Kasus Hepatitis C Harus Ditanggulangi - Menyerupai Gunung ES

Hepatitis C telah menjadi masalah kesehatan dunia. Data World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa sekitar 3% penduduk dunia terinfeksi Hepatitis C dan lebih dari 170 juta berkembang menjadi kronis dan berisiko untuk berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.

Sayangnya Hepatitis C tidak selalu menunjukkan gejala sehingga banyak penderita Hepatitis C tidak menyadari adanya infeksi dan menularkan virus tersebut kepada orang lain. Ditambah dengan belum tersedianya vaksin , risiko penularan Hepatitis C tinggi.

Sementara itu, di Indonesia kasusu Hepatitis C tak ubahnya gunung es. Meski tampak hanya sedikit namun banyak kasus yang tidak terlihat karena minimnya gejala Hepatitis C sehingga mayoritas pengidapnya tidak menyadari bahwa telah terinfeksi virus Hepatitis C.

”Melakukan screening adalah bentuk tanggung jawab setiap orang yang memiliki faktor risiko Hepatitis C sebagai anggota masyarakat untuk membantu mengendalikan penyebaran virus ini,” ucapDirektur Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Direktorat Jenderal P2PL dr. HM Subuh, MPPM.

Fakta yang mengkhawatirkan adalah perkiraan bahwa sekitar 75%-85% infeksi Hepatitis C akan menjadi infeksi kronis yang dapat berkembang menjadi sirosis dan gagal hati.

Populasi sirosis hati ini diperkirakan setiap tahunnya yang akan mengalami komplikasi menderita kanker hati adalah sekitar 4%, sedangkan angka median harapan hidup (survival) penderita kanker hati tanpa pengobatan maupun dengan pengobatan hingga saat ini masih sangat pendek, antara 7 - 11 bulan.

Kementerian Kesehatan sendiri selama ini telah melakukan beragam upaya dalam eradikasi Hepatitis C. Mulai dari upaya promotif preventif melalui berbagai seminar awam, terutama dalam rangka World Hepatitis Day.

"Sementara dalam upaya memperluas akses pengobatan Hepatitis C bagi masyarakat, kami masih terus berupaya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan bentuk kolaborasi yang tepat guna dan tepat sasaran,” tutup dr. HM Subuh.

BERITA TERKAIT

Chairman Barito Pacific Group Sumbang Rp30 Miliar - Penanganan COVID-19

Prajogo Pangestu, Founder dan Chairman Barito Pacific Group menyalurkan bantuan untuk penanganan pandemi COVID-19 senilai Rp 30 miliar, yang diserahkan…

Mengatasi Gangguan Makan karena Stres 'di Rumah Aja'

Stress eating merupakan kondisi ketika seseorang tak berhenti makan karena stres, cemas, atau merasakan emosi lainnya. Stres eating rentan terjadi…

Mengenal Airborne, Airborne Aerosol, dan Bertahan di Udara

WHO menyatakan bahwa cara penyebaran virus corona tidak menular lewat udara alias airborne. Bukti saat ini, virus penyebab Covid-19 ditularkan…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Chairman Barito Pacific Group Sumbang Rp30 Miliar - Penanganan COVID-19

Prajogo Pangestu, Founder dan Chairman Barito Pacific Group menyalurkan bantuan untuk penanganan pandemi COVID-19 senilai Rp 30 miliar, yang diserahkan…

Mengatasi Gangguan Makan karena Stres 'di Rumah Aja'

Stress eating merupakan kondisi ketika seseorang tak berhenti makan karena stres, cemas, atau merasakan emosi lainnya. Stres eating rentan terjadi…

Mengenal Airborne, Airborne Aerosol, dan Bertahan di Udara

WHO menyatakan bahwa cara penyebaran virus corona tidak menular lewat udara alias airborne. Bukti saat ini, virus penyebab Covid-19 ditularkan…