Tidak Capai Target, BEI Pertahankan Kualitas IPO

NERACA

Jakarta- Tidak tercapainya target pencatatan saham emiten di lantai bursa pada tahun ini tidak mengendurkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan penawaran saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO) di tahun 2013. “Bukannya kita tidak mau membuka ‘keran’ biar lebih banyak yang IPO. Namun, lebih ke kualitas, ketimbang kuantitas,” jelas Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen di Jakarta kemarin.

Hoesen mengatakan, ketentuan dan syarat perusahaan untuk melakukan pencatatan saham di pasar bursa telah berjalan dengan baik. Jadi, target sebanyak 30 emiten di tahun depan tidak menjadi alasan bagi pihak BEI untuk mempermudah perusahaan melantai di bursa. Selain itu, ketentuan yang sudah ada saat ini sudah sangat bagus, baik dilihat dari governance, audite dan komisaris independen.

Dalam menjaring perusahaan-perusahaan untuk melaksanakan IPO, lanjut dia, tidak semata didasarkan pada pertimbangan mengembangkan pasar modal, namun juga agar ke depannya investor juga diuntungkan. Terlebih tidak tercapainya jumlah emiten melakukan pencatatan saham (listing) di tahun ini bukan karena berkaitan dengan ketentuan IPO, namun lebih kepada kondisi pasar global.

Hoesen mencontohkan, ada sekitar lima perusahaan di sektor komoditi yang mundur dari rencana IPO tahun ini dikarenakan kondisi global.Padahal calon emiten tersebut telah menyelesaikan proses IPO, dan melakukan mini ekspose. “Faktor lain tidak tercapainya target IPO, salah satunya efek dari harga komoditas di global yang terus merosot.” ujarnya.

Menurut Hoesen untuk meningkatkan jumlah emiten, sejauh ini pihak BEI telah melakukan sosialisasi ke calon-calon emiten, menjalin kerja sama, dan melakukan market research untuk melihat perusahaan mana yang sudah siap atau memenuhi kelayakan untuk melaksanakan IPO. Beberapa hal yang menjadi tolok ukur kelayakan tersebut antara lain, perusahaan secara fokus mengembangkan usaha dan tidak tersangkut permasalahan hukum.

Direktur Utama BEI, Ito Warsito menegaskan, tidak ada kaitannya untuk meningkatkan pertumbuhan pasar modal Indonesia dengan mempermudah pelaksanaan atau prosedur IPO. Mengingat prosedur pelaksanaan IPO saat ini dinilai sudah berjalan dengan baik.

Ito menilai dengan adanya Otoritas Jasa Keuangan yang akan melakukan pengawasan di tahun depan, hal tersebut dapat memungkinkan pertumbuhan pasar modal Indonesia menjadi lebih baik, “Dengan kewenangannya mengawasi tiga industri sekaligus, pasar modal, lembaga keuangan nonbank dan perbankan itu memungkinkan pengawasan lebih efektif dan efisien dalam mencegah pelanggaran atau terjadinya float. Tapi juga akan mempermudah untuk mendorong perusahaan-perusahaan go public.” jelasnya.

Target Emiten Baru

Sekadar catatan, dari sebanyak 25 jumlah emiten yang ditagetkan tahun ini, BEI hanya mampu merealisasikan sebanyak 23 perusahaan. Hal tersebut dikarenakan adanya beberapa perusahaan yang memundurkan pelaksanaan IPO di tahun 2013. Sementara di tahun depan pihak BEI optimistis dapat merangkul sebanyak 30 emiten dengan target transaksi harian perdagangan saham senilai Rp5,5 triliun.

Sementara tahu depan, BEI mengklaim ada 13 perusahaan yang akan menggelar IPO pada kuartal I tahun depan. Permintaan IPO 13 perusahaan itu telah disampaikan ke BEI dan telah menggelar paparan singkat (mini expose). Oleh karena itu, BEI tinggal mencari tambahan 17 emiten baru untuk mencapai target 2013 sebanyak 30 emtien.

Disebutkan, ke-13 perusahaan itu adalah PT Siba Surya, PT Multi Agro Gemilang Plantations, PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya, PT Indoprima Gemilang, PT Pasifik Agro Sentosa, PT Pelita Cengkareng Paper, PT Omni Inter nasional Hospital, PT Bank Maspion, PT Steel Pipe Industry Indonesia (Spindo), PT Saraswati Griya Lestari, PT Dyandra Media Internasional, PT Trans Power Marine, dan PT Cipaganti Citra Graha.

Kata Hoesen, besarnya jumlah antrean IPO dipicu ekspektasi membaiknya kondisi perekonomian global tahun depan. Dari 13 calon emiten itu, beberapa perusahaan tadinya berniat menggelar IPO tahun ini. (lia)

BERITA TERKAIT

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…

Sikapi Kasus Pemalsuan Deposito - BTN Yakinkan Nasabah Kondisi Kinerja Masih Solid

NERACA Jakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menyatakan perseroan dalam kondisi kinerja yang solid dengan performa perusahaan…

ADHI Catatkan Kontrak Baru Rp 6,8 Triliun

NERACA Jakarta – Sampai dengan Agustus 2019, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mencatatkan perolehan kontrak baru senilai Rp6,8 triliun.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Presiden Bakal Membuka Munas HIPMI Ke-XVI

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan akan membuka musyawarah nasional (Munas) Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda (BPP HIPMI)…

CEO Asia Aero Technology - Mengusung Hipmi 4.0 Agar Lebih Familiar

Jiwa muda dengan sederet perstasi adalah harapan pimpinan di masa mendatang, hal inilah yang menggambarkan Bagas Adhadirgha seorang Founder sekaligus CEO…

Jaga Kondisi Pasar - OJK Hentikan Reksadana Investor Tunggal

NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghentikan sementara penerbitan produk baru reksa dana investor tunggal seiring cukup banyaknya jumlah…