Presiden Direktur PT Visa Worldwide Indonesia (VWI) Ellyana Fuad, pekan lalu di Jakarta. Angka di atas merupakan hasil survei yang dilakukan terhadap 5.000 millenials di sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Uni Emirat Arab (UEA), Afrika Selatan, dan Rusia (APCEMEA).

Yang menggembirakan, menurut Ellyana, generasi millenials di Indonesia, yang menjadi wirausaha sebesar 15%, atau dua kali di tingkat regional. Di Indonesia, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) mempunyai kontribusi yang sangat besar mencetak tumbuhnya wira usaha muda. Hipmi DKI Jakarta, misalnya, saat ini mempunyai program Hipmi Goes to Campus.

“Ya kami ingin mengajak kalangan mahasiswa untuk mulai berpikir bagaimana caranya menjadi pengusaha,” kata Ketua Umum Hipmi DKI Andhika Anindyaguna, saat peluncuran program itu di Kampus Universitas Trisakti.

Hipmi DKI pun menargetkan lahir 1.000 wirausaha baru selama tiga kepengurusan Andhika hingga 2014 nanti. Program serupa juga dilakukan Hipmi di provinsi lain di seluruh Indonesia.

Saat ini, di seluruh dunia, terdapat 17% millenials atau sebanyak 1,1 miliar jiwa. Sebanyak 56% atau 615 juta jiwa terdapat di kawasan APCEMEA. Visa mencatat, 20% millenials di kawasan itu atau sebanyak 123 juta jiwa yang tinggal di kota-kota besar, mempunyai pendapatan dalam setahun sebesar US$ 907 juta. Angka itu sama dengan jumlah PDB Indonesia dan Pilipina 2010.

Dari jumlah itu, 30% di antaranya terdapat di China (US$270,7 juta), lalu Jepang (US$ 174,3 juta), dan India (US$ 139 juta). Millenials Indonesia menduduki peringkat keenam dengan posisi US$38,29. Sedang di peringkat empat dan lima adalah Rusia (US$99,58) dan Korsel (US$54,78).

Menabung dan Hindari Utang

Ada yang menarik dari karakter millenials di Indonesia, yaitu mayoritas atau 96% mereka menyisihkan sepertiga penghasilannya untuk ditabung. Dari seluruh millenials, 73% suka belanja, tapi 83% lebh suka menabung. Dari penghasilannya tersebut, mereka mempunyai kewajiban membantu ekonomi keluarga. Jumlahnya mencapai 91%, sedangkan rata-rata di dunia hanya 78% saja kaum remaja yang membantu orang tuanya.

Yang mengesankan, generasi muda itu tak suka berutang. Karenanya, saat berbelanja, mereka lebih suka menggunakan kartu debit dari pada kartu kredit. Alasannya, berbelanja dengan kartu kredit identik dengan berbelanja di luar kemampuan atau penghasilan mereka. Sebanyak 70% millenials memilih membayar dengan kartu debit. Hanya 64% yang menggunakan kartu kredit sebagai pengganti uang tunai.

“Diprediksi, pada 2020 nanti, millenials akan menjadi akumulator kesejahteraan masa depan seiring usia mereka mendekati 40 tahun,” ujar Ellyana. Visa menyimpulkan, survei itu menunjukkan, pada dasarnya, generasi tersebut cerdas dalam mengelola keuangan dan menjadikan keluarga sebagai pusat pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan.

Kesiumpulan lainnya, millenials Indonesia bukanlah pemboros yang tak memikirkan kebutuhan masa depannya. Yang positif, mereka menghindari berutang dan sebaliknya lebih baik menabung. Disiplinnya kaum remaja itu dalam menabung jelas menawarkan peluang pasar yang cukup besar bagi peusahaan jasa keuangan. Apalagi, hampir 60% penduduk Indonesia berusia di bawah 29 tahun. (saksono)

BERITA TERKAIT

Quo Vadis Indonesia?

  Oleh: William Fortunatus DA, Mahasiswa di STFT Widya Sasana Malang   Politik adalah sarana dan bagian dari ruang publik…

Indonesia South Pacific Forum Tunjukkan Kebijakan Polugri di Pasifik

Indonesia South Pacific Forum Tunjukkan Kebijakan Polugri di Pasifik NERACA Jakarta - Forum Indonesia-Pasifik Selatan atau Indonesia South Pacific Forum…

Jabar Pusat Harkonas untuk Berdayakan Konsumen Indonesia

Jabar Pusat Harkonas untuk Berdayakan Konsumen Indonesia NERACA Depok - Kementerian Perdagangan RI menetapkan Provinsi Jawa Barat menjadi pusat kegiatan…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…