Perawatan Jalan Tol Cipularang Tidak Optimal

Jakarta – Banyak pengguna jalan menilai perawatan jalan tol Cipularang dari arah Bandung ke Jakarta kurang optimal sehingga berpotensi mengundang kecelakaan. Indikasi ini terlihat dari banyaknya lubang dan kurangnya penerangan lampu jalan di malam hari khususnya dari Km 120 hingga Km 80.

Dari pengamatan Neraca dan komentar sejumlah pengguna jalan tol, terungkap standar pelayanan minimum (SPM) yang ditetapkan Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) antara lain disebutkan jalan bebas hambatan tidak boleh berlubang, dan pengelola (Jasa Marga) wajib menjaga penerangan jalan di malam hari. Namun kenyataannya, banyak lampu penerangan jalan tol (solar cell) yang mati khususnya di antara Km 120 hingga Km 112.

Tidak hanya itu. Kondisi jalanan yang menurun juga rawan berlubang, meski sudah ada beberapa titik lubang yang sudah ditambal kembali. “Perbaikan jalan terkesan tambal sulam, karena tidak dilakukan pengaspalan secara overlay,” ujar Sudirman, pengemudi mobil saat ditemui di rest area Km 57 Tol Cipularang, pekan ini.

Dia menyebutkan pihak pengelola Jasa Marga sebenarnya sudah menyiapkan pos biaya perawatan khusus untuk perbaikan secara reguler khusus untuk jalan tol Cipularang. Hanya persoalannya menurut peneliti Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Uchok S. Khadafi, pengelola jalan tol seharusnya lebih terbuka dalam penggunaan anggaran perawatan jalan tol yang rawan kecelakaan.

Sebelumnya, sebuah bus pariwisata menabrak truk di Km 101+300 tol Cipularang arah Bandung-Jakarta, Sabtu (22/12). Akibatnya, tujuh orang tewas. Para korban itu berasal dari Desa Karangsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, yang akan berwisata ke Masjid Kubah Emas, Depok.

Akibat kecelakaan maut tersebut, pihak kepolisian akan mengevaluasi kembali fasilitas keselamatan bagi pengendara yang disediakan oleh pihak pengelola selama ini. Bahkan petugas Lantas Polres Purwakarta mengingatkan, koordinasi sangat diperlukan karena kasus serupa sering terjadi pada ruas tol Cipularang khususnya di Km 68-99.

“Kami juga meminta segera dipasang penerangan jalan umum (PJU) pada titik tertentu yang rawan kecelakaan umumnya di malam hingga pagi hari,” ujar polisi yang bertugas di sepanjang jalan tol tersebut.

Menurut Uchok, pengelola tol Cipularang bertanggung jawab atas penggunaan biaya perawatan termasuk pemasangan tanda bahaya seperti solar cell di sepanjang jalan bebas hambatan tersebut. “Kami sangat menyesalkan lampu PJU yang mati tidak segera diperbaiki oleh pihak kontraktor perawatan jalan yang menjadi rekanan Jasa Marga itu,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu juga pernah terjadi kecelakan di Km 96-97 yang menyebabkan isteri artis dangdut Saipul Jamil meninggal, dan kecelakaan lain berikutnya dengan korban 6 orang tewas di segmen ruas jalan tersebut. Agaknya pemerintah perlu melakukan kajian komprehensif berkenaan dengan kecelakaan tersebut. Bila sudah ada kajian komprehensif yang peduli pengguna jalan, pastikan apakah persyaratan SPM sudah dipenuhi atau belum oleh pihak pengelola jalan tol Cipularang.

Dugaan Korupsi

Selain masalah transparansi biaya perawatan jalan tol, Uchok juga mempertanyakan laporan kemajuan hasil penyidikan Direktorat Kriminal Umum Polda Jabar terhadap dugaan penggelapan uang pungutan tol di Jasa Marga Cabang Purbalenyi (Bandung).

Dalam kasus ini, negara dirugikan hingga Rp 4 miliar dalam sebulan. Tim penyidik memperkirakan, penggelapan uang tol ini sudah berlangsung bertahun-tahun, Jadi, dalam setahun uang pungutan tol diduga raib Rp 48 miliar.

Menurut sumber di Polda Jabar, sejauh ini sudah 112 orang karyawan Jasa Marga Cabang Purbalenyi sudah dimintai keterangan. Namun dari sejumlah itu hanya 17 orang yang siap dijadikan saksi dan satu orang sudah diamankan dan dinyatakan sebagai tersangka.

Adapun modus operandi penggelapan uang pungutan tol diduga melibatkan petugas penjaga pintu tol hingga tingkat pimpinan Jasa Marga Cabang Bandung, adalah dengan cara menghilangkan atau mengkloning kartu masuk elektronik, sehingga laporan yang masuk ke manajemen tidak sesuai dengan jumlah pengguna jalan tol yang sebenarnya.

BERITA TERKAIT

Macet Parah Akibat Kontraktor Tol Tidak Peka

Kemacetan parah yang terjadi di malam hari di ruas pembangunan jalan tol dan proyek MRT, khususnya antara jalur tol Jatibening…

Kebijakan PT KAI Tidak Konsisten

Ada yang menarik jika melihat perbandingan akses keluar masuk di stasiun Cikini dan Gondangdia, dimana akses pintu Utara dan Selatan…

Pemkab Serang Targetkan Perbaikan Infrastruktur Jalan Selesai 2021

Pemkab Serang Targetkan Perbaikan Infrastruktur Jalan Selesai 2021   NERACA Serang - Bupati Serang, Provinsi Banten, Ratu Tatu Chasanah menargetkan seluruh…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Imigrasi Kota Depok Berlakukan Wilayah Bebas Korupsi

Imigrasi Kota Depok Berlakukan Wilayah Bebas Korupsi NERACA Depok - Kantor Imigrasi Kelas II Kota Depok, Jawa Barat berlakukan sistem…

Harga Bawang Merah di Sukabumi Terus Alami Kenaikan

Harga Bawang Merah di Sukabumi Terus Alami Kenaikan NERACA Sukabumi - Komoditas bawang merah minggu ini mengalami kenaikan harga dari…

Kementan Dorong Pengembangan Peternakan di Kawasan Jagung Banten

Kementan Dorong Pengembangan Peternakan di Kawasan Jagung Banten NERACA Lebak - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten…