Liburan Harus Edukatif dan Kreatif - Sambut Tahun Baru

Musim liburan telah tiba. Saat seperti inilah yang paling diidam-idamkan oleh para siswa. Pasalnya, setelah sekian lama berkutat dengan pelajaran sekolah, anak-anak mmiliki banyak waktu untuk bercengkrama bersama keluarga, bergembira ria dengan teman dan lain sebagainya.

Banyak penelitian para ahli membuktikan bahwa liburan memiliki berbagai macam manfaat seperti kesehatan, maupun keuntungan-keuntungan lainnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Linda Hoopes dan John Lounsbury (1990), ditarik kesimpulan bahwa kepuasan, gairah dan motivasi hidup akan meningkat setelah liburan.

Untuk itu, liburan menjelang pergantian tahun nanti bukan hanya untuk bersenang-senang bersama keluarga, tapi juga bisa jadi alat edukasi yang menarik bagi anak. Seperti diketahui, pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah atau kursus, tapi bisa juga melalui hal-hal menarik sambil menikmati datangnya Tahun Baru.

Orangtua harus bisa merubah stigma negatif kegiatan liburan yang selama ini identik dengan hura-hura atau menghambur-hamburkan finansial, tanpa memberi kontribusi nilai edukatif dan rekreatif bagi anak. Begitu liburan usai, banyak kasus anak yang bolos sekolah lantaran capek mengikuti kegiatan liburan yang tidak ditata dengan bijaksana dan matang.

Idealnya, begitu liburan usai, anak memiliki motivasi yang tinggi dan semangat menggebu untuk masuk sekolah kembali. Hal ini timbul lantaran perbendaharaan pengetahuan yang semakin banyak, dan menghabiskan liburan dengan kegiatan positif, edukatif sekaligus rekreatif.

"Liburan yang baik harus menyenangkan, menggembirakan dan mengesankan, namun tetap mengandung unsur edukasi dan membina kreativitas anak," kataKetua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Seto Mulyadi.

Bagi anak-anak yang tidak mempunyai biaya untuk liburan keluar kota atau tempat lain, terang pria yang akrab disapa Kak Seto ini, dapat memanfaatkan pekerjaan rumah sebagai liburan alternatif.Misalnya dengan merapikan pakaian di dalam lemari, merapikan buku-buku di rak, menata dan merapikan kamar tidur atau memilah-milah pakaian yang tak terpakai untuk memberikannya kepada komunitas anak jalanan. Lebih menyenangkan, jika hal ini dilakukan bersama teman yang lain.

Sedangkan untuk anak-anak dengan ekonomi mampu, bisa saja memilih liburan di luar kota. Syaratnya, harus tetap mengandung unsur edukasi. Misalkan dengan mencatat atau menggambarkan pengalaman mereka melalui catatan kecil atau membuat puisi tentang alam untuk mendiskripsikan pengalaman mereka. Catatan ini bukan untuk dihafalkan, tapi untuk melatih kreativitas anak.

BERITA TERKAIT

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif

PNM Dorong UKM Lebih Inovatif dan Kreatif NERACA Jambi - PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melakukan pendampingan terhadap pelaku Usaha…

Proyek KPBU Tak Terganggu Tahun Politik

  NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro memastikan proyek-proyek infrastruktur yang dibiayai dengan skema…

Baru 11 Persen Sawah Terima Air dari Bendungan

NERACA Jakarta – Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan terus membangun bendungan untuk pengairan, mengingat baru 11 persen atau sekitar…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…